Jumat, 08 Juni 2018

Via Vallen Vs. The World


Pada tanggal 4 Juni 2018, Via Vallen menumpahkan kekesalannya lewat InstaStories. Dalam InstaStoriesnya, terdapat screenshot DM dari seorang pemain bola di Indonesia. DM tersebut berisikan “I want u sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes. Di InstaStories kedua juga masih mengenai DM dari pemain sepak bola ini. Via Vallen mengeluh bahwa ia tak pernah bertemu dengan laki-laki ini dan sebagai penyanyi ia merasa dilecehkan oleh seorang pemain bola di tanah airnya sendiri. Ia pun menambahkan bahwa ia bukanlah tipe “cewek” yang pemain bola itu pikirkan. Dalam percakapan itu juga, si pemain bola menanyakan mengapa Via Vallen marah dan meng-screenshot percakapan mereka. Lagi-lagi, dengan beraninya Via Vallen membalas Dont be affraid bro, I will not telling people who u are. U ask me Am I angry? What do you think after I have block your account.” 

Karena aksinya ini, Via Vallen mendapatkan banyak respon dari netizen. Responnya ini sangat beragam, ada yang mendukung Via Vallen untuk melawan pelecehan ada pula yang menganggap tindakan Via Vallen ini berlebihan. Banyak sekali komentar netizen yang menyudutkan Via Vallen. Menuding bahwa Via Vallen ini sengaja melakukan ini karena untuk ketenaran. Ada juga yang menyebutkan bahwa Via Vallen sudah mencoreng nama baik sepak bola Indonesia karena membagikan DM itu di InstaStoriesnya. Ada juga yang mengomentari dan menyalahkan Via Vallen karena ia tidak memakai hijab dan menutup auratnya. Ada pula yang mengomentari bahwa Via Vallen seorang penyanyi dangdut dan sangat wajar bila ia dilecehkan. Ada juga yang mengomentari bahwa sebagai artis, hendaknya legowo dengan perilaku atau pesan-pesan seperti itu. Dan masih banyak ribuan komentar lainnya yang menyebalkan dan melelahkan untuk dibaca. Hal menarik lainnya, kebanyakan komentar yang menyalahkan korban datang dari sesama perempuan. 
Victim Blaming atau menyalahkan korban adalah salah satu kebiasaan buruk yang selalu masyarakat lakukan disaat dihadapkan dengan korban pelecehan seksual. Hal ini pun terjadi kepada Via Vallen. Via Vallen sebagai korban disini, dan ia malah disalahkan oleh netizen karena tidak menutup auratnya, karena ia seorang penyanyi dangdut, ataupun karena ia berani untuk berbicara mengenai apa yang terjadi kepada dia. Padahal, percaya atau tidak, bahkan perempuan yang sedang melakukan ibadah Haji pun bisa juga menjadi korban pelecehan. (Read: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43268073). Banyak sekali teman-teman yang memakai kerudung, dari kerudung biasa hingga kerudung syar’i bahkan ada teman perempuan yang memakai cadar pun, ia masih mendapatkan pelecehan seksual. Sampai sini, masih menyalahkan pakaian korban juga yang katanya mengundang birahi laki-laki?
Pelecehan seksual bukan mengenai pakaian, bukan mengenai pekerjaan apa orang itu, apakah orang itu sadar atau tidak saat dilecehkan, berapa umur orang itu saat dilecehkan bukan tentang itu, tapi mengenai relasi kuasa. Di masyarakat yang sangat patriarkal seperti Indonesia ini, memang perempuan masih dianggap sebagai objek seksual saja dan masih ada anggapan bahwa posisi perempuan ini di bawah laki-laki sehingga pelaku pelecehan ini merasa bahwa ia lebih berkuasa dan dengan leluasa melecehkan perempuan. 
Ada komentar netizen yang termasuk konyol, tetapi memang ini sudah menjadi permasalahan yang tidak disadari dan banyak di-iya-kan oleh masyarakat. Ada komentar bahwa Via Vallen seharusnya tidak “lebay” dalam menanggapi pelecehan yang ia terima karena ia adalah seorang penyanyi dangdut. Anggapan bahwa penyanyi dangdut boleh dilecehkan adalah hal yang sangat tidak manusiawi. Tidak ada orang yang pantas mendapatkan perlakuan yang buruk seperti ini. Meskipun Via Vallen adalah seorang penyanyi, ia tidak pantas untuk menerima pesan-pesan yang mengganggu dan merendahkan harga dirinya. Artis juga manusia, kalau ia merasa terganggu ia pun memiliki hak untuk speak up. Netizen menganggap bahwa pelecehan yang terjadi kepada Via Vallen harusnya tidak dibesar-besarkan karena itu hanya pesan di media sosial saja. Pelecehan seksual di media sosial maupun kehidupan nyata berbobot sama rata. Jika kamu sedang berjalan di pinggir jalan, lalu kamu diajak “tidur” oleh orang yang tidak dikenal, itu terasa sangat mengganggu dan membuatmu marah bukan?
Hal menarik lainnya adalah komentar-komentar negatif yang ditujukan kepada Via Vallen rata-rata diberikan oleh seorang perempuan juga. Perempuan saling menyalahkan, perempuan saling bersaing, perempuan saling merendahkan adalah bukan hal yang baru. Dari data yang dilansir oleh PBB, sebanyak 35% perempuan di dunia pernah mengalami pelecehan seksual maupun fisik. Meskipun gender lain bisa mendapatkan pelecehan, perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan dan sering mendapatkan pelecehan. Tetapi, jika sesama perempuan saja tidak bisa menguatkan, bagaimana kita bisa bersatu untuk menghentikan rantai pelecehan seksual ini? Padahal sesama perempuan pasti berbagi pengalaman yang sama di sistem masyarakat yang sangat patriarkal ini; menjadi nomor dua, kesetaraan dianggap omong kosong, dilarang sekolah tinggi-tinggi, dibombardir dengan standar kecantikan yang tidak sehat dan memaksa, dan masih banyak lagi permasalahan yang membutuhkan kita sebagai perempuan untuk bersatu. 
Jika kamu tidak tahu caranya menguatkan teman atau siapapun yang mengalami pelecehan seksual, atau kebingungan harus melakukan apa. Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah tidak menyalahkan dia. Dengan hanya mendengarkan keluhan mereka pun, mereka akan merasa terbantu. Dan jika kamu merasa takut untuk berbicara mengenai pelecehan yang kamu alami, i just want to say, tidak selamanya diam itu emas. Jangan takut, #MeToo.

Sabtu, 02 Juni 2018

Malang; Kota yang Malang Bagi Kita.




Bulan kemarin, aku pergi ke suatu kota yang tak ku sangka akan membekas seperti ini.
Malang.
Kota yang tak pernah aku kunjungi, tapi banyak sekali kenangan buruk. Kota ini membuatku ragu. Apakah aku akan baik-baik saja melangkahkan kakiku disana tanpa perasaan sakit?
Dasar, aku impulsif. Beberapa hari sebelum pergi, aku menghubungimu. Aku bilang aku akan pergi ke kota ini, bukan liburan atau senang-senang tapi ini tugas kuliah.  Aku tak tahu perasaanmu bagaimana. Setelah aku maki-maki sampai mati, aku menghubungimu lagi dan aku akan pergi ke kota yang ada di sebelah kotamu. 

Mungkin kamu kegirangan ataupun kebingungan. Aku paham. Tak berharap kamu melakukan hal fantastis, pertemuan yang mungkin kita bisa lakukan lagi setelah lima tahun berpisah adalah suatu percobaan bunuh diri yang sudah beberapa kali aku lakukan. Kali ini dalam bentuk berbeda; bertemu kamu. Aku tak pernah mengerti akan aku. Padahal mungkin jika aku tak ingin bertemu pun, kita memang sudah rusak seperti ini. Biarlah benda rusak tetap rusak. Tapi aku malah ingin membuang benda rusak ini dengan cara yang tak biasa. 

Sebelum bertemu kamu, aku menunggu giliran mandi di hotel. Teman-temanku lama sekali mandinya, padahal aku sudah gelisah tak menentu mengetahui kamu sudah ada di alun-alun Batu dari pukul tiga sore. Pada pukul tujuh malam bahkan aku belum menyentuh air. Aku beranikan diriku menelepon, memelas kepadamu untuk menungguku sebentar lagi. Aku lagi-lagi bingung, untuk apa aku sebaik ini kepada orang yang aku ingin hindari setelah kejadian itu? Aku tak habis pikir. 

Akhirnya aku selesai. Sekarang aku kebingungan meminta izin kepada dosen. Apa yang harus aku katakan? Aku akan bertemu teman? Teman atau kawan terlalu naif. Aku tak suka mengatakan itu. Naif sekali, kita takkan pernah bisa jadi teman. Tapi apa daya, demi aku keluar dari hotel itu, aku harus menjadi naif sebentar. Setelah itu, aku berhasil keluar dan aku lihat kamu di sebrang jalan.
Kegelisahanku tiba-tiba hilang menjadi runtutan perasaan yang tak tau apa. Muak, menyesal, tak ada debaran lagi. Perjalanan pada saat itu hanya diisi oleh pertanyaan dalam kepalaku, “Mengapa kamu bodoh sekali?!”. Tapi aku berusaha untuk membuat semuanya baik, mungkin pertemuan kali ini tak akan seburuk itu. 

Kita mencari cafe. Kamu membawaku ke tempat kecil penuh manusia. Aku mundur. Sejak kapan aku suka keramaian? Aku ingin berbicara mengenai hal intim yang tak bisa aku selesaikan denganmu di chat, tak mungkin aku membicarakannya di tempat ramai seperti itu. 15 menit berkeliling, kita menemukan tempat yang lumayan tenang. Aku senang. 

Ternyata di kota ini, cafe tidak terlalu banyak. Tidak seperti di kotaku, di setiap penjuru kota ada. Ternyata ini dia, kota yang menjadi tempatmu pulang setelah aku tak lagi ada. Setelah kamu memutuskan untuk menjadi seorang pahlawan bagi seorang perempuan yang pada saat itu terpuruk dan rapuh. Perempuan yang hampir tiga atau empat tahun lebih tua dariku, mengeluh hidupnya tak lagi menyenangkan, lalu kau menawarkan waktumu dengannya dan meninggalkan aku. Hidup lucu sekali memang. 

Kamu tak berani menatap. Selama 90 menit kita berdua, kamu menunduk, tak menanyakan apapun. Untung aku sedikit terlatih untuk basa-basi, aku menanyakan keadaanmu. Meskipun sebetulnya aku tidak terlalu penasaran, aku ingin melompat ke pembicaraan yang lebih dalam. Lucunya, kita berdua sudah siap dengan pembicaran ini. Pembicaraan tentang hal usang lima tahun lalu, ketika kita berdua masih bodoh dan polos. Tapi patah hati nyatanya tak kenal orang polos atau bodoh, sakit tak kenal berpura-pura, kehilangan tak kenal ampun. 

Pada titik itu, kamu tahu aku hanya ingin kita menyudahi semuanya. Termasuk harapan-harapan kecil di dada kita yang menyebalkan. Harapanmu yang ingin kita kembali pada semula, harapanku yang ingin kita tak kembali lagi bersua. Tapi, mungkin, harapan terbesar kita berdua adalah berdamai dengan luka dan penyesalan masing-masing. 

Lucu, setelah lima tahun ini, kita benar-benar menjadi orang baru. Atau mungkin, cuma aku yang menjadi pribadi baru sedang kamu masih dengan jiwa yang sama. Aku dengan tujuan hidupku yang aneh, dengan cita-cita progresif yang mungkin kamu takkan mengerti. Kalaupun kita bersama, kita takkan bisa melengkapi kekosongan yang sudah tak lagi bisa diisi. Aku sudah berjalan jauh sedang kamu masih meromantisasi hubungan kita yang entah sudah kemana. Pada malam itu, aku hanya ingin kamu berhenti. Aku ingin kamu merebut kembali kehidupanmu dari rasa penyesalan yang mungkin setiap hari menggerogotimu. Kamu berhak hidup bahagia, aku pun begitu. Kamu harus berjalan lagi untuk menggapai cita-cita dan mimpimu. 

Tapi kamu tak mengerti maksudku. Kamu pikir hidup ini lagi-lagi tentang aku. Bahwa bahagiamu hanya bisa kamu gapai jika aku kembali. Aku tak bisa kembali kepada orang yang tak tahu siapa dirinya. Aku takut jika aku kembali, aku hanya menjadi aku dan kamu tak bisa masuk ke kehidupanku yang penuh ke-aku-an. 

Malam itu, aku ucapkan selamat tinggal dan permintaan maaf.
Malang. Kota yang malang bagi kita.
Malam itu, aku pulang ke kamar hotel dengan tangan hampa dan sakit yang tak terkira. Sakit karena aku tak merasa sakit ketika aku meninggalkanmu begitu saja. Bahkan ketika aku paksakan menangis, aku tak punya air mata lagi untuk dikeluarkan. 


Maybe this is the end of us, the real ending. Promise me you will be happy without me.