Di tengah hiruk pikuknya hidup dan setelah semalam penuh
gelak tawa yang dibagikan bersama teman-teman, aku duduk di ujung kamar yang
bukan milikku. Cahaya masuk dari jendela pinggir kamar. Di titik itu, aku
tiba-tiba menangis tersedu mengeluarkan sisa-sisa yang belum diikhlaskan.
Kehilangan, tema besar tahun ini. Kehilangan hal kecil dan hal besar,
kehilangan hal penting sampai tak penting. Kehilangan orang lain dan kehilangan
diri sendiri.
Baru saja menjalani enam bulan di tahun ini, tapi rasanya
aku sudah mengalami transformasi terbesar dalam hidupku. Enam bulan yang penuh
dengan tangis, perasaan bersalah, amarah, kecewa, dan hilang arah. Tapi juga
enam bulan yang penuh dengan belajar mengenal diri, mengenal Tuhan dan alam
semesta, memaafkan dan welas asih.
Tangis pagi kemarin adalah tangis dari sisa-sisa hal yang
belum aku ikhlaskan. Aku merasa kehilangan yang amat besar. Kehilangan ini
diikuti dengan perasaan bela sungkawa yang tak kunjung usai bahkan setelah enam
bulan itu berlalu. Butuh berapa waktu lagi aku menyelesaikan ini? Butuh berapa
malam lagi aku melipat tidur dan memperhatikan empat sisi tembok di kamar dan
berhadap aku mati saja ditelan bumi? Butuh berapa lama aku harus berproses
bahwa semuanya sudah hilang dan lenyap? Butuh berapa lagi rintihan meminta
tolong kepada Tuhan agar semua kesakitan dari kehilangan yang besar itu
selesai?
Aku berusaha untuk berani dengan duduk dan menulis ini,
mengenal perasaan yang mungkin aku sembunyikan karena aku takut dengan perasaan
yang muncul saat ini. Perasaan lemah dan kalah. Bahwa sebanyak apapun proses
pemulihan yang aku lakukan dan lalui selama beberapa bulan ini, aku bisa
kembali menjadi kalah. Aku baru saja menyadari bahwa aku banyak sekali
mengalami kehilangan dalam hidupku; kehilangan kucing kesayangan, kehilangan
barang kesayangan, kehilangan orang yang dicintai karena kematian, juga kehilangan
orang lain karena memutuskan untuk pergi. Semua rasanya sama.
Malam ini aku hanya ingin memeluk bagian paling rapuh.
Perihal merekatkan retakan itu, aku biarkan saja dulu. Aku ingin memberi diriku
waktu untuk menangisi apa saja yang belum diikhlaskan. Aku ingin duduk dan
mengenal perasaan kehilangan yang terus menghantui sampai dalam mimpi. Aku
ingin menangisi segala hal yang hilang sampai aku merasa bahwa... kehilangan
itu biasa saja. Kehilangan itu biasa saja...