Minggu, 11 Desember 2016

Sayang, Aku Lebih Suka Mati.



Aku ingin lari, sayang
Dari hidup yang menjengkelkan
Dari diriku yang lemah

Aku ingin hilang, sayang
Menjadi bintang pun aku mau
Menjadi alam semesta aku mau
Asal aku hilang
Asal aku hilang
Aku ingin menghilang, sayang

Aku ingin pergi, sayang
Meninggalkan realita
Meninggalkan derita

Kemana aku harus pergi?
Kemana aku harus berlari?
Diriku menahanku
Di dalam pikiran-pikiran sialan ini
Yang membuatku mati rasa
Yang membuatku,
Ingin memuntahkan segalanya

Sayang, sepi kian menjadi
Tuhan tak peduli
Pada penderitaan
Yang tak berujung ini

Sayang, aku lebih suka mati
Daripada sepi
Sayang...




Kamis, 20 Oktober 2016

Siapa yang Lebih Bajingan?



Banyak orang lalu lalang di jalanan
Memegang kepalanya karena terasa pening
Skripsi dimintai lagi revisi
Anakku hampir dikeluarkan dari sekolahnya hari ini
Kekasihku tertangkap basah bercumbu dengan temanku pagi tadi
Kata-kata hati orang yang sedang sendu
Kata-kata hati orang yang sedang berjalan terpogoh-pogoh
Ada yang menuju rumah
Ada yang menuju klab malam
Ada yang tinggal di stasiun
Manusia menyalahkan dunia
Manusia mengutuk Tuhan
Manusia meragu apakah ketidakadilan disebabkan oleh dunia atau Tuhan
Tapi pada akhirnya manusia bisu
Tak lagi mampu bertanya
Tak lagi mampu meragu
Ia terlalu lelah dengan semua bajingan-bajingan yang disebut manusia
Tapi ia sendiri tak pernah menyadari siapa yang lebih bajingan
Melainkan dirinya sendiri


Selasa, 23 Agustus 2016

“Seperti apa menjadi dewasa itu?" tanyanya.




Aku sedang duduk termenung di persimpangan jalan. Hujan dan dingin menusuk tulangku. Ada anak kecil di sebelahku. Tampaknya ia baru saja pulang dari sekolahnya. Aku menatapnya dan dia membalas menatapku. Dia tersenyum dan bertanya hal basi yang biasa ditanyakan hanya untuk mengisi kekosongan kita berdua saat itu. Lalu tiba-tiba ia menanyakan hal yang membuatku tak berkutik, “Seperti apa menjadi dewasa itu?" tanyanya. "Aku sudah menanyakan ini pada ibuku tapi ibuku tampaknya tak mau menjawab,”. Aku terdiam dan mencoba menjawab pertanyaannya tapi aku tak bisa. Bahkan satu kata pun tak terpikirkan olehku. Dia tampak kecewa dan masih penasaran. “Apakah pertanyaanku memang sulit untuk dijawab, ya?” katanya. Aku menjawab sambil tersenyum, “Tidak,” lalu aku memandang ke arah jalan raya yang sepi. Aku memandang ke arah selatan, disana terdapat seorang laki-laki yang sedang merokok dan meminum kopi. Lalu aku memandang ke arah utara, aku melihat seorang wanita tua sedang menatap kearah jalan dengan tatapan kosong. Apakah semua orang menjadi sentimental disaat hujan seperti ini? Apakah semua orang menjadi kesepian disaat dingin seperti ini? Dan pikiran-pikiran ini membuatku berhenti sejenak dan melihat ke dalam diriku sendiri. Apakah aku bahagia dengan segala yang aku punya? Apakah aku tak kesepian karna melakukan semuanya sendirian?
Aku kembali tersadar bahwa disini aku bersama anak kecil yang penasaran bagaimana menjadi dewasa itu. Aku berbicara padanya, “Aku tak tahu bagaimana dewasa itu. Tapi semuanya hanyalah gumulan sepi.”
“Menjadi dewasa itu kesepian,” aku menjawab dan tersenyum padanya.
P.S. After reading, try to listen to this amazing song by John Mayer about growing old.

Minggu, 31 Juli 2016

Mungkinkah Aku Kembali?


Musim dingin di Kanada pada bulan Januari. Bangunan sekitar apartemenmu tak berubah, kecuali hal-hal kecil disini sedikit berubah. Tirai tentangga sebelahmu, lukisan di depan lobi, toko makanan ringan yang berubah menjadi toko suvenir, atau juga ucapan selamat datang yang tertera di depan apartemenmu. Aku meragu, haruskah aku ketuk pintu ini? Atau haruskah aku kembali? Ku genggam bunga-bunga ini yang ku beli di persimpangan tadi. Rasa ragu terus mengalir dalam otakku lalu ku ketuk pintu, pelan dan ragu. Aku tahu kau takkan mau membukakan pintu dan menerimaku; si bajingan yang kurang ajar. Di tengah golakan pikiran-pikiran, keraguan dan ketegangan, aku mendengar suara pintu terbuka. Aku kaget bukan kepalang, lalu aku ingat sesuatu di jariku. Aku segera melepaskan cincin itu. Aku takut kau marah karena masih berani-beraninya aku memakai simbol pertalian kita. Setelah apa yang aku lakukan padamu.

Di balik pintu, kau terlihat pucat pasi. Rambutmu terurai, tak ada senyum untukku. Kau selalu cantik meski tubuhmu sedikit lebih kurus daripada empat tahun lalu. Kau mempersilahkan aku duduk, di meja makan yang dulu kita gunakan untuk mencicipi masakanku yang begitu buruk. Aku teringat hari yang baik itu. Ketika senyummu adalah satu-satunya hal berharga yang ku punya. Ketika mata coklatmu hanya satu-satunya dunia yang ku lihat. Ketika tubuh mungilmu hanya satu-satunya yang bisa aku peluk setelah kelelahan melawan dunia dan manusia. 

Aku ingat bagaimana senyummu mengembang ketika pertama kali kau mendengarkan laguku atau ketika kau menari-nari kecil ketika aku bermain piano. Kau bilang, akulah segala yang kau punya. Kau bilang kau hanya ingin bersandar di dadaku sambil menonton film klasik di hari Minggu. Tapi sayang, maafkan aku yang meninggalkanmu. Untuk mengejar mimpi sialan itu. Mimpi yang perlahan menenggelamkan aku dan mengoyak kehidupanku. Dunia yang aku lalui kemarin, tanpamu, hanyalah ruangan hampa. Aku telah menggapai mimpi itu. Kepopuleran itu. Tapi mengapa semuanya terasa mati rasa?

Dunia ini menakutkan, menjengkelkan dan aku ketakutan. Akan karyaku, akan kepopuleran bajingan ini. Semuanya menakutkan. Aku hanya ingin berada di dunia kecil kita dulu, di saat aku hanyalah laki-laki berusia dua puluh taun dan merasa takkan pernah mati. Bersamamu aku menghadapi dunia kecil ini, yang pelan-pelan hancur karna keegoisan aku. Dunia kecil yang dimana hanya ada melodi-melodi ringan, tarian-tarian kecil dan ciuman-ciuman hangat. 

Aku hampir lupa, kita berada di ruangan ini lagi. Aku terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Lalu kau berbicara beberapa kata padaku, tapi itu terdengar seperti gaungan-gaungan untukku. Kerinduan yang aku rasakan terlalu bergejolak di dalam diriku. Tanpa aku sadari, cincin itu jatuh dan kau melihatnya. Kau terlihat kecewa dan sedih. Aku tak berani menatapmu, tapi ku lihat kau sama sekali tak ingin menatapku. Aku memberanikan diri, aku memeluk tubuh kecilmu itu dan kau tak melawan. Tapi aku hanya mendengar tangisanmu, tangis akan kepedihan dan kehancuran yang aku tinggalkan bersamamu. Aku menciummu, aku menciummu seperti bibirmu adalah satu-satunya udara yang bisa aku hirup pada detik ini. Ku rasakan jiwaku yang tadinya kosong, mulai terisi lagi. Kehadiranmu membuatku hidup kembali. 

Di tengah hangatnya ciumanmu, aku dengar suara bel. Aku tak tahu siapa tamu tak diundang itu. Tanpa perintah darimu, aku bersembunyi di balik lemari. Lalu seorang laki-laki berpenampilan rapi, yang tampaknya cukup baik untukmu itu muncul. Kakiku hampir menyerah untuk berdiri, tanganku gemetar tak menentu, dan jantungku seperti terpaksa berhenti saat dia mencium bibirmu dan juga perutmu.

 













*Well, Winner's I'm Young music video inspired me to write this story and I got inspired by Kurt Cobain's story about hating his fame so I put those into these words. You all can watch the music video here

Kamis, 28 Juli 2016

Seni

Ada seorang laki-laki. Ia berambut agak gondrong dan sedikit acak-acakan. Aku selalu punya sesuatu untuk laki-laki berambut seperti dia. Pertama kali aku melihatnya, auranya menggelamkan aku. Auranya sangat kuat, kau takkan pernah berani menatapnya lama-lama. Ada tato kecil di lengannya, tatonya tak sembarangan. Tato kecil itu hanya menuliskan sekitar dua kata tapi makna nya melebihi dunia. Rasa seninya sangat bagus, pikirku dalam hati. Kau pasti mengira aku membicarakan tipikal laki-laki dalam novel. Tipikal malaikat yang Tuhan turunkan untuk si wanita pemeran utama. Kau salah.
Dia tak sempurna, dia tak tampan, badannya tergolong kecil untuk laki-laki, agak kurus. Alisnya tebal tapi alisnya adalah bahan olokan teman-temannya kepadanya. Alisnya sedikit unik. Tapi, siapa peduli tentang tampilannya? Dia tak sempuna, dia sensitif, dia pendiam, dia tak pernah banyak bicara. Tapi ketika dia tertawa, mata sipitnya akan hilang. Laki-laki bertato itu penyuka musik. Ia gila akan Kurt Cobain dan The Beatles.

Aku tak pernah mengerti musik dan seni. Seperti dia. Aku tak pernah menyukai seni sebelumnya, tapi kau adalah pengecualian. Kau, dirimu sendiri, adalah seni. Aku tak ingin mengertimu, memilikimu, karena memandangimu saja telah mengubah duniaku.

"She never looked nice. She looked like art. And art wasn't supposed to look nice; it was supposed to make you feel something." - Rainbow Rowell

Selasa, 12 Juli 2016

Kau; Si Penakut Sepi.

Kau itu takut sepi, takut sendiri
Maka kau cari aku
Cari untuk menjadikan aku pegangan
Kau tahu?
Bahwa tangan yang kau genggam ini adalah tangan sepi?

Jadi sampai kapan kita seperti ini?
Lagi dan lagi tiada henti
Kau datang dan pergi
Dan bodohnya aku, selalu menerima kembali
Tapi kali ini terasa sulit
Banyak luka yang kau tinggal dengan sengaja

Aku rindu,
tapi aku tak mau.


Sabtu, 06 Februari 2016

Ulasan Novel The Fault In Our Stars Karya John Green



Kali ini saya akan mencoba hal baru dalam blog saya. Saya sebenarnya sudah sedikit  bosan dengan tema blog saya yang itu-itu saja. Kali ini, saya akan mencoba untuk membuat ulasan tentang buku-buku yang sudah saya baca. Karna saya merasa untuk apa banyak membaca tetapi tanpa menyebar informasi itu kepada orang lain.
Jadi, untuk teman-teman pengulas. Apabila ulasan saya belum sebaik teman-teman, tolong bimbingannya dan komentarnya sangat ditunggu di kolom komentar. :)
The Fault In Our Stars berhasil mengembalikan hobi lama saya; membaca. Berawal dari menonton filmnya di salah satu bioskop di Bandung bersama teman, saya merasa kisah Hazel Grace dan Augustus Waters sangat menarik. Tepat beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri saya mengunjungi toko buku dan thanks God saya tidak kehabisan buku best seller ini! Buku TFIOS hanya tersisa satu di toko buku itu.
The Fault In Our Stars
Karya John Green
Penerbit: Penerbit Qanita

“I'm in love with you," he said quietly.

"Augustus," I said.

"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you.

That was my favorite quote of TFIOS. Sebenarnya saya baca yang terjemahan, tapi saya lebih suka yang berbahasa inggris.
Hazel Grace Lancaster adalah seorang gadis yang mengidap kanker tiroid. Ia harus memakai bantuan oksigen untuk bertahan hidup. Hazel Grace hidup dalam keputusaan, meskipun orangtuanya menyuruhnya untuk bergabung dengan Kelompok Pendukung, ia tetap merasa putus asa. Pada saat ia berkumpul dengan Kelompok Pendukung, ia bertemu dengan Augustus Waters. Laki-laki yang dulu mengidap kanker dan telah beberapa bulan dinyatakan bebas kanker. Ia menaruh rasa penasaran terhadap lelaki itu. Begitu pun Gus, yang diam-diam memperhatikan Hazel Grace.
Setelah beberapa waktu, mereka pun dekat. Dan Hazel Grace merekomendasikan buku Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten kepada Gus. Gus jatuh cinta kepada buku itu, dan mereka berdua ingin sekali mengetahui apa yang terjadi kepada tokoh setelah buku itu selesai. Mereka pun pergi ke Amsterdam untuk menemui Peter Van Houten yang tinggal di sana. Tetapi Van Houten ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Dan setelah perjalanan mereka di Amsterdam, banyak kejutan-kejutan yang akan membuat hati kalian teriris. Aku sampai membenci John Green karna ini! Hahaha.
Buku ini sangat menarik dan membuat kita merasakan lagi bagaimana rasanya cinta pertama. Tetapi, menurutku buku original berbahasa inggris lebih bagus daripada terjemahan. Karna bahasa Indonesia yang digunakan dalam novel ini kadang begitu rancu dan mengubah arti dari yang bahasa inggris. Aku sedikit kecewa ketika kutipan-kutipan favoritku berubah arti ketika di terjemahkan. Hiks. Tapi over all, novel ini berhasil membuatku penasaran terhadap karya-karya John Green yang lain. Ini adalah buku kedua favoritku setelah Looking For Alaska. Dan karna novel ini, banyak sekali yang meminta kepada Tuhan untuk menciptakan Augustus Waters yang nyata! Haha. He’s so lovable, smart, handsome, and successfully made my heart fluttered. 

Lain kali aku akan mengulas Looking For Alaska di sini. :)

“Because you are beautiful. I enjoy looking at beautiful people, and I decided a while ago not to deny myself the simpler pleasures of existence” 

“The world is not a wish-granting factory.” 

“As he read, I fell in love the way you fall asleep: slowly, and then all at once.”