Kali ini saya akan mencoba hal baru dalam blog saya. Saya sebenarnya
sudah sedikit bosan dengan tema blog saya yang itu-itu saja. Kali ini, saya akan mencoba untuk membuat ulasan tentang
buku-buku yang sudah saya baca. Karna saya merasa untuk apa banyak membaca tetapi
tanpa menyebar informasi itu kepada orang lain.
Jadi, untuk teman-teman pengulas. Apabila ulasan saya belum
sebaik teman-teman, tolong bimbingannya dan komentarnya sangat ditunggu di
kolom komentar. :)
The Fault In Our Stars berhasil mengembalikan hobi lama saya; membaca.
Berawal dari menonton filmnya di salah satu bioskop di Bandung bersama teman, saya merasa kisah Hazel Grace dan Augustus Waters sangat menarik. Tepat beberapa
hari sebelum hari raya Idul Fitri saya mengunjungi toko buku dan thanks God saya tidak kehabisan buku best seller ini! Buku TFIOS hanya
tersisa satu di toko buku itu.
The Fault In Our
Stars
Karya John Green
Penerbit: Penerbit
Qanita
“I'm in love with you," he said quietly.
"Augustus," I said.
"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you. ”
"Augustus," I said.
"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you. ”
That was my favorite quote of TFIOS. Sebenarnya saya baca
yang terjemahan, tapi saya lebih suka yang berbahasa inggris.
Hazel Grace Lancaster adalah seorang gadis yang mengidap
kanker tiroid. Ia harus memakai bantuan oksigen untuk bertahan hidup. Hazel Grace
hidup dalam keputusaan, meskipun orangtuanya menyuruhnya untuk bergabung dengan
Kelompok Pendukung, ia tetap merasa putus asa. Pada saat ia berkumpul dengan
Kelompok Pendukung, ia bertemu dengan Augustus Waters. Laki-laki yang dulu
mengidap kanker dan telah beberapa bulan dinyatakan bebas kanker. Ia menaruh
rasa penasaran terhadap lelaki itu. Begitu pun Gus, yang diam-diam
memperhatikan Hazel Grace.
Setelah beberapa waktu, mereka pun dekat. Dan Hazel Grace
merekomendasikan buku Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten kepada Gus.
Gus jatuh cinta kepada buku itu, dan mereka berdua ingin sekali mengetahui apa
yang terjadi kepada tokoh setelah buku itu selesai. Mereka pun pergi ke
Amsterdam untuk menemui Peter Van Houten yang tinggal di sana. Tetapi Van
Houten ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Dan setelah
perjalanan mereka di Amsterdam, banyak kejutan-kejutan yang akan membuat hati
kalian teriris. Aku sampai membenci John Green karna ini! Hahaha.
Buku ini sangat menarik dan membuat kita merasakan lagi
bagaimana rasanya cinta pertama. Tetapi, menurutku buku original berbahasa
inggris lebih bagus daripada terjemahan. Karna bahasa Indonesia yang digunakan
dalam novel ini kadang begitu rancu dan mengubah arti dari yang bahasa inggris.
Aku sedikit kecewa ketika kutipan-kutipan favoritku berubah arti ketika di
terjemahkan. Hiks. Tapi over all, novel ini berhasil membuatku penasaran
terhadap karya-karya John Green yang lain. Ini adalah buku kedua favoritku
setelah Looking For Alaska. Dan karna novel ini, banyak sekali yang meminta
kepada Tuhan untuk menciptakan Augustus Waters yang nyata! Haha. He’s so lovable, smart, handsome, and
successfully made my heart fluttered.
Lain kali aku akan mengulas Looking For Alaska di sini. :)
“Because you are beautiful. I enjoy looking at
beautiful people, and I decided a while ago not to deny myself the simpler
pleasures of existence”
“The world is not a wish-granting factory.”
