Sabtu, 02 Juni 2018

Malang; Kota yang Malang Bagi Kita.




Bulan kemarin, aku pergi ke suatu kota yang tak ku sangka akan membekas seperti ini.
Malang.
Kota yang tak pernah aku kunjungi, tapi banyak sekali kenangan buruk. Kota ini membuatku ragu. Apakah aku akan baik-baik saja melangkahkan kakiku disana tanpa perasaan sakit?
Dasar, aku impulsif. Beberapa hari sebelum pergi, aku menghubungimu. Aku bilang aku akan pergi ke kota ini, bukan liburan atau senang-senang tapi ini tugas kuliah.  Aku tak tahu perasaanmu bagaimana. Setelah aku maki-maki sampai mati, aku menghubungimu lagi dan aku akan pergi ke kota yang ada di sebelah kotamu. 

Mungkin kamu kegirangan ataupun kebingungan. Aku paham. Tak berharap kamu melakukan hal fantastis, pertemuan yang mungkin kita bisa lakukan lagi setelah lima tahun berpisah adalah suatu percobaan bunuh diri yang sudah beberapa kali aku lakukan. Kali ini dalam bentuk berbeda; bertemu kamu. Aku tak pernah mengerti akan aku. Padahal mungkin jika aku tak ingin bertemu pun, kita memang sudah rusak seperti ini. Biarlah benda rusak tetap rusak. Tapi aku malah ingin membuang benda rusak ini dengan cara yang tak biasa. 

Sebelum bertemu kamu, aku menunggu giliran mandi di hotel. Teman-temanku lama sekali mandinya, padahal aku sudah gelisah tak menentu mengetahui kamu sudah ada di alun-alun Batu dari pukul tiga sore. Pada pukul tujuh malam bahkan aku belum menyentuh air. Aku beranikan diriku menelepon, memelas kepadamu untuk menungguku sebentar lagi. Aku lagi-lagi bingung, untuk apa aku sebaik ini kepada orang yang aku ingin hindari setelah kejadian itu? Aku tak habis pikir. 

Akhirnya aku selesai. Sekarang aku kebingungan meminta izin kepada dosen. Apa yang harus aku katakan? Aku akan bertemu teman? Teman atau kawan terlalu naif. Aku tak suka mengatakan itu. Naif sekali, kita takkan pernah bisa jadi teman. Tapi apa daya, demi aku keluar dari hotel itu, aku harus menjadi naif sebentar. Setelah itu, aku berhasil keluar dan aku lihat kamu di sebrang jalan.
Kegelisahanku tiba-tiba hilang menjadi runtutan perasaan yang tak tau apa. Muak, menyesal, tak ada debaran lagi. Perjalanan pada saat itu hanya diisi oleh pertanyaan dalam kepalaku, “Mengapa kamu bodoh sekali?!”. Tapi aku berusaha untuk membuat semuanya baik, mungkin pertemuan kali ini tak akan seburuk itu. 

Kita mencari cafe. Kamu membawaku ke tempat kecil penuh manusia. Aku mundur. Sejak kapan aku suka keramaian? Aku ingin berbicara mengenai hal intim yang tak bisa aku selesaikan denganmu di chat, tak mungkin aku membicarakannya di tempat ramai seperti itu. 15 menit berkeliling, kita menemukan tempat yang lumayan tenang. Aku senang. 

Ternyata di kota ini, cafe tidak terlalu banyak. Tidak seperti di kotaku, di setiap penjuru kota ada. Ternyata ini dia, kota yang menjadi tempatmu pulang setelah aku tak lagi ada. Setelah kamu memutuskan untuk menjadi seorang pahlawan bagi seorang perempuan yang pada saat itu terpuruk dan rapuh. Perempuan yang hampir tiga atau empat tahun lebih tua dariku, mengeluh hidupnya tak lagi menyenangkan, lalu kau menawarkan waktumu dengannya dan meninggalkan aku. Hidup lucu sekali memang. 

Kamu tak berani menatap. Selama 90 menit kita berdua, kamu menunduk, tak menanyakan apapun. Untung aku sedikit terlatih untuk basa-basi, aku menanyakan keadaanmu. Meskipun sebetulnya aku tidak terlalu penasaran, aku ingin melompat ke pembicaraan yang lebih dalam. Lucunya, kita berdua sudah siap dengan pembicaran ini. Pembicaraan tentang hal usang lima tahun lalu, ketika kita berdua masih bodoh dan polos. Tapi patah hati nyatanya tak kenal orang polos atau bodoh, sakit tak kenal berpura-pura, kehilangan tak kenal ampun. 

Pada titik itu, kamu tahu aku hanya ingin kita menyudahi semuanya. Termasuk harapan-harapan kecil di dada kita yang menyebalkan. Harapanmu yang ingin kita kembali pada semula, harapanku yang ingin kita tak kembali lagi bersua. Tapi, mungkin, harapan terbesar kita berdua adalah berdamai dengan luka dan penyesalan masing-masing. 

Lucu, setelah lima tahun ini, kita benar-benar menjadi orang baru. Atau mungkin, cuma aku yang menjadi pribadi baru sedang kamu masih dengan jiwa yang sama. Aku dengan tujuan hidupku yang aneh, dengan cita-cita progresif yang mungkin kamu takkan mengerti. Kalaupun kita bersama, kita takkan bisa melengkapi kekosongan yang sudah tak lagi bisa diisi. Aku sudah berjalan jauh sedang kamu masih meromantisasi hubungan kita yang entah sudah kemana. Pada malam itu, aku hanya ingin kamu berhenti. Aku ingin kamu merebut kembali kehidupanmu dari rasa penyesalan yang mungkin setiap hari menggerogotimu. Kamu berhak hidup bahagia, aku pun begitu. Kamu harus berjalan lagi untuk menggapai cita-cita dan mimpimu. 

Tapi kamu tak mengerti maksudku. Kamu pikir hidup ini lagi-lagi tentang aku. Bahwa bahagiamu hanya bisa kamu gapai jika aku kembali. Aku tak bisa kembali kepada orang yang tak tahu siapa dirinya. Aku takut jika aku kembali, aku hanya menjadi aku dan kamu tak bisa masuk ke kehidupanku yang penuh ke-aku-an. 

Malam itu, aku ucapkan selamat tinggal dan permintaan maaf.
Malang. Kota yang malang bagi kita.
Malam itu, aku pulang ke kamar hotel dengan tangan hampa dan sakit yang tak terkira. Sakit karena aku tak merasa sakit ketika aku meninggalkanmu begitu saja. Bahkan ketika aku paksakan menangis, aku tak punya air mata lagi untuk dikeluarkan. 


Maybe this is the end of us, the real ending. Promise me you will be happy without me.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar