Seketika mataku gelap. Pipiku perih juga memerah kesakitan. Baru
saja aku dilempar bola basket oleh temanku, Evi. Sungguh dia jahil sekali, tapi
sebenarnya dia baik. Sahabatku, Reno, dia marah sekali kepada Evi karena
kejadian tadi pagi saat jam istirahat. “Gak tau aku kalau udah marah kaya apa
tuh si Evi!” katanya. Sambil pipinya memerah karena emosinya yang
meledak-ledak.
Aku, Raisa. Aku bersahabat dengan Reno sudah dari umur
4tahun. Jadi, kalau ada apapun yang menggangguku, Reno pasti marah. Mungkin dia
sayang padaku. Reno adalah sosok yang ganteng, baik hati, dia juga selalu
melindungiku. Dimana ada Reno pasti ada Raisa, begitulah kata teman-temanku
hahaha. Reno sangat melindungiku, aku kadang berpikir bahwa dia mencintaiku
karena dia tak pernah dekat dengan wanita kecuali aku, jadi apa masuk akal
apabila aku menyimpulkan bahwa dia mencintaiku?
Kalau masalah keromantisanku dengan Reno sih gak usah
ditanya lagi. Kadang guru-guru, dan pastinya teman-teman menyangkaku kalau aku
mempunyai hubungan yang lebih dari sahabat dengan Reno. Aku sama reno sih
senyum-senyum aja dengerin ocehan mereka, sambil sesekali membuat mereka jealous karena kemesraan kita.
Aku sedang melamunkan bagaimana jika aku berpacaran
sungguhan dengan Reno, pasti indah banget. Reno menyuapiku makan setiap hari
dikantin, mengantarkanku pulang, dan menonton film di bioskop setelah pulang
sekolah. Aaahh! Aku rasa aku cinta dengannya.
PLAKKKK!!! Ada seseorang yang mengagetkanku. Eh ternyata
Reno, lamunanku buyar seketika. “Dasar nyebelin!” Kataku dalam hati. “sa,
kantin yuk.” “mager ah.” Balasku. Tiba-tiba dia menarikku dan menggengam
tanganku. Aku senang sekali. Sebenarnya sering dia menggenggam tanganku seperti
ini, tapi sekarang beda rasanya. Apa mungkin aku cinta?
“Kamu mau pesen apa?” kata Reno. “Mie goreng aja pake baso
ya, Ren.” Balasku. “oke.”
Setelah makanan diantar ke bangku kantin. Kita makan berdua.
Dia menatapku sambil kadang mencubit pipiku, dia menyuapiku, mengelus-elus
tanganku. Apa mungkin dia juga cinta? Tak biasanya dia seperti ini. Biasanya dia
menyuapiku, tapi dengan maksud bercanda. Tapi sekarang, ia serius sekali. Aku senang
sekali!!!!!
##
“pulangnya aku anterin ya sa.” Katanya sambil bisik-bisik. “sipppp”
balasku.
*TRINGGGGG* bel pulang berbunyi.
“ayo sa kita pulang.” Dia menarik tanganku. Aku pegang
jaketnya erat-erat saat dijalan pulang. Kebiasaan ngebutnya tidak hilang dari
dulu. Tiba-tiba dia memberhentikan motornya, otomatis tubuhku terdorong kedepan
dan aku memeluknya. Aku diam sejenak. Lalu melepaskan pelukanku. “apa ren?” “nonton
yuk!” “ayo deh boleh, tapi traktir ya?” “boleh, sa!”
# setibanya di bioskop kita langsung mengantri dan masuk
studionya. Kita menonton film dramatis, jadi menguras air mata. Reno memberikan
tissue kepadaku. “makasih ren” balasku.
Setiap hari kita makin romantis saja. Kadang dia memelukku
tanpa malu. Mengelus-elus rambutku. Uh, senangnya hatiku!
Sampai suatu ketika ia mengajakku dinner. Aku berniat berkata jujur apa yang dihatiku sekarang ini. Aku
memilih gaun yang paling cantik. Aku yakin dia bakal suka!
Aku menunggu Reno sekitar 15menit. Dan ia datang, uuuuuh
sungguh gantengnya sahabatku ini, kataku dalam hati.
Aku terbata-bata untuk memulai pembicaraan,
“Ren..” kataku.
“iya, sa?” balasnya.
“Aku....”
“kenapa raisa sayang?”
“sayang? yaTuhan! Aku semakin gemetar.”
“Ren.. Aku..”
“iya apa raisa?”
“aku cinta sama kamu, kamu juga kan?”
“iya reno sayang sama raisa. Sayang banget.”
Ya Tuhan. Dia sayang padaku! Kataku dalam hati.
“Tapi untuk pacaran, maaf....”
“kenapa ren?” kataku. Dadaku sesak sekali.
Reno menjawab....
“aku homo.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar