Kamis, 16 Juli 2015

I Love You For Who You Are (Part I)



“Kamu dimana, Bela?” mataku membuka pelan-pelan. Apasih yang diinginkan Rara pagi-pagi buta begini. “Aku? Ya jelas aku dikasur. Baru bangun tidur. Dan kamu meneleponku. Ada apa, Ra?” kata Bela sambil setengah sadar. “Temani aku nanti belanja, ya ya? Nanti deh aku jemput jam 1 siang, okay?” Bela pun kesal mendengar sahabatnya menelpon pagi buta seperti ini hanya untuk memintanya menemaninya belanja. “Oke.” Balas Bela.
Padahal ini hari Minggu, seharusnya Bela bangun siang hari saja. Tapi Rara, Ah! Lalu ia membersihkan kamarnya dan mencuci mukanya. Ia segera membuat kopi lalu ia hanya melamun setelah itu. Ia akan berulang tahun seminggu yang akan datang, yang artinya ia akan genap berusia 25 tahun. Dan di usianya yang sudah cukup matang, ia belum juga menemukan kekasih. Mungkin terdengar berlebihan kalau kita menyebut kekasih, bahkan orang yang menarik perhatiannya pun tak ada. Sejak SMA, ia selalu didekati oleh teman-teman pria. Tapi ia tidak tertarik sama sekali terhadap mereka. Bahkan getaran-getaran yang biasanya ada apabila kita berada didekat lawan jenis pun tidak ada. Apakah ia...? tak mungkin. Itu tak mungkin terjadi. Bagaimanapun ia menyukai pria. Tapi ia bertanya pada dirinya sendiri, kapan ia menyukai pria?
Lalu suara bel membuat lamunan Bela buyar. Ia lalu membuka pintu apartementnya. Lalu ia melihat ada seorang wanita.. tunggu apakah itu memang wanita? Karena perawakannya yang sama sekali tidak seperti wanita. Ia lebih mirip laki-laki tomboy. Tunggu apa ada laki-laki tomboy? Ah ada-ada saja pikiranku ini. “Ehm...” suara itu lagi-lagi membuyarkan lamunan Bela. “Eh, ada yang bisa saya bantu, Mmm..bak?” ia ragu apakah ia harus memanggilnya Mbak atau Mas?
“Ini, Mbak. Kemarin saya dapat telepon katanya saluran air di apartemen mbak rusak. Jadi disini saya mau memperbaiki saluran air, Mbak. Dari Jasa yang mbak telepon kemarin.” Kata wanita tersebut. “Eh, iya saya lupa. Ayo mbak, sebelah sini.” Lalu Bela dan wanita tersebut masuk ke dapur. Bela menunjukan apa saja yang menjadi keluhannya dan wanita tersebut segera memperbaiki saluran air tersebut. Bela memperhatikan wanita tersebut. Wanita tersebut, oh namanya Azzuri.. Bela melihat kartu identitas yang tertera di pakaiannya. Azzuri terlihat terlalu maskulin untuk menjadi perempuan. Rambutnya yang sedikit gondrong, tidak terlalu cepak seperti laki-laki, perawakannya yang macho, ia sama sekali tidak seperti wanita pada umumnya.
“Mbak, mau minum apa?” Bela bertanya pada Azzuri.
“Panggil saya Azzuri saja. Dan gausah repot-repot, Mbak.”
“Oh, Azzuri. Panggil saya Bela aja.” Kata Bela sambil terus memperhatikan Azzuri.
“Hm.. Eh... Kalau boleh nanya nih. Kenapa mau jadi... ya.. kamu tau, biasanya cowok loh yang ngerjain beginian.” Bela bertanya dengan ragu.
“Gapapa, Bel. Cari pengalaman aja.” Katanya sambil tersenyum. Astaga, manis sekali! Tidak-tidak, dia ini wanita loh Bela.
“Umur kamu berapa?” Tanya Bela.
“Oh, umur aku 25 tahun, Bel. Kamu sendiri?” balasnya sambil tersenyum lagi. Astaga!
“Aku? Oh? Sama 25 tahun. Tua ya,” katanya sambil tertawa.
“Kamu gak keliatan kayak 25 tahun kok. Malah keliatan masih SMA.” Katanya balas tertawa. Astaga, bahkan gula pun kalah manisnya dari tawanya.
Lalu bel apartemen Bela berbunyi lagi. Ia langsung membuka pintu, oh ternyata Rara. Rara langsung melihat-lihat ke dalam apartemen dan bertanya, “Ada siapa?” tanya Rara penasaran. “Ah itu yang service saluran airku.” Balas Bela. “Kok cewek sih?” tanya Rara sambil berbisik. Lalu Bela pun membalas, “Lah terus kenapa kalau cewek? Kan emansipasi wanita, Ra!”
Kadang pertanyaan sahabatnya itu kurang logis, ya siapapun bisa dong jadi tukang service. Pria atau wanita. Dasar Rara! Ia menggerutu dalam hati. Lalu Azzuri pun keluar dapur dan sepertinya ia sudah selesai mengerjakan perkerjaannya. “Bel, aku udah selesai. Aku pamit dulu ya.” Lagi-lagi sambil tersenyum. “Eh, Azzuri. Sebentar, boleh aku minta nomer teleponmu? Ya supaya gampang nanti kalau ada apa-apa lagi.” kata Bela.
Rara pun heran mengapa Bela terlihat begitu tertarik kepada wanita tomboy itu? Lalu Bela menuliskan nomer telepon Azzuri di handphonenya. Beres. Katanya dalam hati. Lalu Azzuri pun pamit pulang, dan Rara langsung menyerbu Bela dengan seribu pertanyaan.
“Kok kamu minta nomer dia sih? Gimana kalau dia itu? Hih..”
“Bagaimana kalau dia suka padamu?”
“Bagaimana kalau dia... dia.... kamu bayangkan saja, dia begitu macho..”
“Ra.. apaansih ah,” lalu Bela pun bersiap-siap untuk mengantar sahabatnya berbelanja.
Diperjalanan ia terbayang bagaimana manisnya Azzuri. Ah, baru kali ini ia merasa hidupnya begitu indah. Ia akan menelepon Azzuri nanti malam. Tapi ia akan berbicara apa? Ia harus memikirkannya segera.
Ia menemani Rara belanja dengan pikiran yang melayang kesana kemari. Ia memikirkan alasan apa yang harus ia gunakan saat Azzuri bilang “Oh, ada apa?” ia harus bilang apa nanti. Ah memusingkan! Lebih memusingkan lagi bahwa seseorang yang ia pikirkan saat ini bukanlah pria, melainkan wanita. Ia sudah bersahat dengan Rara semenjak ia berada disekolah menengah. Tapi ia tak pernah merasakan getaran-getaran aneh apabila ia sedang bersamanya. Ia menganggap Rara sahabat terbaiknya, ia selalu bingung bagaimana sebenarnya orientasi seksualnya? Apakah ia...? Tapi mengapa ia menjadi seperti ini? Tapi ia berpikir kembali, memang untuk menjadi seperti ini butuh alasan? Ia memang selalu menebak apakah dirinya menyukai sesama jenis? Selalu memutar-mutar pertanyaan itu setiap harinya. Tetapi setelah bertemu Azzuri ia tahu jawabannya.
Rara pun mengantarkan Bela kembali ke apartemennya, ia segera menelepon Azzuri. Setelah nada ketiga berbunyi lalu Azzuri mengangkat telepon tersebut.
“Halo? Dengan siapa ini?” kata Azzuri.
“Kamu lebih feminim ditelepon. Hahaha.” Kata Bela sambil tertawa.
“Bela? Saluran airmu rusak lagi?” tanyanya serius.
“Hah? Nggak-nggak. Aku iseng aja meneleponmu. Memangnya gak boleh? Yasudah aku tutup lagi ya.” Katanya kecewa.
“Tidak.. tidak. Kamu boleh meneleponku kapan saja, anggap saja aku temanmu.” Balas Azzuri,
“Oh jadi aku sudah diperbolehkan jadi temanmu, nih?” tanyanya penasaran.
“Kau memang temanku, dan klienku.” Katanya sambil tertawa.
“Senang sekali aku bisa menjadi temanmu.” Jawab Bela sambil menyunggingkan senyum.
“Memangnya kamu tak punya teman apa sampai-sampai kamu senang sekali menjadi temanku? Tapi kurasa tadi temanmu ya, yang menjemputmu?” tanya Azzuri.
“Temanku banyak, Azzu. Haha. Hanya senang saja menjadi temanmu. Iya tadi temanku, kenapa? Cantik ya? Mau aku kenalkan?” tanya Bela menggoda.
Lalu Azzuri pun tertawa. “Kau tahu aku....?” tanya Azzu ragu.
“Dari pertama aku melihatmu, aku yakin kau.... menyukai wanita.” Bela memilih kata yang tepat untuk kalimat terakhir tersebut tapi tetap, kata yang payah!
“Tapi kau masih mau menjadi temanku?” tanya Azzuri.
“Memangnya kalau kau menyukai wanita. Aku harus menjauhimu? Ah payah sekali aku ini kalau begitu. Tidak open-minded!” jawab Bela berterus terang.
“Kau juga, Bela?” Tanya Azzuri, ia terdengar ragu menanyakan hal tersebut kepada Bela.
“Aku? Aku tak tahu. Masih mencari tahu.” Jawab Bela tegas.
“Boleh aku bertemu denganmu kapan-kapan, Bel?” pertanyaan Azzuri tersebut membuat Bela kaget juga senang setengah mati!
“Ketem..u? ak..u?” tanya Bela masih setengah kaget.
“Tak boleh?”
“Boleh saja, besok juga boleh. Tapi paling malam.”
“Besok aku ke apartemenmu malam untuk menjemputmu.”
“Oke..” lalu Bela pun menutup teleponnya.
Yes! Tidak sesulit yang Bela perkirakan. Bela pikir Azzu pun menyukainya, ah apasih aku ini?! Tidak, ia menganggapku teman.
Keesokan harinya, ia melamun sepanjang hari di kantor, ia bingung ia harus mengenakan baju apa. Ah, memangnya aku ini mau kencan?! Lalu ia pun pulang dan segera mandi dan bersiap-siap. Sekitar pukul tujuh malam, ia mendengar bel apartemennya berbunyi. Dan, itu Azzu. Ia terlihat sangat keren, mungkin lebih keren daripada cowok, pikir Bela. Ia mengenakan t-shirt warna biru dan menggunakan flanel untuk outernya dan sudahlah ia terlalu sempurna untuk di deskripsikan dalam kata. Saat Bela keluar apartemennya bersama Azzu, ia melihat ada mobil berwarna putih parkir di depan apartemennya dan Azzu mengarah ke mobil tersebut. Mobil siapa sebenarnya ini?
Lalu Bela pun memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Azzu. “Mobil siapa ini?”
“Ini? Mobil aku.” Katanya sambil tersenyum.
“Mobil kamu?” kata Bela kaget.
“Service air cuma sampingan. Hahaha. Nggak, sebetulnya aku yang punya jasa Service saluran air itu. Kemarin pegawaiku sedang sakit, jadi apa salahnya kalau aku yang gantikan dia?” katanya.
“Kenapa kamu gak bilang?” tanya Bela yang masih kaget.
“Terus aku harus bilang gitu kalau aku nih bos jasa service saluran air, dan pegawaiku lagi sakit jadi gapapa ya aku saja yang perbaiki saluran air Mbak Bela. Harus seperti itu?” katanya sambil tersenyum lebar. Ya Tuhan, senyuman itu lagi.
“Nggak usah seperti itu.” Jawab Bela. Payah, kenapa aku kehilangan kata-kata?
“Ayo masuk.” Sambil membukakan pintu untuknya. Tuhan, jantungku mengapa berdetak dua kali lebih cepat?
Bela hanya diam di dalam mobil. Ia bingung apa yang harus ia katakan. Ia belum menemukan kata yang pas untuk memulai percakapan.
“Kok kamu diem aja?” tanya Azzuri sambil melihat Bela yang sednag melamun.
“Kalau lari, capek.” Jawab Bela yang lagi-lagi payah!
“Hahaha. Kamu ini. Mau kemana kita?”
“Aku sih terserah mau diajak kemana pun juga boleh.” Jawab Bela sambil tersenyum.
“Oke. Kita makan aja ya, ada restoran Jepang dekat sini. Kamu suka kan masakan Jepang?” tanya Azzu.
“Oh suka banget.” Jawab Bela bersemangat.
Lalu mereka pun tiba di restoran Jepang di daerah Dago. Restorannya sangat sederhana, tapi ia merasa sedang berada di Jepang. Dengan lesehannya, desainnya, aromanya, seperti benar-benar di Jepang. Bela langsung teringat masa kecilnya yang ia habiskan di Jepang. Oh, Jepang aku rindu. Bisik Bela dalam hati.
“Bel, mau pesan apa?” tanya Azzuri.
“Eh..?” Bela bingung.
“Dari tadi kamu ngelamun meskipun aku panggil-panggil kamu puluhan kali.” Kata Azzu.
“Eh iya, restorannya keren. Bener-bener mirip di Jepang. Aku ingat masa kecil aku disana, hehe..”
“Oh iya? Aku juga waktu kecil sempat di Jepang. Mungin umur 4 tahun sampai 10 tahun. Kebetulan ayahku memang orang Jepang. Kamu tinggal dimana dulu? Ohiya, ini pesan apa?”
“Ah aku pesan sashimi aja. Aku dulu di Tokyo. Kamu juga?”
“Ya, aku dulu di Tokyo.”
“Wah kebetulan banget.” Kata Bela sambil tersenyum.
“Bel..”
“Hm?”
“Kamu gak takut sama aku?”
“Kenapa harus takut? Kamu bukan harimau.” Jawab Bela sambil tertawa.
“Bukan begitu. Aku kan beda dari teman-temanmu yang lainnya. Sampai-sampai banyak orang yang ngeliatin kita tuh. Saking bedanya aku.” Jawab Azzu sambil menunjukan bahwa banyak orang yang sedang memperhatikan mereka berdua saat ini. Lalu Bela dengan sengaja mendekati Azzu dan mencium pipinya. Azzu terlihat kaget, Bela kesal dengan sikap orang-orang yang melihat mereka berdua begitu sinis.
“Tanggung, Zu. Maaf ya, aku cuma ingin mengerjai mereka aja,” kata Bela sambil tersipu malu.
“Gapapa kok, aku udah biasa..”
“Aku senang bisa berteman denganmu, Zu. Kamu orangnya beda dari yang lain. Aku gak peduli kamu suka wanita atau kamu suka hewan pun aku gak peduli.” Kata Bela sambil meminum minumannya.
“Kamu ini..” kata Azzu sambil mengacak-acak rambut Bela.
Astaga! Dia memang benar-benar ciptaan Tuhan yang paling ganteng! Aku memang tadi sengaja menciumnya karna aku kesal dengan orang-orang yang memperhatikan kita berdua seakan-akan kita ini alien dari Mars yang nyasar ke restoran Jepang di Dago. Bela kesal dengan pikiran orang yang sampai saat ini masih belum terbuka mengenai LGBT.
Azzu merasa Bela berbeda dengan wanita lainnya. Ia sama sekali tidak berlebihan dalam berdandan, ia hanya mengenakan atasan yang sederhana dan mengenakan celana katun simpel dan sepatu cats. Make up nya sangat sederhana, tidak seperti wanita jaman sekarang yang menempelkan segala jenis make up ke wajahnya. Ia menyukai Bela yang simpel, sederhana dan selalu terlihat anggun.
“Kamu masih mencari tahu?” tanya Azzuri kepada Bela.
“Mencari tahu apa?” Bela bingung.
“Tentang kamu menyukai...”
“Oh aku suka makan, buku dan film. Aku suka sekali membaca, sampai-sampai aku bisa menghabiskan beberapa buku dalam sehari.” Katanya sambil tersenyum polos.
“Kau ini polos,” Kata Azzu sambil mengacak-acak rambut Bela.
“Polos?” katanya bingung.
Azzu menyukai muka Bela apabila ia sedang kebingungan seperti ini. Ia terlihat seperti anak TK yang baru saja diajari menghitung.
“Tentang orientasi seksualmu.” Jawab Azzu perlahan.
“Oh maaf, kukira... aku suka wanita, sepertinya.”
“Sepertinya?”
“Semenjak pubertas aku tak pernah suka sekali pun terhadap pria. Sama sekali belum pernah. Tapi semenjak bertemu kamu, aku rasa aku tau jawaban untuk orientasi seksualku.” Kata Bela sambil tersenyum polos dan sambil mengunyah makanannya.
“Jadi kau suka padaku, huh?” tanya Azzu sambil tersenyum malu.
“Memangnya aku barusan bilang apa padamu sampai kau mengambil kesimpulan kalau aku suka padamu?” katanya dengan polos, lagi.
Azzu ingin sekali mencubit pipinya, ia sangat menggemaskan, bahkan lebih menggemaskan dari adiknya yang berusia 3tahun!
“Astaga! Aku bicara apa tadi?” akhirnya Bela menyadari apa yang ia bicarakan tadi.
Azzu hanya tertawa melihat Bela yang baru saja menyadari kata-katanya tadi.
“Bukan itu maksudku, Azzu... ah aku ini bego!” katanya sambil memukul kepalanya.
“Aku juga suka padamu.” Kata Azzu sambil tersenyum tulus kepada Bela.
“Kau apa?” Tanya Bela, ia masih belum mencerna apa yang dikatakan Azzu.
“Aku suka padamu. Boleh?”
“Apa? Tentu saja boleh. Kau boleh menyukai siapapun di dunia ini. Wanita ataupun pria, sama saja, mereka manusia. Asalkan jangan menyukai alien saja, alien masih diragukan keberadaannya.” Jawabnya yang lagi-lagi polos.
Lalu Azzuri pun tertawa. Bela selalu suka bagaimana Azzu tertawa. Manis, tidak berlebihan, dan ah sudahlah... ia memang benar-benar menyukainya.
“Kamu mau pulang kapan?” tanya Azzuri.
“Sekarang?”
“Iya ini sudah larut.”
“Oke.”
Lalu di perjalanan mereka bertukar lelucon sehingga mereka tertawa terbahak-bahak, dan akhirnya mereka sampai di depan apartemen Bela.
“Kamu mau masuk dulu?” tanya Bela.
“Aku?”
“Bukan, ayahmu. Iyalah kamu. Minum teh dulu sebentar,” ajak Bela.
“Oke deh,” Azzu menyetujui ajakan Bela.
“Gapapa malam-malam begini aku masuk apartemenmu?”
“Memang siapa yang larang?” lalu Bela membuka pintu apartemennya.
“Mau manis apa teh pahit?” tanya Bela.
“Manis aja.” Azzu duduk di sofa milik Bela.
“Anggap aja rumah sendiri.” Kata Bela sambil sibuk membuat teh di dapur.
“Kamu udah lama tinggal disini?” tanya Azzu.
“Lumayan lah, tiga tahun. Setelah selesai sekolah di Jepang. Aku kuliah di Amerika. Terus ke Indonesia lagi deh, kerja disini. Mungkin kamu aneh, kenapa lulusan Amerika mau kerja disini. Aku nyaman di Indonesia meskipun macet terus. Hahaha.”
“Soalnya ada aku ya di Indonesia?” kata Azzu tertawa sambil memperhatikan Bela yang membawa dua gelas teh dan duduk di sebelahnya.
“Iya di tambah ada kamu. Betah deh.”
“Bel...”
“Hm?”
Tanpa sadar Azzu sudah memeluknya dan kini ia berada dipelukannya dan ia tak bisa berkutik. Ia ingin melepaskannya tapi ia juga senang berada dipelukan Azzu yang hangat dan nyaman ini. Bela tanpa sadar membalas pelukannya. Lalu Azzu melepaskan pelukannya, dan menatap mata Bela.
“Kamu beda, Bel. Aku suka.” Lalu ia mencium bibir Bela dengan lembut, Bela sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Azzu. Ia ingin meronta melepaskan pelukan Azzu tetapi Bela rasa tubuhnya melemah, meleleh bersamaan dengan ciuman yang Azzu berikan kepadanya. Ia tak bisa berkutik ia hanya bisa menutup matanya dan membalas ciuman Azzu. Ia mencintainya, tapi bagaimana bisa ia mencintai seseorang dalam dua hari saja? Tidak. Ini mungkin hanya suka. Tapi ini lebih dari sekedar suka.
Azzu melepaskan ciumannya tadi dan memandang Bela yang pipinya kemerah-merahan.
“Kamu mau jadi pacarku?” tanya Azzu yang membuat Bela tegang.
“Mungkin terlalu cepat... Sudah, lupakan saja, Bela”
Itu membuat Bela sakit hati.
“Kau ingin menjadi pacarku tapi belum juga aku jawab, kamu sudah menyerah? Payah sekali.”
“Tolonglah jadi pacarku, Bela. Kau tak perlu takut.”
“Aku tak pernah takut terhadapmu. Aku menyukaimu. Kau sudah tahu dari awal. Iya, aku bersedia menjadi pacarmu.” Lalu Bela mengecup bibir Azzu.
“Aku mencintaimu, Bela.”
“Aku juga mencintaimu, Azzu.”

Selasa, 07 Juli 2015

Mencintaimu tak apa, kau tahu?



Mencintaimu tak apa, kau tahu?
Tak apa meski aku harus setiap malam terjaga karna rindu
Tak apa meski aku harus membunuh diriku sendiri karna sepi
Tak apa meski aku harus terbangun dari tidurku dan mataku sembab
Tak apa meski aku harus menjadi keriput sendiri menunggumu lima puluh tahun lagi
Mencintaimu tak apa, kau tahu?
Meski menjadi bodoh pun aku mau
Meski menjadi kesepian pun aku mau
Meski hanya aku sendiri yang merasakan ini
Mencintaimu tak apa, tak kenapa, tak dimana
Tak sakit, tak berdarah,
Mencintaimu tak apa, sayang
Mencintaimu itu apa?