Sabtu, 23 November 2013

Kasih Tak Sampai

sekali lagi, aku tanya pada hatiku
pada siapa aku memilih?
pada siapa aku berlabuh?
pada siapa aku akan terjatuh?

aku susuri hatiku yang paling dalam
sampai palung curam
lalu ku temukan dirimu
yang selama ini tak pernah ku tahu

salahkan aku mencintaimu?
menyimpan rindu lalu menangisimu
meski tabu, 
hati ini tlah berlabuh
pada sungging senyummu,
yang tak bisa aku beli oleh apapun

nyatanya, rasa ini saja tak cukup
nyatanya, rindu ini juga tak mungkin meluluhkanmu
apa air mata bisa?
mungkin saja tidak,
karena hatimu diam tak menyala,
seperti lilin yang ditiup angin

aku sepi tanpamu
aku ragu tuk melangkah
apa aku berlebihan padamu?
apa aku sanggup tanpamu?

aku menyerah...
aku tak lagi berjalan disudut jalan
karena aku berhenti menunggumu

sekian lama aku menunggu sendirian ditepi jalan
banyak yang menepi, tapi itu bukan kamu

aku lelah..
aku tak lagi merindu
aku takkan lagi menunggu
akuu sudah sampai pada titik jenuhku
untuk menggapaimu kasih..
ya, kasih tak sampai..

Kamis, 14 November 2013

Kau, abu-abu.

Lalu, luka itu bangkit lagi. Seakan mengejarku dan mendekapku untuk terhempas kembali ke masa lalu dimana aku dan kamu berada. Tak mudah bagiku lalui waktu tanpamu, seseorang yang gemar mencoretkan tinta tawa dalam lembaran hariku. Mencintamu membuatku terbunuh, apalagi merindumu, babak belur aku. Apalagi yang bisa aku lakukan selain memimpikanmu dengan jutaan khayalku tentangmu? 
Kau terlalu abu-abu untukku, tak bisa aku reka apalagi tuk ku eja, meski dibantu rindu.

Jumat, 18 Oktober 2013

Cinta Diam Diam


“kaka.. cepet bangun.” Seketika kata-kata itu membangunkanku dari mimpi yang indah. Aku bermimpi kalau aku bertemu seorang laki-laki yang amat mempesona, tapi aku tak tahu itu siapa sehingga membuatku penasaran, ah sudahlah hanya mimpi.
Aku segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, karena ibuku telah membangunkanku untuk segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. 
Namaku Nina, aku murid pindahan dari SMA yang cukup terkenal di Jakarta. Aku memutuskan pindah ke Bandung karena orangtuaku pindah tempat dinas. Jadi aku hanya menurut mereka saja saat aku diberi tahu kalau aku harus pindah ke Bandung.
Aku pindah ke SMA Jaya Bakti Bandung. Sekarang aku bergegas ke sekolahku yang baru, aku sudah tidak sabar.

Setibanya di sekolah, aku sangat malu karena banyak yang memperhatikanku sehingga aku hanya menunduk sepanjang aku mencari kelasku. Dan tiba-tiba ada seseorang laki-laki bertanya padaku “eh, kamu murid baru ya?” “eh iya nih, ngomong-ngomong kelas 11-4 dimana ya?” balasku. “nah, itu kelasku loh hahaha, ini disini.” Sambil menunjuk ke kelas yg tepat berada dibelakangnya. “ohaha, makasih ya..” balasku. Aku pun melamun sejenak, “kok aku ngerasa pernah ketemu dia ya.. tapi dimana. Lagian di Jakarta gak ada tuh dia..” dan aku pun ingat, dia itu laki-laki yang aku mimpikan malam tadi. Heran dan bingung juga kenapa hal itu bisa benar-benar real.
eh kamu pindahan dari mana?” seseorang bertanya padaku sampai-sampai mengagetkan lamunanku. “eh.. iya aku pindahan dari Jakarta.” Balasku. Dan ternyata cowo itu yang bertanya, ah aku gugup sekali. “Nama kamu siapa?” tanya dia. “Nina, kamu?” “oh, aku Raihan. Salam kenal ya..” sambil tersenyum. Astaga senyumnya itu bener-bener bikin melting!
hari demi hari aku lewatin bareng dia, karena dia teman pertamaku disekolah ini. Kita semakin dekat, dia sering telepon aku, smsan seharian bareng dia, ngemall, nonton, ah pokoknya seru banget tiap harinya bareng dia. Dia itu bener-bener perhatian, baik, asik, humoris, siapa yang gak suka sama cowo kaya gini, pikirku. Karena cinta itu tumbuh akibat terbiasa, mungkin disinilah aku mulai merasa ada yang aneh saat aku dekat dia. Lebih deg-degan, nervous ah segala macem.
Sampe akhirnya kita dinner berdua...........
Aku bener-bener gak habis pikir dia bakal seromantis ini.
“Nin..”
“iya  han..”
“Nina cantik..” balasnya dgn senyuman
“makasih han.”
“seminggu yang lalu, Nin. Raihan pdkt sama Fika. Dan tadi pagi Raihan udah jadian sama Fika, Nin. Jadi, Raihan mau traktir Nina dinner malem ini.”
Aku heran. Aku bingung. Aku tersentak dan aku rasa air mataku mendesak keluar, tapi aku tahan.
“oh ya? Selamat ya Han, aku juga ikut seneng.” Aku pun tersenyum miris.
Raihan bercerita tentang Fika panjang lebar, aku hanya mengiyakan saja. Aku masih merasa sesak, sakit dan tak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Lalu, aku pun bingung apa yang Raihan lakukan selama ini hanya untuk hal ini? Hanya untuk menyakitiku?
Raihan pun semakin berbeda setiap harinya. Tak pernah telepon aku, bahkan sms pun tak pernah. Dia selalu berdua dengan Fika sepanjang hari. Aku hanya bisa diam.

Kalau semua ini hanya untuk kau hancurkan
Hanya untuk kau buang dan kau sia-siakan
Mengapa sedalam ini harapan yang kau beri untukku?
Hingga aku tak sadar sedalam ini aku jatuh dalam ranjaumu
Kalau semua ini hanya untuk kau permainkan
Mengapa aku memberi seluruh hatiku tanpa main-main dan keraguan
Kalau aku hanya untuk kau lupakan
Mengapa kau biarkan aku menyimpan rasa ini diam-diam dibelakangmu
Tanpa sepengetahuanmu, tanpa rasa pekamu sedikitpun
Ya, aku tak berhak atas cintamu
Aku lebih tahu diri.
Karena ini cinta diam-diam

Kamis, 26 September 2013

Aku ini wanita.

Kamu tau tentang perasaanku? tentang hati yang aku beri untukmu? tentang aku, tentang doaku tentang harapanku yang lagi-lagi tentang kamu.
Lihatlah aku disini, tengoklah. Jangan kau biarkan aku hanyalah sebagai angin yang menyukaimu secara diam-diam dan transparan. Tapi aku yakin, kamu merasakannya kan? Lalu tunggu apa? Tunggu aku menyatakannya secara terang-terangan? Aku ini wanita, aku tak mungkin mengungkapkannya terlebih dahulu kan? aku lelah menunggu kamu, yang kenyataannya tak memperdulikanku :)

Jumat, 20 September 2013

Broken Home



“Praaaang..!!” suara pecahan piring yang biasa menemani aku di malam hari. Mungkin kamu mengira kalau itu disebabkan oleh kucing ya? Haha tidak, itu kelakuan ayahku yang memang tak pernah bisa mengendalikan emosinya sendiri.

Ya, aku Citra. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Aku mempunyai satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Aku mempunyai impian dari dulu untuk mempunyai keluarga yang harmonis dan rumah yang selalu orang lain bicarakan “home sweet home” “rumahku surgaku”.

Dari awal kelahiran adikku, ayahku tak pernah mengendalikan emosinya seperti dulu. Ia sering memecahkan piring, membanting telepon rumah, menendang pintu, dan selalu keluyuran. Aku tak pernah nyaman tinggal bersama ayahku. Aku tak pernah membenci dia, tidak seperti dia yang membenci aku, saudara-saudaraku dan ibuku. Kamu tau gak sih, rasanya di benci ayah sendiri tapi kamu sendiri tak tahu apa kesalahanmu? Kamu tau gak sih seberapa ingin kamu membanggakan mereka dengan segudang prestasimu tapi mereka tak pernah sedikitpun perduli terhadapmu? BAGAIMANA ITU RASANYA? Sakit kan? Lebih sakit dari yang namanya patah hati dan putus cinta.

Aku cuma ingin mereka tidak mempertontonkan masalah mereka didepan anak mereka. Tidakkah kalian tau seberapa sakitnya hati anak kalian kalau melihat kalian bertengkar lalu yang satunya menangis? Apa aku dan saudara-saudaraku tidak ikut menangis juga? Aku menangis setiap kalian bertengkar, aku hanya tidak ingin membebankanmu dengan air mataku, Ibu Ayah.

Aku hanya benci apabila hal ini selalu terjadi diantara kalian berdua. Aku hanya benci saat ada teriakan disetiap tangisan ibuku. Hatiku lebih menjerit bu, lebih. Aku hanya ingin kalian belajar mencintai keluarga kecil ini, mencintai aku dan saudara-saudaraku. Berhenti bertengkar, aku dan sudara-saudaraku cukup lelah menerima itu selama 10tahun lamanya.

Aku benamkan harapanku diantara kalian..

Aku tekankan diriku untuk menggapai prestasi demi kalian..

Jadi, bisa kah kalian sedikit mencintaiku?

Selasa, 18 Juni 2013

Masih dengan rasa yang lama.

Masih dengan tatapan itu, aku menyembunyikan rasa yang mungkin tidak kamu ketahui. Makanya, aku hanya menunduk saat kamu menatapku. Ada hentakan rindu saat kamu jauh. Ada degupan lucu pada jantungku saat kita bertemu. Aku ragu dengan hatiku, dengan kata yang menyangkal semua tentangmu. Setelah sekian lama aku menunggu, tak mungkin aku terus menerus menunggumu. Dengan jutaan puisi bodoh yang mungkin kamu tak pernah lirik, apalagi membaca. Ini suatu keanehan, mengapa aku memilih kamu untuk aku perjuangkan sampai jatuh bangun? Mungkin inilah cinta, tanpa balasan.

Senin, 10 Juni 2013

Diam.



Diam. Suatu kata yang selama ini aku lakukan. Ya, sudah tiga tahun ini aku mencintai pria, diam-diam. Tanpa rasa lelah dan letih.
Seperti biasa, setiap pagi aku bergegas untuk pergi ke sekolah, aku selalu semangat untuk pergi ke sekolah karna aku akan bertemu dia. Yeay!
Aku pergi ke sekolah naik angkutan umum, dan di tengah perjalanan aku melihat dia, iya dia! Aku sangat senang sekali dan berdebar. Dan pada saat itu hanya ada bangku yang kosong disebelahku, dan otomatis dia duduk disampingku. Bisa dibayangkan, pria itu duduk disampingku dan bagaimana berdebarnya hatiku! Aku ingin sekali menyapanya, tapi sudah hampir 3tahun ini aku sama sekali tidak bersapa dengan dia. Karna dia tahu bahwa aku sangat mencintainya, dan dia menjadi benci padaku. Mungkin rasa sayang ini salah untukmu.
Selama perjalanan kami hanya diam, tak ada kata, tak ada senyuman. Miris. Sakit. Pedih, memang. Aku hanya bisa memendam dan terus mencintainya tanpa balasan dan tanpa memiliki. Rasanya itu seperti mengejar kupu-kupu, semakin dikejar malah semakin jauh.
Setibanya disekolah, aku langsung bercerita kepada teman dekatku, Nita. Dia sangat baik padaku, dia sering sekali mendengarkan ceritaku tentang si pria itu.
“Nit, tadi aku seangkot lo sama si Randy. Dan dia duduk disebelah aku. Kamu bisa bayangin kan gimana deg-degan nya.”
“Ah beneran nih? Terus-terus gimana? Ngobrol gak?”
“Boro-boro nit. Dia malah buang muka sama aku.”
“Yang sabar aja, Ris. Aku bilang apa, kamu itu harus moveon. Kalau kamu ngaepin dia terus gak bakalan sembuh-sembuh sakitnya. Dan kalau kamu selalu ngerasa gak nyaman sama orang lain selain si Rendy, gak masalah. Emang moveon itu harus dapetin yang baru? Nggak loh, Ris.”
Aku termenung sejenak. Berpikir selama beberapa menit. Dan KRINGGGGG....!! bel masuk membuatku tersentak.
Aku bergegas masuk kelas bersama Nita. Setelah tiga jam belajar, bel istirahat pun berbunyi. Ah, rasanya senang sekali. Aku ingin melihat Rendy, meskipun hanya dari kejauhan. Hal seperti ini aku lakukan setiap istirahat. Rendy adalah orang yang cuek, tak peduli pada siapapun, tapi dia mempunyai sisi humoris. Aku tak tahu, melihat dari sisi mana sampai aku tergila-gila sekali pada Rendy. Hampir tiga tahun aku masih menyimpan cinta ini diam-diam, meskipun mungkin Rendy mengetahui perasaanku karna ada salah satu temanku yang membocorkan nya, sehingga dia jadi membenciku. Dan aku tak tahu siapa yang membocorkannya. Aku selalu menulis tentang Rendy di diaryku ataupun diblog. Kurasa, aku sangat berlebihan dalam memposisikan dia. Tapi, bagaimana lagi? Namanya juga cinta.
Sepulang sekolah aku bermain ke rumah Nita. Hanya untuk menghilangkan penat saja.
Setibanya dirumah Nita, dia mempersilahkan ku untuk masuk ke kamarnya. Lalu, aku menunggu dia mandi. Sewaktu aku menunggu dia mandi, aku lihat ada album foto di meja belajarnya. Aku lihat saja.
Dan ternyata, saat aku buka album foto itu. Itu semua foto-foto Rendy dan tepat diakhir lembaran nya, ada foto Nita dan Rendy berdua. Aku kaget sekali. Di foto itu, tergurat raut bahagia di muka Rendy. Terlihat jelas sekali, kulihat dia lebih bahagia dengan Nita dibandingkan dekat denganku. Air mataku pun menetes tanpa aku sadari, difoto itu Rendy sedang merangkul Nita. Ternyata ini kelakukan sahabatku dibelakangku, ternyata ini hasil selama tiga tahun aku mengharapkan Rendy, aku sangat sakit sekali. Aku benci kenyataan ini, aku benci.
Dan tiba-tiba Nita masuk kamar, dan dia kaget melihat aku sedang menangis dan album foto itu terbuka diatas tanganku. “aku bisa jelasin ris.” Ucap Nita.
“apalagi yang mau dijelasin? Jelas-jelas kamu ngerebut Rendy dariku kan!”
Aku langsung lari keluar, dan langsung pulang ke rumah. Aku langsung mencurahkan hatiku, lagi-lagi pada blog.
Aku berpikir, aku berpikir tentang ini jutaan kali, berulang-ulang, berkali-kali. Mengapa begitu sakit? Mengapa begitu lama aku menanti? Aku menyadari, apa hak ku untuk marah dan cemburu? Dianggap ada pun tidak, apalagi status? Mustahil. Dan bukankah aku hanya diam-diam dan terus diam selama ini? Lalu, bagaimana aku harus menghadapi kenyataan kelam ini? Ya,  aku tahu. diam. Karna ini, cinta diam-diam.

So, dont hope anymore! Let’s moveon!”

Rabu, 05 Juni 2013

Bersamamu.

Didekatmu aku seperti tak butuh oksigen. Bayangkan saja, setelah sekian lama aku menunggu pertemuan ini dan sekarang aku menatap matamu tanpa pasungan jarak. Untuk satu hari, biarkan aku terus menatap mata indahmu. Berpeluk, aku terbuai. Desir darah seperti mengerti, bahagia telah hadir. Makin aku terbuai, makin aku cinta. Takkan ku relakan hari ini berlalu, kan ku hentikan waktu. Hanya untuk bersamamu.

Minggu, 19 Mei 2013

kaulah arti yang tersembunyi, ketika kataku terbata-bata dan ketika mataku terasa sesak berlinang; air mata.

Jumat, 22 Maret 2013

Karnamu

Kalau semua ini takdirku, aku bisa terima.
Kan ku tahan semua rindu, kan ku tutup semua lembaran masa lalu.
Bila kamu lebih bahagia tanpaku, aku terima meski semua ini sakit,
Dan jika kamu lelah mencari orang yang membuatmu nyaman, sesungguhnya di situlah awal semua pembalasan dari sikapmu yang seolah-olah mempermainkan boneka kecilmu ini.
Tolong hentikan semua air mata yang beralasan karna kamu lagi dan lagi.
Tolong pergilah dari hidupku yang terlanjur suram ini karna perlakuanmu.
Aku tak tau harus bagaimana lagi agar air mata ini tak menetes, bahkan aku lupa caranya tertawa.
Kamu kan yang mau aku seperti ini? 
Selalu dan selalu melemah. Karnamu.. 
https://twitter.com/tiaraauliaa        

Selasa, 19 Februari 2013

Selamat Tinggal

Tak akan ada celah untuk kembali. Setelah berakhir tetaplah berakhir.
Kamu pergi karna kamu mencintai orang lain dan aku pergi karna aku terlalu mencintaimu.
Selama detik berdetak kan ku jaga cinta ini, sendiri.
Tak apa. aku masih tetap bertahan dengan langkahku yang tak pasti. Menahan semua rindu yang tak terobati. Aku lelah berlabuh dengan luka, aku ingin berlabuh dengan bahagia.
Tapi.. bahagiaku telah pergi. Jauh, dan takkan kembali.
Selamat tinggal luka lama..
Kan ku kenang semua tentang kita.
Kan ku jaga semua kenangan, tapi tak lupa..
Aku harus meniadakan 'ada' menjadi 'tiada'
Selamat tinggal....

Jumat, 01 Februari 2013

Untukmu yang kusebut "Sahabat"

Aku tak suka berteman dengan hening
Tak juga gemar berkawan dengan sepi
Tapi, selalu saja mereka mencoba membunuhku.
dengan perlahan dan bersekongkol dengan waktu

Lelah, sungguh lelah..
Ku coba terbangun,
dari hening yang menyetubuhiku
dari sepi yang mencintaiku
Aku lelah..

Ku coba tertawa diatas semua deritaku
Ku coba membuang tangisku, walau sukar
Aku kesepian atas semua canda tawa yang menghiasi hidupku,
Tapi bukan denganku canda dan tawa itu mereka nikmati.

Kalau aku bicara, tidakkah kalian dengar?
Kalau aku menangis, tidakkah kalian peduli?
Setega itu kalian terhadap aku yang hina ini?
Semunafikkah kalian dihadapanku?