Sabtu, 06 Februari 2016

Ulasan Novel The Fault In Our Stars Karya John Green



Kali ini saya akan mencoba hal baru dalam blog saya. Saya sebenarnya sudah sedikit  bosan dengan tema blog saya yang itu-itu saja. Kali ini, saya akan mencoba untuk membuat ulasan tentang buku-buku yang sudah saya baca. Karna saya merasa untuk apa banyak membaca tetapi tanpa menyebar informasi itu kepada orang lain.
Jadi, untuk teman-teman pengulas. Apabila ulasan saya belum sebaik teman-teman, tolong bimbingannya dan komentarnya sangat ditunggu di kolom komentar. :)
The Fault In Our Stars berhasil mengembalikan hobi lama saya; membaca. Berawal dari menonton filmnya di salah satu bioskop di Bandung bersama teman, saya merasa kisah Hazel Grace dan Augustus Waters sangat menarik. Tepat beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri saya mengunjungi toko buku dan thanks God saya tidak kehabisan buku best seller ini! Buku TFIOS hanya tersisa satu di toko buku itu.
The Fault In Our Stars
Karya John Green
Penerbit: Penerbit Qanita

“I'm in love with you," he said quietly.

"Augustus," I said.

"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I'm in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we're all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we'll ever have, and I am in love with you.

That was my favorite quote of TFIOS. Sebenarnya saya baca yang terjemahan, tapi saya lebih suka yang berbahasa inggris.
Hazel Grace Lancaster adalah seorang gadis yang mengidap kanker tiroid. Ia harus memakai bantuan oksigen untuk bertahan hidup. Hazel Grace hidup dalam keputusaan, meskipun orangtuanya menyuruhnya untuk bergabung dengan Kelompok Pendukung, ia tetap merasa putus asa. Pada saat ia berkumpul dengan Kelompok Pendukung, ia bertemu dengan Augustus Waters. Laki-laki yang dulu mengidap kanker dan telah beberapa bulan dinyatakan bebas kanker. Ia menaruh rasa penasaran terhadap lelaki itu. Begitu pun Gus, yang diam-diam memperhatikan Hazel Grace.
Setelah beberapa waktu, mereka pun dekat. Dan Hazel Grace merekomendasikan buku Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten kepada Gus. Gus jatuh cinta kepada buku itu, dan mereka berdua ingin sekali mengetahui apa yang terjadi kepada tokoh setelah buku itu selesai. Mereka pun pergi ke Amsterdam untuk menemui Peter Van Houten yang tinggal di sana. Tetapi Van Houten ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Dan setelah perjalanan mereka di Amsterdam, banyak kejutan-kejutan yang akan membuat hati kalian teriris. Aku sampai membenci John Green karna ini! Hahaha.
Buku ini sangat menarik dan membuat kita merasakan lagi bagaimana rasanya cinta pertama. Tetapi, menurutku buku original berbahasa inggris lebih bagus daripada terjemahan. Karna bahasa Indonesia yang digunakan dalam novel ini kadang begitu rancu dan mengubah arti dari yang bahasa inggris. Aku sedikit kecewa ketika kutipan-kutipan favoritku berubah arti ketika di terjemahkan. Hiks. Tapi over all, novel ini berhasil membuatku penasaran terhadap karya-karya John Green yang lain. Ini adalah buku kedua favoritku setelah Looking For Alaska. Dan karna novel ini, banyak sekali yang meminta kepada Tuhan untuk menciptakan Augustus Waters yang nyata! Haha. He’s so lovable, smart, handsome, and successfully made my heart fluttered. 

Lain kali aku akan mengulas Looking For Alaska di sini. :)

“Because you are beautiful. I enjoy looking at beautiful people, and I decided a while ago not to deny myself the simpler pleasures of existence” 

“The world is not a wish-granting factory.” 

“As he read, I fell in love the way you fall asleep: slowly, and then all at once.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar