Sabtu, 04 Juli 2020

Kehilangan Itu Biasa Saja.


Di tengah hiruk pikuknya hidup dan setelah semalam penuh gelak tawa yang dibagikan bersama teman-teman, aku duduk di ujung kamar yang bukan milikku. Cahaya masuk dari jendela pinggir kamar. Di titik itu, aku tiba-tiba menangis tersedu mengeluarkan sisa-sisa yang belum diikhlaskan. Kehilangan, tema besar tahun ini. Kehilangan hal kecil dan hal besar, kehilangan hal penting sampai tak penting. Kehilangan orang lain dan kehilangan diri sendiri.

Baru saja menjalani enam bulan di tahun ini, tapi rasanya aku sudah mengalami transformasi terbesar dalam hidupku. Enam bulan yang penuh dengan tangis, perasaan bersalah, amarah, kecewa, dan hilang arah. Tapi juga enam bulan yang penuh dengan belajar mengenal diri, mengenal Tuhan dan alam semesta, memaafkan dan welas asih.

Tangis pagi kemarin adalah tangis dari sisa-sisa hal yang belum aku ikhlaskan. Aku merasa kehilangan yang amat besar. Kehilangan ini diikuti dengan perasaan bela sungkawa yang tak kunjung usai bahkan setelah enam bulan itu berlalu. Butuh berapa waktu lagi aku menyelesaikan ini? Butuh berapa malam lagi aku melipat tidur dan memperhatikan empat sisi tembok di kamar dan berhadap aku mati saja ditelan bumi? Butuh berapa lama aku harus berproses bahwa semuanya sudah hilang dan lenyap? Butuh berapa lagi rintihan meminta tolong kepada Tuhan agar semua kesakitan dari kehilangan yang besar itu selesai?

Aku berusaha untuk berani dengan duduk dan menulis ini, mengenal perasaan yang mungkin aku sembunyikan karena aku takut dengan perasaan yang muncul saat ini. Perasaan lemah dan kalah. Bahwa sebanyak apapun proses pemulihan yang aku lakukan dan lalui selama beberapa bulan ini, aku bisa kembali menjadi kalah. Aku baru saja menyadari bahwa aku banyak sekali mengalami kehilangan dalam hidupku; kehilangan kucing kesayangan, kehilangan barang kesayangan, kehilangan orang yang dicintai karena kematian, juga kehilangan orang lain karena memutuskan untuk pergi. Semua rasanya sama.

Malam ini aku hanya ingin memeluk bagian paling rapuh. Perihal merekatkan retakan itu, aku biarkan saja dulu. Aku ingin memberi diriku waktu untuk menangisi apa saja yang belum diikhlaskan. Aku ingin duduk dan mengenal perasaan kehilangan yang terus menghantui sampai dalam mimpi. Aku ingin menangisi segala hal yang hilang sampai aku merasa bahwa... kehilangan itu biasa saja. Kehilangan itu biasa saja...

Senin, 31 Desember 2018

Di Hari Ulang Tahunmu; 22 Desember.


Hari ini adalah hari pertama di bulan Januari tahun 2019, kepalaku penuh oleh keriuhan yang memburuku setelah hari itu. Kali ini menjadi semakin deras dan semakin berisik, aku putuskan untuk menuliskan semuanya disini. Untukku.

Pada saat itu, disaat aku rapat dengan otak yang entah kemana memikirkan apa; aku melihat notifikasi di instagram. Kau mengikutiku di instagram, aku beritahu temanku. Aku senang, jujur. Setelah itu, aku tak memikirkanmu lagi. Aku pulang seperti biasa, saat di jalan pulang temanku memberitahu sesuatu. Dia bilang, ini akan membuatku senang. Ternyata kamu menanyakan sesuatu tentang aku kepada temanku. Tak lama, aku melihatmu mengirim pesan dan aku kebingungan. Hal ini bisa terjadi? Dia mengirim aku pesan? Singkat cerita, keesokan harinya kita bertemu. Bukan membicarakan sesuatu yang menjadi jembatan kita sebelum hal canggung ini terjadi, tetapi bertemu dengan senyum malu dan merona. Aku tidak bisa tidur beberapa hari, karena ini adalah suatu yang baru dan menyenangkan sekaligus membingungkan. Keseharianku yang membosankan sekarang disertai pesan-pesan manis ingin bertemu, pesan-pesan membicarakan hal tak penting lainnya. Pertemuan pertama kita sangat canggung, tapi secanggung apa yang kamu bayangkan pada saat itu; kamu berhasil menceritakan masa-masa tersulit di hidupmu kepada aku yang sama-sama pernah mengalami hal tersebut. Pertemuan kita berhasil, kau tahu?

Aku ingat ketika itu, setiap hari kamu ingin bertemu. Sabar dulu, meskipun pada akhirnya aku selalu menurutimu. Lucu, setiap aku hendak pulang kau selalu merengek meminta aku untuk tidak pulang. Meskipun hal itu bertahan beberapa hari saja, perubahanmu itu cepat, kau harus tahu. Tempo perkenalan kita pun begitu cepat karena dengan hitungan beberapa hari saja, aku sudah jatuh. Aku memberikan hatimu di ujung pintu. Anehnya, setelah aku menunggumu untuk menerima hatiku, kau tak pernah benar-benar membukakan pintu. Atau mungkin pintumu selalu terbuka, tapi kau tak mempersilakan aku masuk. Aku tak suka masuk tanpa meminta izin. Tapi kadang, kau mempersilakan aku masuk. Kau bilang, kau suka padaku, kau sayang padaku. Benarkah itu semua apa yang kamu rasakan pada saat itu? Apakah aku yang terlalu sungguh menganggap bahwa kamu benar-benar akan singgah? Apakah aku yang terlalu berlebihan dalam mengartikan konsep hubungan kita? Kalau ku bilang kita berteman, teman tidak akan melakukan hal-hal yang sudah kita lakukan. Kalau ku bilang kita lebih dari teman, tidak pernah ada persetujuan bahwa kita adalah lebih dari teman. Kamu membingungkan.

Kamu membingungkan. Kadang ada saatnya kamu sangat ingin bersama aku, kamu mengeluarkan kata-kata manis yang membuatku terjatuh lagi, kadang ada saatnya kamu memperlakukan aku begitu baik dan manis. Kadang ada saatnya aku merasa kamu asing, tiba-tiba aku tak mengenalmu, tiba-tiba kamu memperlakukan aku begitu buruk dan seperti aku mengemis untuk kamu tetap disini. Tak hentinya, aku mempersiapkan kepergian aku. Tak hentinya pula, kamu selalu bisa membuatku yakin untuk tetap tinggal. Aku begitu takut kehilanganmu, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan kepergianku karena aku lebih takut aku akan kehilangan diriku sendiri saat bersamamu. Aku merasa, semakin hari, kita semakin tidak baik.

Aku selalu bergelut dengan perasaan dan pikiran itu saat aku bersamamu, bahkan ketika kita diam tidak melakukan apa-apa tetapi tubuh saling memeluk; aku bahkan memikirkan tentang kepergian kita berdua. Aku diburu oleh perasaan takut dan tak aman, tapi aku mencintaimu. Apakah cinta selalu terasa seperti ini? Aku lupa rasanya, sudah lima tahun aku tak mempersilakan siapapun untuk datang. Kau yang pertama, kau yang ku beri kehormatan untuk menggenggam hatiku tapi kau tak tahu caranya. Padahal sudah ku bilang, jika kau kebingungan bagaimana cara menggenggamnya, tolong letakan saja di lantai dengan hati-hati. Kau menolak hati-hati, meskipun beberapa minggu sebelum kita berpisah, kau selalu bilang kau terlalu hati-hati dengan aku. Bohong.

Aku kira, ketidaktahuanmu mengenai kita disebabkan karena kamu takut memulai lagi seperti aku. Maka, aku beri kamu waktu. Aku beri kamu sandaran dan aku selalu berusaha ingin membuatmu nyaman, karena aku memikirkan hatimu patah dan begitu rapuh sampai aku sangat hati-hati untuk sekadar mempersilakanmu duduk dan singgah sebentar. Ternyata aku salah, ya?

Pada hari ulang tahunmu, kamu mengajakku untuk datang ke tempatmu. Seperti biasa, kita tidak melakukan apa-apa dan hanya mendengarkan lagu-lagu di handphone-ku. Kita berbincang sedikit, lalu kita diam, selalu seperti itu. Kamu bilang kalau kita kaku, aku selalu berusaha memulai dan membahas suatu topik tapi kau malah mematikan pembicaraan itu. Kau tahu itu? Aku lelah mencoba menerobos masuk mengenalmu lewat diskusi, kau bahkan tak lagi mempersilakan aku. Pada saat itu, aku mencoba memelukmu karena kebiasaan mungkin. Rasanya aneh berada di sebelahmu tapi tubuh kita tidak saling menyentuh. Kamu menolak pelukanku, aku bingung. Tapi memaksa adalah hal yang paling aku benci, aku mengurungkan diri dan meminta maaf. Tak lama, kamu menarik tanganku kembali untuk memelukmu dan tanganku kamu genggam dan kita terlelap sambil mendengarkan musik. Aku sangat lelah pada saat itu, tubuhku rasanya ingin menyerah tetapi pikiranku tak berhenti memikirkan kebingungan antara kita berdua. Aku ingin sekali pergi darimu, meninggalkan apa yang sudah kita lakukan begitu saja, tapi aku tidak bisa. Aku bahkan menuliskan puisi di handphone-ku pada saat itu, bahwa aku akan meninggalkanmu meskipun bukan hari ini.

Aku berniat ingin memberimu hadiah atau kejutan kecil di hari ulang tahunmu, meskipun beberapa kali kamu bilang tak usah melakukan apa-apa karena kamu bukan orang yang selalu merayakan hari jadi. Tapi aku ingin sekali menghadiahimu sesuatu yang membuatmu hangat di musim hujan seperti ini, seperti jaket atau mungkin wine? Sialnya, pada saat itu, rasa penasaranku sangat tinggi kepada foto perempuan di mejamu. Entah bagaimana semesta bekerja, aku tiba-tiba ditunjukan bahwa dia bukan temanmu seperti yang kamu katakan padaku di hari sebelumnya. Dia adalah perempuan yang memintamu pulang, ya? Atau mungkin dengan sendirinya kamu ingin pulang dan rumahmu bukan di sebelahku.

Pada saat itu, duniaku jatuh ke lantai. Hatiku yang ku titipkan padamu, kamu lempar begitu saja. Ketika aku menanyakan kembali kita dan siapa perempuan itu, bahkan raut mukamu tak berubah sama sekali dan sangat tenang menjawab pertanyaanku. Tanganku gemetar hebat, tak banyak basa-basi aku langsung pergi dan ketika di ujung pintu bahkan disaat ada ribuan kata yang bisa kamu katakan untukku, kau malah membahas suatu hal tak penting mengenai materil. Bajingan. Ternyata mengetahui kelok masa laluku bahkan tak penting, bukan? Mengetahui setiap luka yang ku coba pulihkan di setiap tubuhku, bahkan tak mengubahmu untuk tidak melakukan hal yang sama. Kau adalah jelmaan dari masa lalu dan ingin membunuhku kembali dengan hal yang sama lagi.

Mengapa kau singgah kalau tak sungguh? Mengapa kau melangkahkan kaki ke pintuku dan mengetuk ingin menjadi tamu padahal aku tak pernah mengundangmu? Mengapa jika hatimu tertinggal di sebelah perempuan itu, mengapa kau menawarkan kata-kata rayuan kepadaku? Mengapa tak kau lanjutkan saja perjuanganmu dengan dia dan mengapa harus membawa aku ke kekacauan kalian berdua? Mengapa? Hidupku sebelum bertemu kamu aman dan tentram saja, aku menyukaimu bahkan dari pertama kali kita bertemu, tapi aku tak ingin mendekatimu. Mengapa kau lakukan ini pada aku dan membuatku ingin mati saja? Aku bahkan belum cukup baik dalam mengurus luka lama, kau hadiahi aku dengan luka baru dan perbanku habis.

Aku tak ingin menyalahkan diri sendiri karena tak cepat-cepat pergi disaat aku kebingungan dengan hatimu, tapi aku merasa aku harus meminta maaf pada diriku karena ini. Aku harus meminta maaf pada diriku sendiri karena mau saja dibodoh-bodohi oleh laki-laki seperti kamu. Aku ingin berhenti marah, aku ingin berhenti mengutuk diri sendiri karena ini. Aku bahkan pada titik ini sudah tak lagi marah padamu, tak lagi benci, mungkin sebentar lagi bisa memaafkan. Tapi aku tak bisa berhenti memikirkan; jika dulu kau datang kesini dengan hatimu, mungkin saja pada saat ini kita masih bisa menyapa dan bersua.

Ini bukan patah hati terburuk yang pernah aku alami, tapi tetap menyebalkan sampai membuatku frustasi tak ada henti. Tapi apalah semua ini, hancur hanyalah masalah perubahan wujud.
Aku akan memaafkanmu untuk diriku sendiri, tapi kita berdua tahu kau tak pantas mendapatkannya.

Selasa, 20 November 2018

who are you, stranger?


Oh there is you who came to me, suddenly, without warning. The long haired guy who I think would be hard to reach, turns out it’s true. I wish you came with a signal at least. Let me know first before you declared a war inside my head. I’ve liked you since the first time we met. Not technically kind of like that I would sacrifice everything at that moment, but I just like looking at you; the way you smile with your crooked teeth, the way you fix your hair, the way you speak to people. I look at you with these details and maybe you’ll never know that I noticed. Since the day you came, my life is an episodes of adventures. Thrilling, exciting, and never know what’s ahead. There’s this problem about you, stranger. We’re like two travellers in a country far away from home, who accidently met. Said hi to each other and explore every corners of the city without knowing each other’s name. You’re such a good travel-mate, you’re curious about the world, about the culture and it’s issues but you’re not curious about me. I guess people do have their preferences on things, right? I understand. Take things slowly, you said. I also agree about that. But everything doesn’t need to be hold up. I don’t want to explore your body without knowing the soul in it. I want to know why you hate things, or why you love things, your childhood memories, your biggest heartbreak, your weird habits, your beliefs, your value, your fears, the books you hate, the movie you will never get bored to watch, and your thoughts about us. We’ve travelled far enough from the capital to this little village that only us as a tourists. We only have each other’s back if we camp by the beach and there’s a big lion outside the tent, we only have each other’s back if we eat like a pig and you can’t pay because you forget your wallet that you left in the bathroom of the motel. I am tired of begging people to stay. And if you’re planning to, tell me, who are you stranger?

Sabtu, 20 Oktober 2018

What I Think About Marriage



Sebelum menulis ini, aku harus menghela napas panjang dan menjernihkan pikiran. Topik ini semenakutkan itu, setraumatik itu, sesulit itu untuk ku bahas disini. Sepanjang hidupku, aku tak pernah mengambil arti atau makna yang baik dari sebuah pernikahan. Pernikahan yang aku lihat hanyalah dua orang yang tak saling mencintai tapi harus bersama, dua orang yang kehilangan masa mudanya dan harus dihadapkan dengan rumitnya pernikahan, dua orang yang tak pernah saling memberi dan mengasihi. Tapi aku bersyukur bahwa pernikahan itu tidak hancur seutuhnya, pondasi itu mereka bangun lagi. Tapi luka dari orang-orang yang menyaksikan pondasi itu hampir hancur beberapa tahun lalu, lukanya tak benar-benar sembuh dan masih meninggalkan bekas.

Banyak sekali yang aku pikirkan mengenai pernikahan. Aku tumbuh dengan melihat pernikahan yang seperti itu, terbesit keinginan-keinginan aneh yang menolak pernikahan itu sendiri disaat aku membayangkan diriku akan ada di dalamnya dan menjadi tokoh utama. Mungkin aku akan menjadi orang yang terjebak disana dengan rasa depresi yang semakin membuatku terperangkap. Apalagi jika pasanganku tidak bisa mengerti dan melihatku hanya seonggok daging yang ia gunakan saat ia butuh saja. Ketakutan-ketakutanku mengenai hal itu sangat menyebalkan dan membuatku tak nyaman saat orang membicarakan mengenai pernikahan. Pernikahan juga menurutku adalah sesuatu yang bisa membelenggu kebebasanku untuk menjadi manusia seutuhnya, yang aku lihat dari pernikahan lainnya, orangtua memberikan batasan-batasan dan peraturan tak tertulis mengenai pernikahan itu sendiri. Ini dia peraturannya:

1.       Perempuan harus bisa memasak, jadi suami tidak makan di luar dan betah di rumah.
Kekhawatiranku mengenai pernikahan tidak lain tidak bukan karena pembagian tugas dan peran yang tidak seimbang juga membebankan perempuan. Aku sendiri suka sekali memasak, tetapi jika standar untuk menikah adalah perempuan harus memasak dan harus kredibel dalam mengurus rumah, rasanya aku ini hanya dijadikan asisten rumah tangga saja. Bukan bermaksud menjelekkan dan mendisreditkan pekerjaan menjadi asisten rumah tangga, tetapi, bukan itu tujuanku menikah. Malas sekali rasanya dengan embel-embel bahwa ketika manusia itu lahir dengan vagina, otomatis manusia itu harus bisa memasak dan mengurus rumah. Tidak ada hal yang negatif menjadi ibu rumah tangga, tetapi jika semua pekerjaan istri hanya difokuskan untuk menyenangkan laki-laki rasanya malas sekali.

2.       Perempuan harus bekerja tetapi mereka pun harus mengurus rumah dan anak dengan baik.
Aku dengan embel-embel seorang sarjana, diharuskan untuk bekerja tetapi jangan melupakan kodrat sebagai perempuan yaitu mengurus anak dan mengurus rumah. Capek sekali ya rasanya jadi perempuan? Sudah bekerja dan meniti karir tetapi hanya dianggap membantu suami, terus disaat dia pulang ke rumah, dia harus mengurus semua urusan rumah dan anak. Ayahnya? Pulang kerja langsung tidur. Enaknya hidupmu. Menurutku, perihal mengurus rumah dan anak adalah hal yang bisa didialogkan dengan pasangan. Dan kedua pihak (istri dan suami) memiliki kewajiban yang sama dalam mengurus anak. Tetapi, ini adalah standar keluargaku yang sangat menjengkelkan. Sedih sekali hidup perempuan, dia hidup hanya untuk melayani laki-laki. Aku, sebagai seorang anak dari orangtuaku, hanya dianggap sebagai seorang manusia yang akan melayani manusia lain disaat studiku selesai. Aku setidak berharga itu sebagai seorang perempuan.

3.       Perempuan harus selalu tampil cantik, agar suami tidak “jajan” di luar.
Ini adalah hal termemuakkan yang pernah aku dengar. Jika seorang suami selingkuh, yang disalahkan siapa? Perempuannya! Baik itu perempuan yang menjadi selingkuhannya atau istrinya itu sendiri. Padahal laki-laki itu ambil andil dalam perselingkuhan itu sendiri. Menyalahkan istri karena dia kurang cantik, kurang merawat tubuh, kurang memuaskan di ranjang menjadi legitimasi bahwa suami boleh jajan di luar, itu adalah hal bodoh. Yang melakukan “jajan” lah yang salah, bukan seorang istri yang tidak bisa “memuaskan” suami yang salah.

Aturan-aturan di atas adalah aturan yang secara tidak langsung orangtuaku internalisasi sejak kecil. Aku, untungnya, tidak terpengaruh dengan nilai-nilai ini. Aku menjadi orang yang mempertanyakan segalanya; nilai, peraturan, tradisi, agama dan lain-lain yang menurutku agak aneh dan menyakiti perempuan. Ada perbedaan antara apa yang diinternalisasi dengan apa yang aku percayai, sehingga pemikiranku mengenai pernikahan adalah semenakutkan tadi. Padahal pernikahan sendiri bisa menjadi gudang kebahagiaan dan kenyamanan, tapi apa yang ku dapat dari proses berkembang selama ini bukanlah itu.

Banyak yang bertanya padaku, akankah aku menikah? Disaat aku adalah seorang feminis dan ada embel-embel bahwa feminis tidak menikah, LOL sangat cringe aku tau. Mungkin setelah menemukan orang yang tidak melihatku hanya sebagai manusia nomor dua dan ingin aku melayaninya, aku akan mempertimbangkan. Mengubah pikiran kolot di keluarga itu sulitnya minta ampun. Kamu akan dihadapkan dengan argumen-argumen dogmatis dan tradisionalis, padahal secara teoretis, hal itu sebenarnya sudah tidak relevan. Kesalahan konsep mengenai kodrat dan konstruksi pun membelenggu perempuan dan aku sendiri masih terbelenggu disana.

Semoga ketakutanku mengenai ini akan reda dan akan menemukan titik dimana aku bisa mengubah nilai-nilai ini. Sejujurnya, disaat seorang teman membicarkan mengenai pernikahannya, aku senang sekali! bahwa seseorang bisa sebahagia itu dan pernikahan bisa seindah itu. Tapi, aku hanyalah seonggok manusya dengan segala kekhawatiran dan pemikiran-pemikiran tak berujung. Semoga aku bisa meredefinisi pernikahan itu sendiri dan menjalaninya nanti disaat semua aspek dirasa sudah siap.

Jumat, 08 Juni 2018

Via Vallen Vs. The World


Pada tanggal 4 Juni 2018, Via Vallen menumpahkan kekesalannya lewat InstaStories. Dalam InstaStoriesnya, terdapat screenshot DM dari seorang pemain bola di Indonesia. DM tersebut berisikan “I want u sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes. Di InstaStories kedua juga masih mengenai DM dari pemain sepak bola ini. Via Vallen mengeluh bahwa ia tak pernah bertemu dengan laki-laki ini dan sebagai penyanyi ia merasa dilecehkan oleh seorang pemain bola di tanah airnya sendiri. Ia pun menambahkan bahwa ia bukanlah tipe “cewek” yang pemain bola itu pikirkan. Dalam percakapan itu juga, si pemain bola menanyakan mengapa Via Vallen marah dan meng-screenshot percakapan mereka. Lagi-lagi, dengan beraninya Via Vallen membalas Dont be affraid bro, I will not telling people who u are. U ask me Am I angry? What do you think after I have block your account.” 

Karena aksinya ini, Via Vallen mendapatkan banyak respon dari netizen. Responnya ini sangat beragam, ada yang mendukung Via Vallen untuk melawan pelecehan ada pula yang menganggap tindakan Via Vallen ini berlebihan. Banyak sekali komentar netizen yang menyudutkan Via Vallen. Menuding bahwa Via Vallen ini sengaja melakukan ini karena untuk ketenaran. Ada juga yang menyebutkan bahwa Via Vallen sudah mencoreng nama baik sepak bola Indonesia karena membagikan DM itu di InstaStoriesnya. Ada juga yang mengomentari dan menyalahkan Via Vallen karena ia tidak memakai hijab dan menutup auratnya. Ada pula yang mengomentari bahwa Via Vallen seorang penyanyi dangdut dan sangat wajar bila ia dilecehkan. Ada juga yang mengomentari bahwa sebagai artis, hendaknya legowo dengan perilaku atau pesan-pesan seperti itu. Dan masih banyak ribuan komentar lainnya yang menyebalkan dan melelahkan untuk dibaca. Hal menarik lainnya, kebanyakan komentar yang menyalahkan korban datang dari sesama perempuan. 
Victim Blaming atau menyalahkan korban adalah salah satu kebiasaan buruk yang selalu masyarakat lakukan disaat dihadapkan dengan korban pelecehan seksual. Hal ini pun terjadi kepada Via Vallen. Via Vallen sebagai korban disini, dan ia malah disalahkan oleh netizen karena tidak menutup auratnya, karena ia seorang penyanyi dangdut, ataupun karena ia berani untuk berbicara mengenai apa yang terjadi kepada dia. Padahal, percaya atau tidak, bahkan perempuan yang sedang melakukan ibadah Haji pun bisa juga menjadi korban pelecehan. (Read: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43268073). Banyak sekali teman-teman yang memakai kerudung, dari kerudung biasa hingga kerudung syar’i bahkan ada teman perempuan yang memakai cadar pun, ia masih mendapatkan pelecehan seksual. Sampai sini, masih menyalahkan pakaian korban juga yang katanya mengundang birahi laki-laki?
Pelecehan seksual bukan mengenai pakaian, bukan mengenai pekerjaan apa orang itu, apakah orang itu sadar atau tidak saat dilecehkan, berapa umur orang itu saat dilecehkan bukan tentang itu, tapi mengenai relasi kuasa. Di masyarakat yang sangat patriarkal seperti Indonesia ini, memang perempuan masih dianggap sebagai objek seksual saja dan masih ada anggapan bahwa posisi perempuan ini di bawah laki-laki sehingga pelaku pelecehan ini merasa bahwa ia lebih berkuasa dan dengan leluasa melecehkan perempuan. 
Ada komentar netizen yang termasuk konyol, tetapi memang ini sudah menjadi permasalahan yang tidak disadari dan banyak di-iya-kan oleh masyarakat. Ada komentar bahwa Via Vallen seharusnya tidak “lebay” dalam menanggapi pelecehan yang ia terima karena ia adalah seorang penyanyi dangdut. Anggapan bahwa penyanyi dangdut boleh dilecehkan adalah hal yang sangat tidak manusiawi. Tidak ada orang yang pantas mendapatkan perlakuan yang buruk seperti ini. Meskipun Via Vallen adalah seorang penyanyi, ia tidak pantas untuk menerima pesan-pesan yang mengganggu dan merendahkan harga dirinya. Artis juga manusia, kalau ia merasa terganggu ia pun memiliki hak untuk speak up. Netizen menganggap bahwa pelecehan yang terjadi kepada Via Vallen harusnya tidak dibesar-besarkan karena itu hanya pesan di media sosial saja. Pelecehan seksual di media sosial maupun kehidupan nyata berbobot sama rata. Jika kamu sedang berjalan di pinggir jalan, lalu kamu diajak “tidur” oleh orang yang tidak dikenal, itu terasa sangat mengganggu dan membuatmu marah bukan?
Hal menarik lainnya adalah komentar-komentar negatif yang ditujukan kepada Via Vallen rata-rata diberikan oleh seorang perempuan juga. Perempuan saling menyalahkan, perempuan saling bersaing, perempuan saling merendahkan adalah bukan hal yang baru. Dari data yang dilansir oleh PBB, sebanyak 35% perempuan di dunia pernah mengalami pelecehan seksual maupun fisik. Meskipun gender lain bisa mendapatkan pelecehan, perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan dan sering mendapatkan pelecehan. Tetapi, jika sesama perempuan saja tidak bisa menguatkan, bagaimana kita bisa bersatu untuk menghentikan rantai pelecehan seksual ini? Padahal sesama perempuan pasti berbagi pengalaman yang sama di sistem masyarakat yang sangat patriarkal ini; menjadi nomor dua, kesetaraan dianggap omong kosong, dilarang sekolah tinggi-tinggi, dibombardir dengan standar kecantikan yang tidak sehat dan memaksa, dan masih banyak lagi permasalahan yang membutuhkan kita sebagai perempuan untuk bersatu. 
Jika kamu tidak tahu caranya menguatkan teman atau siapapun yang mengalami pelecehan seksual, atau kebingungan harus melakukan apa. Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah tidak menyalahkan dia. Dengan hanya mendengarkan keluhan mereka pun, mereka akan merasa terbantu. Dan jika kamu merasa takut untuk berbicara mengenai pelecehan yang kamu alami, i just want to say, tidak selamanya diam itu emas. Jangan takut, #MeToo.