Selasa, 18 Juni 2013

Masih dengan rasa yang lama.

Masih dengan tatapan itu, aku menyembunyikan rasa yang mungkin tidak kamu ketahui. Makanya, aku hanya menunduk saat kamu menatapku. Ada hentakan rindu saat kamu jauh. Ada degupan lucu pada jantungku saat kita bertemu. Aku ragu dengan hatiku, dengan kata yang menyangkal semua tentangmu. Setelah sekian lama aku menunggu, tak mungkin aku terus menerus menunggumu. Dengan jutaan puisi bodoh yang mungkin kamu tak pernah lirik, apalagi membaca. Ini suatu keanehan, mengapa aku memilih kamu untuk aku perjuangkan sampai jatuh bangun? Mungkin inilah cinta, tanpa balasan.

Senin, 10 Juni 2013

Diam.



Diam. Suatu kata yang selama ini aku lakukan. Ya, sudah tiga tahun ini aku mencintai pria, diam-diam. Tanpa rasa lelah dan letih.
Seperti biasa, setiap pagi aku bergegas untuk pergi ke sekolah, aku selalu semangat untuk pergi ke sekolah karna aku akan bertemu dia. Yeay!
Aku pergi ke sekolah naik angkutan umum, dan di tengah perjalanan aku melihat dia, iya dia! Aku sangat senang sekali dan berdebar. Dan pada saat itu hanya ada bangku yang kosong disebelahku, dan otomatis dia duduk disampingku. Bisa dibayangkan, pria itu duduk disampingku dan bagaimana berdebarnya hatiku! Aku ingin sekali menyapanya, tapi sudah hampir 3tahun ini aku sama sekali tidak bersapa dengan dia. Karna dia tahu bahwa aku sangat mencintainya, dan dia menjadi benci padaku. Mungkin rasa sayang ini salah untukmu.
Selama perjalanan kami hanya diam, tak ada kata, tak ada senyuman. Miris. Sakit. Pedih, memang. Aku hanya bisa memendam dan terus mencintainya tanpa balasan dan tanpa memiliki. Rasanya itu seperti mengejar kupu-kupu, semakin dikejar malah semakin jauh.
Setibanya disekolah, aku langsung bercerita kepada teman dekatku, Nita. Dia sangat baik padaku, dia sering sekali mendengarkan ceritaku tentang si pria itu.
“Nit, tadi aku seangkot lo sama si Randy. Dan dia duduk disebelah aku. Kamu bisa bayangin kan gimana deg-degan nya.”
“Ah beneran nih? Terus-terus gimana? Ngobrol gak?”
“Boro-boro nit. Dia malah buang muka sama aku.”
“Yang sabar aja, Ris. Aku bilang apa, kamu itu harus moveon. Kalau kamu ngaepin dia terus gak bakalan sembuh-sembuh sakitnya. Dan kalau kamu selalu ngerasa gak nyaman sama orang lain selain si Rendy, gak masalah. Emang moveon itu harus dapetin yang baru? Nggak loh, Ris.”
Aku termenung sejenak. Berpikir selama beberapa menit. Dan KRINGGGGG....!! bel masuk membuatku tersentak.
Aku bergegas masuk kelas bersama Nita. Setelah tiga jam belajar, bel istirahat pun berbunyi. Ah, rasanya senang sekali. Aku ingin melihat Rendy, meskipun hanya dari kejauhan. Hal seperti ini aku lakukan setiap istirahat. Rendy adalah orang yang cuek, tak peduli pada siapapun, tapi dia mempunyai sisi humoris. Aku tak tahu, melihat dari sisi mana sampai aku tergila-gila sekali pada Rendy. Hampir tiga tahun aku masih menyimpan cinta ini diam-diam, meskipun mungkin Rendy mengetahui perasaanku karna ada salah satu temanku yang membocorkan nya, sehingga dia jadi membenciku. Dan aku tak tahu siapa yang membocorkannya. Aku selalu menulis tentang Rendy di diaryku ataupun diblog. Kurasa, aku sangat berlebihan dalam memposisikan dia. Tapi, bagaimana lagi? Namanya juga cinta.
Sepulang sekolah aku bermain ke rumah Nita. Hanya untuk menghilangkan penat saja.
Setibanya dirumah Nita, dia mempersilahkan ku untuk masuk ke kamarnya. Lalu, aku menunggu dia mandi. Sewaktu aku menunggu dia mandi, aku lihat ada album foto di meja belajarnya. Aku lihat saja.
Dan ternyata, saat aku buka album foto itu. Itu semua foto-foto Rendy dan tepat diakhir lembaran nya, ada foto Nita dan Rendy berdua. Aku kaget sekali. Di foto itu, tergurat raut bahagia di muka Rendy. Terlihat jelas sekali, kulihat dia lebih bahagia dengan Nita dibandingkan dekat denganku. Air mataku pun menetes tanpa aku sadari, difoto itu Rendy sedang merangkul Nita. Ternyata ini kelakukan sahabatku dibelakangku, ternyata ini hasil selama tiga tahun aku mengharapkan Rendy, aku sangat sakit sekali. Aku benci kenyataan ini, aku benci.
Dan tiba-tiba Nita masuk kamar, dan dia kaget melihat aku sedang menangis dan album foto itu terbuka diatas tanganku. “aku bisa jelasin ris.” Ucap Nita.
“apalagi yang mau dijelasin? Jelas-jelas kamu ngerebut Rendy dariku kan!”
Aku langsung lari keluar, dan langsung pulang ke rumah. Aku langsung mencurahkan hatiku, lagi-lagi pada blog.
Aku berpikir, aku berpikir tentang ini jutaan kali, berulang-ulang, berkali-kali. Mengapa begitu sakit? Mengapa begitu lama aku menanti? Aku menyadari, apa hak ku untuk marah dan cemburu? Dianggap ada pun tidak, apalagi status? Mustahil. Dan bukankah aku hanya diam-diam dan terus diam selama ini? Lalu, bagaimana aku harus menghadapi kenyataan kelam ini? Ya,  aku tahu. diam. Karna ini, cinta diam-diam.

So, dont hope anymore! Let’s moveon!”

Rabu, 05 Juni 2013

Bersamamu.

Didekatmu aku seperti tak butuh oksigen. Bayangkan saja, setelah sekian lama aku menunggu pertemuan ini dan sekarang aku menatap matamu tanpa pasungan jarak. Untuk satu hari, biarkan aku terus menatap mata indahmu. Berpeluk, aku terbuai. Desir darah seperti mengerti, bahagia telah hadir. Makin aku terbuai, makin aku cinta. Takkan ku relakan hari ini berlalu, kan ku hentikan waktu. Hanya untuk bersamamu.