Sabtu, 20 Oktober 2018

What I Think About Marriage



Sebelum menulis ini, aku harus menghela napas panjang dan menjernihkan pikiran. Topik ini semenakutkan itu, setraumatik itu, sesulit itu untuk ku bahas disini. Sepanjang hidupku, aku tak pernah mengambil arti atau makna yang baik dari sebuah pernikahan. Pernikahan yang aku lihat hanyalah dua orang yang tak saling mencintai tapi harus bersama, dua orang yang kehilangan masa mudanya dan harus dihadapkan dengan rumitnya pernikahan, dua orang yang tak pernah saling memberi dan mengasihi. Tapi aku bersyukur bahwa pernikahan itu tidak hancur seutuhnya, pondasi itu mereka bangun lagi. Tapi luka dari orang-orang yang menyaksikan pondasi itu hampir hancur beberapa tahun lalu, lukanya tak benar-benar sembuh dan masih meninggalkan bekas.

Banyak sekali yang aku pikirkan mengenai pernikahan. Aku tumbuh dengan melihat pernikahan yang seperti itu, terbesit keinginan-keinginan aneh yang menolak pernikahan itu sendiri disaat aku membayangkan diriku akan ada di dalamnya dan menjadi tokoh utama. Mungkin aku akan menjadi orang yang terjebak disana dengan rasa depresi yang semakin membuatku terperangkap. Apalagi jika pasanganku tidak bisa mengerti dan melihatku hanya seonggok daging yang ia gunakan saat ia butuh saja. Ketakutan-ketakutanku mengenai hal itu sangat menyebalkan dan membuatku tak nyaman saat orang membicarakan mengenai pernikahan. Pernikahan juga menurutku adalah sesuatu yang bisa membelenggu kebebasanku untuk menjadi manusia seutuhnya, yang aku lihat dari pernikahan lainnya, orangtua memberikan batasan-batasan dan peraturan tak tertulis mengenai pernikahan itu sendiri. Ini dia peraturannya:

1.       Perempuan harus bisa memasak, jadi suami tidak makan di luar dan betah di rumah.
Kekhawatiranku mengenai pernikahan tidak lain tidak bukan karena pembagian tugas dan peran yang tidak seimbang juga membebankan perempuan. Aku sendiri suka sekali memasak, tetapi jika standar untuk menikah adalah perempuan harus memasak dan harus kredibel dalam mengurus rumah, rasanya aku ini hanya dijadikan asisten rumah tangga saja. Bukan bermaksud menjelekkan dan mendisreditkan pekerjaan menjadi asisten rumah tangga, tetapi, bukan itu tujuanku menikah. Malas sekali rasanya dengan embel-embel bahwa ketika manusia itu lahir dengan vagina, otomatis manusia itu harus bisa memasak dan mengurus rumah. Tidak ada hal yang negatif menjadi ibu rumah tangga, tetapi jika semua pekerjaan istri hanya difokuskan untuk menyenangkan laki-laki rasanya malas sekali.

2.       Perempuan harus bekerja tetapi mereka pun harus mengurus rumah dan anak dengan baik.
Aku dengan embel-embel seorang sarjana, diharuskan untuk bekerja tetapi jangan melupakan kodrat sebagai perempuan yaitu mengurus anak dan mengurus rumah. Capek sekali ya rasanya jadi perempuan? Sudah bekerja dan meniti karir tetapi hanya dianggap membantu suami, terus disaat dia pulang ke rumah, dia harus mengurus semua urusan rumah dan anak. Ayahnya? Pulang kerja langsung tidur. Enaknya hidupmu. Menurutku, perihal mengurus rumah dan anak adalah hal yang bisa didialogkan dengan pasangan. Dan kedua pihak (istri dan suami) memiliki kewajiban yang sama dalam mengurus anak. Tetapi, ini adalah standar keluargaku yang sangat menjengkelkan. Sedih sekali hidup perempuan, dia hidup hanya untuk melayani laki-laki. Aku, sebagai seorang anak dari orangtuaku, hanya dianggap sebagai seorang manusia yang akan melayani manusia lain disaat studiku selesai. Aku setidak berharga itu sebagai seorang perempuan.

3.       Perempuan harus selalu tampil cantik, agar suami tidak “jajan” di luar.
Ini adalah hal termemuakkan yang pernah aku dengar. Jika seorang suami selingkuh, yang disalahkan siapa? Perempuannya! Baik itu perempuan yang menjadi selingkuhannya atau istrinya itu sendiri. Padahal laki-laki itu ambil andil dalam perselingkuhan itu sendiri. Menyalahkan istri karena dia kurang cantik, kurang merawat tubuh, kurang memuaskan di ranjang menjadi legitimasi bahwa suami boleh jajan di luar, itu adalah hal bodoh. Yang melakukan “jajan” lah yang salah, bukan seorang istri yang tidak bisa “memuaskan” suami yang salah.

Aturan-aturan di atas adalah aturan yang secara tidak langsung orangtuaku internalisasi sejak kecil. Aku, untungnya, tidak terpengaruh dengan nilai-nilai ini. Aku menjadi orang yang mempertanyakan segalanya; nilai, peraturan, tradisi, agama dan lain-lain yang menurutku agak aneh dan menyakiti perempuan. Ada perbedaan antara apa yang diinternalisasi dengan apa yang aku percayai, sehingga pemikiranku mengenai pernikahan adalah semenakutkan tadi. Padahal pernikahan sendiri bisa menjadi gudang kebahagiaan dan kenyamanan, tapi apa yang ku dapat dari proses berkembang selama ini bukanlah itu.

Banyak yang bertanya padaku, akankah aku menikah? Disaat aku adalah seorang feminis dan ada embel-embel bahwa feminis tidak menikah, LOL sangat cringe aku tau. Mungkin setelah menemukan orang yang tidak melihatku hanya sebagai manusia nomor dua dan ingin aku melayaninya, aku akan mempertimbangkan. Mengubah pikiran kolot di keluarga itu sulitnya minta ampun. Kamu akan dihadapkan dengan argumen-argumen dogmatis dan tradisionalis, padahal secara teoretis, hal itu sebenarnya sudah tidak relevan. Kesalahan konsep mengenai kodrat dan konstruksi pun membelenggu perempuan dan aku sendiri masih terbelenggu disana.

Semoga ketakutanku mengenai ini akan reda dan akan menemukan titik dimana aku bisa mengubah nilai-nilai ini. Sejujurnya, disaat seorang teman membicarkan mengenai pernikahannya, aku senang sekali! bahwa seseorang bisa sebahagia itu dan pernikahan bisa seindah itu. Tapi, aku hanyalah seonggok manusya dengan segala kekhawatiran dan pemikiran-pemikiran tak berujung. Semoga aku bisa meredefinisi pernikahan itu sendiri dan menjalaninya nanti disaat semua aspek dirasa sudah siap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar