Minggu, 16 Maret 2014

Jatuh Cinta Diam-Diam



Jatuh cinta diam-diam itu adalah ketika kamu tersenyum melihat dia bahagia karena orang lain, bukan karena kamu. Jatuh cinta diam-diam itu ketika rasa penasaranku menjadi, hanya karena ingin melihat profilmu sesering mungkin. Melihat punggungmu meski hanya dibalik tembok. Memeluk guling dan membayangkan paras indahmu dan berkhayal memilikimu. Kini, rasa ini semakin menjadi, tak pernah terhenti apalagi mati. Kamu terlalu indah untuk aku miliki.
Dasar si bodoh yang tak tahu malu, berani-beraninya mencintaimu. Bertahun-tahun bahkan aku menunggumu, mendawaikan puisi-puisi bodoh yang sama sekali kamu takkan dengar. Menuliskan semua khayal-khayalku tentangmu dibalik pintu. Menulis kata-kata bodoh di twitter karena kesal, kau tak pernah peka. Akulah si bodoh itu, yang selalu minta ditatap, hingga meratap. Yang selalu minta dilirik, dasar si bodoh yang tak tahu malu kan?. Tanganku selalu gatal karena ingin me-retweet semua kicauanmu di twitter. Ingin menyukai semua foto-fotomu di Instagram, tapi bahkan untuk sekedar menyukai fotomu saja aku takut, malu, dan canggung.
Duh, dasar cinta diam-diam.  Melihatnya saja dari kejauhan, sudah gemetar tak jelas. Jantung berdegup cepat, kaki lemas tak berdaya, perut pun melilit mulas. Apa aku berlebihan? Coba aku ingin tanyakan pada Tuhan, mengapa Ia menciptakan manusia seindah dirimu? Membuatku tak karuan tiap berpapasan dilorong sekolah, membuatku ingin berteriak kencang saat dia menatapku tajam.
Dasar si bodoh, aku tak juga memindahkan hatiku pada orang lain, padahal masih banyak yang selalu care padaku, menanyakan segala aktivitasku, ah macam-macam. Tak pernah aku temui titik jenuhku untuk mencintaimu. Ya, jatuh cinta diam-diam memang mengesankan, tapi juga mengenaskan.