Sabtu, 04 Juli 2020

Kehilangan Itu Biasa Saja.


Di tengah hiruk pikuknya hidup dan setelah semalam penuh gelak tawa yang dibagikan bersama teman-teman, aku duduk di ujung kamar yang bukan milikku. Cahaya masuk dari jendela pinggir kamar. Di titik itu, aku tiba-tiba menangis tersedu mengeluarkan sisa-sisa yang belum diikhlaskan. Kehilangan, tema besar tahun ini. Kehilangan hal kecil dan hal besar, kehilangan hal penting sampai tak penting. Kehilangan orang lain dan kehilangan diri sendiri.

Baru saja menjalani enam bulan di tahun ini, tapi rasanya aku sudah mengalami transformasi terbesar dalam hidupku. Enam bulan yang penuh dengan tangis, perasaan bersalah, amarah, kecewa, dan hilang arah. Tapi juga enam bulan yang penuh dengan belajar mengenal diri, mengenal Tuhan dan alam semesta, memaafkan dan welas asih.

Tangis pagi kemarin adalah tangis dari sisa-sisa hal yang belum aku ikhlaskan. Aku merasa kehilangan yang amat besar. Kehilangan ini diikuti dengan perasaan bela sungkawa yang tak kunjung usai bahkan setelah enam bulan itu berlalu. Butuh berapa waktu lagi aku menyelesaikan ini? Butuh berapa malam lagi aku melipat tidur dan memperhatikan empat sisi tembok di kamar dan berhadap aku mati saja ditelan bumi? Butuh berapa lama aku harus berproses bahwa semuanya sudah hilang dan lenyap? Butuh berapa lagi rintihan meminta tolong kepada Tuhan agar semua kesakitan dari kehilangan yang besar itu selesai?

Aku berusaha untuk berani dengan duduk dan menulis ini, mengenal perasaan yang mungkin aku sembunyikan karena aku takut dengan perasaan yang muncul saat ini. Perasaan lemah dan kalah. Bahwa sebanyak apapun proses pemulihan yang aku lakukan dan lalui selama beberapa bulan ini, aku bisa kembali menjadi kalah. Aku baru saja menyadari bahwa aku banyak sekali mengalami kehilangan dalam hidupku; kehilangan kucing kesayangan, kehilangan barang kesayangan, kehilangan orang yang dicintai karena kematian, juga kehilangan orang lain karena memutuskan untuk pergi. Semua rasanya sama.

Malam ini aku hanya ingin memeluk bagian paling rapuh. Perihal merekatkan retakan itu, aku biarkan saja dulu. Aku ingin memberi diriku waktu untuk menangisi apa saja yang belum diikhlaskan. Aku ingin duduk dan mengenal perasaan kehilangan yang terus menghantui sampai dalam mimpi. Aku ingin menangisi segala hal yang hilang sampai aku merasa bahwa... kehilangan itu biasa saja. Kehilangan itu biasa saja...