Selasa, 28 Januari 2014

Lalu Pada Rintihan Yang Mana Lagi

Lalu pada rintikan hujan aku bertanya.
Pada siapa aku harusnya mengadu, sepiku lalu tangisku pun?

Aku tahu, jawabannya pasti Tuhan.

Tapi aku juga butuh manusia, 

Manusia yang utuh, yang nyata

Bahkan yang selalu menyediakan pundaknya untukku. 

Menyediakan jemarinya untuk memelukku meski sebentar

Sedalam apapun rapuhnya aku.


Lalu pada rintihan yang mana lagi?

Aku harus merindu,

Lalu menyeka air mataku?

Ingin muntah aku!

Karena aku yang tahu malu, 

Berani-beraninya mencintaimu.

Sabtu, 18 Januari 2014

Sahabat Jadi Cinta



Seketika mataku gelap. Pipiku perih juga memerah kesakitan. Baru saja aku dilempar bola basket oleh temanku, Evi. Sungguh dia jahil sekali, tapi sebenarnya dia baik. Sahabatku, Reno, dia marah sekali kepada Evi karena kejadian tadi pagi saat jam istirahat. “Gak tau aku kalau udah marah kaya apa tuh si Evi!” katanya. Sambil pipinya memerah karena emosinya yang meledak-ledak.
Aku, Raisa. Aku bersahabat dengan Reno sudah dari umur 4tahun. Jadi, kalau ada apapun yang menggangguku, Reno pasti marah. Mungkin dia sayang padaku. Reno adalah sosok yang ganteng, baik hati, dia juga selalu melindungiku. Dimana ada Reno pasti ada Raisa, begitulah kata teman-temanku hahaha. Reno sangat melindungiku, aku kadang berpikir bahwa dia mencintaiku karena dia tak pernah dekat dengan wanita kecuali aku, jadi apa masuk akal apabila aku menyimpulkan bahwa dia mencintaiku?
Kalau masalah keromantisanku dengan Reno sih gak usah ditanya lagi. Kadang guru-guru, dan pastinya teman-teman menyangkaku kalau aku mempunyai hubungan yang lebih dari sahabat dengan Reno. Aku sama reno sih senyum-senyum aja dengerin ocehan mereka, sambil sesekali membuat mereka jealous karena kemesraan kita.
Aku sedang melamunkan bagaimana jika aku berpacaran sungguhan dengan Reno, pasti indah banget. Reno menyuapiku makan setiap hari dikantin, mengantarkanku pulang, dan menonton film di bioskop setelah pulang sekolah. Aaahh! Aku rasa aku cinta dengannya.
PLAKKKK!!! Ada seseorang yang mengagetkanku. Eh ternyata Reno, lamunanku buyar seketika. “Dasar nyebelin!” Kataku dalam hati. “sa, kantin yuk.” “mager ah.” Balasku. Tiba-tiba dia menarikku dan menggengam tanganku. Aku senang sekali. Sebenarnya sering dia menggenggam tanganku seperti ini, tapi sekarang beda rasanya. Apa mungkin aku cinta?
“Kamu mau pesen apa?” kata Reno. “Mie goreng aja pake baso ya, Ren.” Balasku. “oke.”
Setelah makanan diantar ke bangku kantin. Kita makan berdua. Dia menatapku sambil kadang mencubit pipiku, dia menyuapiku, mengelus-elus tanganku. Apa mungkin dia juga cinta? Tak biasanya dia seperti ini. Biasanya dia menyuapiku, tapi dengan maksud bercanda. Tapi sekarang, ia serius sekali. Aku senang sekali!!!!!
##
“pulangnya aku anterin ya sa.” Katanya sambil bisik-bisik. “sipppp” balasku.
*TRINGGGGG* bel pulang berbunyi.
“ayo sa kita pulang.” Dia menarik tanganku. Aku pegang jaketnya erat-erat saat dijalan pulang. Kebiasaan ngebutnya tidak hilang dari dulu. Tiba-tiba dia memberhentikan motornya, otomatis tubuhku terdorong kedepan dan aku memeluknya. Aku diam sejenak. Lalu melepaskan pelukanku. “apa ren?” “nonton yuk!” “ayo deh boleh, tapi traktir ya?” “boleh, sa!”
# setibanya di bioskop kita langsung mengantri dan masuk studionya. Kita menonton film dramatis, jadi menguras air mata. Reno memberikan tissue kepadaku. “makasih ren” balasku.
Setiap hari kita makin romantis saja. Kadang dia memelukku tanpa malu. Mengelus-elus rambutku. Uh, senangnya hatiku!
Sampai suatu ketika ia mengajakku dinner. Aku berniat berkata jujur apa yang dihatiku sekarang ini. Aku memilih gaun yang paling cantik. Aku yakin dia bakal suka!
Aku menunggu Reno sekitar 15menit. Dan ia datang, uuuuuh sungguh gantengnya sahabatku ini, kataku dalam hati.
Aku terbata-bata untuk memulai pembicaraan,
“Ren..” kataku.
“iya, sa?” balasnya.
“Aku....”
“kenapa raisa sayang?”
“sayang? yaTuhan! Aku semakin gemetar.”
“Ren.. Aku..”
“iya apa raisa?”
“aku cinta sama kamu, kamu juga kan?”
“iya reno sayang sama raisa. Sayang banget.”
Ya Tuhan. Dia sayang padaku! Kataku dalam hati.
“Tapi untuk pacaran, maaf....”
“kenapa ren?” kataku. Dadaku sesak sekali.
Reno menjawab....
“aku homo.”