Bulan
kemarin, aku pergi ke suatu kota yang tak ku sangka akan membekas seperti ini.
Malang.
Kota
yang tak pernah aku kunjungi, tapi banyak sekali kenangan buruk. Kota ini
membuatku ragu. Apakah aku akan baik-baik saja melangkahkan kakiku disana tanpa
perasaan sakit?
Dasar,
aku impulsif. Beberapa hari sebelum pergi, aku menghubungimu. Aku bilang aku
akan pergi ke kota ini, bukan liburan atau senang-senang tapi ini tugas
kuliah. Aku tak tahu perasaanmu
bagaimana. Setelah aku maki-maki sampai mati, aku menghubungimu lagi dan aku
akan pergi ke kota yang ada di sebelah kotamu.
Mungkin
kamu kegirangan ataupun kebingungan. Aku paham. Tak berharap kamu melakukan hal
fantastis, pertemuan yang mungkin kita bisa lakukan lagi setelah lima tahun
berpisah adalah suatu percobaan bunuh diri yang sudah beberapa kali aku
lakukan. Kali ini dalam bentuk berbeda; bertemu kamu. Aku tak pernah mengerti
akan aku. Padahal mungkin jika aku tak ingin bertemu pun, kita memang sudah
rusak seperti ini. Biarlah benda rusak tetap rusak. Tapi aku malah ingin
membuang benda rusak ini dengan cara yang tak biasa.
Sebelum
bertemu kamu, aku menunggu giliran mandi di hotel. Teman-temanku lama sekali
mandinya, padahal aku sudah gelisah tak menentu mengetahui kamu sudah ada di
alun-alun Batu dari pukul tiga sore. Pada pukul tujuh malam bahkan aku belum
menyentuh air. Aku beranikan diriku menelepon, memelas kepadamu untuk
menungguku sebentar lagi. Aku lagi-lagi bingung, untuk apa aku sebaik ini
kepada orang yang aku ingin hindari setelah kejadian itu? Aku tak habis pikir.
Akhirnya
aku selesai. Sekarang aku kebingungan meminta izin kepada dosen. Apa yang harus
aku katakan? Aku akan bertemu teman? Teman atau kawan terlalu naif. Aku tak
suka mengatakan itu. Naif sekali, kita takkan pernah bisa jadi teman. Tapi apa
daya, demi aku keluar dari hotel itu, aku harus menjadi naif sebentar. Setelah
itu, aku berhasil keluar dan aku lihat kamu di sebrang jalan.
Kegelisahanku
tiba-tiba hilang menjadi runtutan perasaan yang tak tau apa. Muak, menyesal,
tak ada debaran lagi. Perjalanan pada saat itu hanya diisi oleh pertanyaan
dalam kepalaku, “Mengapa kamu bodoh sekali?!”. Tapi aku berusaha untuk membuat
semuanya baik, mungkin pertemuan kali ini tak akan seburuk itu.
Kita
mencari cafe. Kamu membawaku ke tempat kecil penuh manusia. Aku mundur. Sejak
kapan aku suka keramaian? Aku ingin berbicara mengenai hal intim yang tak bisa
aku selesaikan denganmu di chat, tak mungkin aku membicarakannya di tempat
ramai seperti itu. 15 menit berkeliling, kita menemukan tempat yang lumayan
tenang. Aku senang.
Ternyata
di kota ini, cafe tidak terlalu banyak. Tidak seperti di kotaku, di setiap
penjuru kota ada. Ternyata ini dia, kota yang menjadi tempatmu pulang setelah
aku tak lagi ada. Setelah kamu memutuskan untuk menjadi seorang pahlawan bagi
seorang perempuan yang pada saat itu terpuruk dan rapuh. Perempuan yang hampir
tiga atau empat tahun lebih tua dariku, mengeluh hidupnya tak lagi
menyenangkan, lalu kau menawarkan waktumu dengannya dan meninggalkan aku. Hidup
lucu sekali memang.
Kamu
tak berani menatap. Selama 90 menit kita berdua, kamu menunduk, tak menanyakan
apapun. Untung aku sedikit terlatih untuk basa-basi, aku menanyakan keadaanmu.
Meskipun sebetulnya aku tidak terlalu penasaran, aku ingin melompat ke
pembicaraan yang lebih dalam. Lucunya, kita berdua sudah siap dengan pembicaran
ini. Pembicaraan tentang hal usang lima tahun lalu, ketika kita berdua masih
bodoh dan polos. Tapi patah hati nyatanya tak kenal orang polos atau bodoh,
sakit tak kenal berpura-pura, kehilangan tak kenal ampun.
Pada
titik itu, kamu tahu aku hanya ingin kita menyudahi semuanya. Termasuk
harapan-harapan kecil di dada kita yang menyebalkan. Harapanmu yang ingin kita
kembali pada semula, harapanku yang ingin kita tak kembali lagi bersua. Tapi, mungkin,
harapan terbesar kita berdua adalah berdamai dengan luka dan penyesalan
masing-masing.
Lucu,
setelah lima tahun ini, kita benar-benar menjadi orang baru. Atau mungkin, cuma
aku yang menjadi pribadi baru sedang kamu masih dengan jiwa yang sama. Aku
dengan tujuan hidupku yang aneh, dengan cita-cita progresif yang mungkin kamu
takkan mengerti. Kalaupun kita bersama, kita takkan bisa melengkapi kekosongan
yang sudah tak lagi bisa diisi. Aku sudah berjalan jauh sedang kamu masih
meromantisasi hubungan kita yang entah sudah kemana. Pada malam itu, aku hanya
ingin kamu berhenti. Aku ingin kamu merebut kembali kehidupanmu dari rasa
penyesalan yang mungkin setiap hari menggerogotimu. Kamu berhak hidup bahagia,
aku pun begitu. Kamu harus berjalan lagi untuk menggapai cita-cita dan mimpimu.
Tapi
kamu tak mengerti maksudku. Kamu pikir hidup ini lagi-lagi tentang aku. Bahwa
bahagiamu hanya bisa kamu gapai jika aku kembali. Aku tak bisa kembali kepada
orang yang tak tahu siapa dirinya. Aku takut jika aku kembali, aku hanya
menjadi aku dan kamu tak bisa masuk ke kehidupanku yang penuh ke-aku-an.
Malam
itu, aku ucapkan selamat tinggal dan permintaan maaf.
Malang.
Kota yang malang bagi kita.
Malam
itu, aku pulang ke kamar hotel dengan tangan hampa dan sakit yang tak terkira.
Sakit karena aku tak merasa sakit ketika aku meninggalkanmu begitu saja. Bahkan
ketika aku paksakan menangis, aku tak punya air mata lagi untuk dikeluarkan.
Maybe this is the end of us, the real
ending. Promise me you will be happy without me.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar