Aku ingat bagaimana kita mulai saling menyapa. Aku ingat
bagaimana kita mulai saling mencinta. Aku ingat bagaimana kita mulai saling
terluka . Aku ingat bagaimana kita mulai saling lupa. Aku jatuh cinta pada
parasmu yang polos. Yang berhasil membuatku tergemas-gemas. Yang berhasil membuatku
tak berhenti ingin memelukmu. Yang sukses membuatku jatuh dipelukmu. Kamu adalah
sosok pria yang dewasa. Mengajariku jutaan makna cinta. Mengajariku bagaimana
menguraikan airmata. Menjadi seonggok bahagia. Aku cinta dengan kedua
telingamu, yang selalu berhasil mendengarkan semua cerita konyolku. Juga jatuh
cinta dengan lapangnya pundakmu, yang kamu sediakan saatku rapuh. Bersamamu aku
sanggup hadapi dunia, bahkan berjalan denganmu aku tak apa meski terlunta
berdarah-darahpun aku mampu. Kamu selalu sediakan tangan tuk menggenggamku agar
aku tak terpapah dalam asa yang abstrak. Kamu pun adalah saksi, dimana
mimpi-mimpiku yang dulu hanya sekedar rencana biasa, dan menjadi nyata bahkan
lebih menyenangkan daripada yang aku bayangkan. Kamu adalah saksi, yang dulunya
Tiara kecil menjadi Tiara yang tegar juga dewasa menghadapi rintangan yang
menyulut emosi.
Aku ingat saat kita pertama bertatapan, engkau bersama
temanmu, dan aku sendiri. Temanmu menggoda kita berdua. Aku hanya diam,
terpaku, padahal hatiku ramai sekali, rasanya ingin meledak karena tak sanggup
menahan perasaan senang yang menjalar diseluruh tubuh. Bulu matamu yang ku
selidiki sangat indah, entah, aku suka sekali melihat matamu meski pertamanya
aku malu-malu. Tapi, malah menjadi zat adiktif di diriku. Kenyamanan yang kamu
beri untukku, tak mampu aku bendung lagi. Karena saking nyamannya. Kamu selalu
ajariku bagaimana cara hidup, dengan cinta tentu. Kamu bak seorang kakak, teman
juga sekaligus kekasih terbaik untukku.
Aku ingat pertama kali kamu menggenggam erat tanganku. Aku ingat
pertama kali kamu memeluk tubuhku lalu kamu menangis, aku tak tahu kenapa. Yang
jelas aku berusaha meyakinkanmu, bahwa aku disini yakin juga percaya penuh
padamu, lalu sengaja aku lama-lamakan pelukan kita sambil mengelus punggungmu
dan rambutmu. Aku tak pernah tidak mencantumkan rasa khusuk ketika aku
memelukmu.
Tapi aku sadar, waktu enggan melanjutkan semua tentang kita.
Mungkin kita terlalu sempurna untuknya. Aku lebih tahu, bahwa biarlah masalalu
hanya menjadi kenangan manis yang pernah melengkapi kita. Mungkin pilihanmu
untuk meninggalkanku sendiri memang benar, sudah saatnya aku mandiri tanpa kamu
disisi. Aku terlalu bergantung padamu. Awalnya, aku membenci perpisahan ini,
karena aku berpikir bahwa kita terlalu berharga untuk waktu pisahkan. Tapi keputusan
Tuhan dan waktu mungkin karena suatu alasan. Ini bukan tentang jarak, terlalu
lama menunggu, bosan menanti atau orang baru. Ini tentang waktu yang tak tega
melihat dua insan manusia terbuai oleh bayangan cinta semu.
Aku ikhlas melepaskanmu, semoga kamu berbahagia tanpaku. Aku
tau dirimu takkan seperti dulu. Tapi, berbaik sangkalah dengan waktu, meski ia
membuat aku kehilangamu dan kamu kehilangan aku, setidaknya ia pernah memberi
kita kesempatan untuk bersatu juga bertemu.
Terima kasih cinta, pernah menuai bahagia juga derita
didadaku. Kini engkau hanya berkas bayang yang terkenang. Maaf, aku sudah
lancang menceritakan perasaanku disini. Sampai jumpa dihari yang mungkin lebih
sempurna, aku dan kamu sudah selesai menjadi tokoh utama dalam sebuah drama.
Finally, we broke up. We
never want this right? But, Thank you for time that you spend with me, yes,
2years. We spend with smile, laugh, tears, and hug. Thank you for the memories,
baby.


