Sebelum
menulis ini, aku harus menghela napas panjang dan menjernihkan pikiran. Topik
ini semenakutkan itu, setraumatik itu, sesulit itu untuk ku bahas disini. Sepanjang
hidupku, aku tak pernah mengambil arti atau makna yang baik dari sebuah
pernikahan. Pernikahan yang aku lihat hanyalah dua orang yang tak saling
mencintai tapi harus bersama, dua orang yang kehilangan masa mudanya dan harus
dihadapkan dengan rumitnya pernikahan, dua orang yang tak pernah saling memberi
dan mengasihi. Tapi aku bersyukur bahwa pernikahan itu tidak hancur seutuhnya,
pondasi itu mereka bangun lagi. Tapi luka dari orang-orang yang menyaksikan
pondasi itu hampir hancur beberapa tahun lalu, lukanya tak benar-benar sembuh
dan masih meninggalkan bekas.
Banyak sekali yang aku pikirkan mengenai pernikahan. Aku
tumbuh dengan melihat pernikahan yang seperti itu, terbesit keinginan-keinginan
aneh yang menolak pernikahan itu sendiri disaat aku membayangkan diriku akan
ada di dalamnya dan menjadi tokoh utama. Mungkin aku akan menjadi orang yang
terjebak disana dengan rasa depresi yang semakin membuatku terperangkap.
Apalagi jika pasanganku tidak bisa mengerti dan melihatku hanya seonggok daging
yang ia gunakan saat ia butuh saja. Ketakutan-ketakutanku mengenai hal itu
sangat menyebalkan dan membuatku tak nyaman saat orang membicarakan mengenai
pernikahan. Pernikahan juga menurutku adalah sesuatu yang bisa membelenggu
kebebasanku untuk menjadi manusia seutuhnya, yang aku lihat dari pernikahan
lainnya, orangtua memberikan batasan-batasan dan peraturan tak tertulis
mengenai pernikahan itu sendiri. Ini dia peraturannya:
1.
Perempuan
harus bisa memasak, jadi suami tidak makan di luar dan betah di rumah.
Kekhawatiranku mengenai pernikahan tidak
lain tidak bukan karena pembagian tugas dan peran yang tidak seimbang juga
membebankan perempuan. Aku sendiri suka sekali memasak, tetapi jika standar
untuk menikah adalah perempuan harus memasak dan harus kredibel dalam mengurus
rumah, rasanya aku ini hanya dijadikan asisten rumah tangga saja. Bukan bermaksud
menjelekkan dan mendisreditkan pekerjaan menjadi asisten rumah tangga, tetapi,
bukan itu tujuanku menikah. Malas sekali rasanya dengan embel-embel bahwa
ketika manusia itu lahir dengan vagina, otomatis manusia itu harus bisa memasak
dan mengurus rumah. Tidak ada hal yang negatif menjadi ibu rumah tangga, tetapi
jika semua pekerjaan istri hanya difokuskan untuk menyenangkan laki-laki
rasanya malas sekali.
2.
Perempuan
harus bekerja tetapi mereka pun harus mengurus rumah dan anak dengan baik.
Aku dengan embel-embel seorang sarjana,
diharuskan untuk bekerja tetapi jangan melupakan kodrat sebagai perempuan yaitu
mengurus anak dan mengurus rumah. Capek sekali ya rasanya jadi perempuan? Sudah
bekerja dan meniti karir tetapi hanya dianggap membantu suami, terus disaat dia
pulang ke rumah, dia harus mengurus semua urusan rumah dan anak. Ayahnya?
Pulang kerja langsung tidur. Enaknya hidupmu. Menurutku, perihal mengurus rumah
dan anak adalah hal yang bisa didialogkan dengan pasangan. Dan kedua pihak
(istri dan suami) memiliki kewajiban yang sama dalam mengurus anak. Tetapi, ini
adalah standar keluargaku yang sangat menjengkelkan. Sedih sekali hidup
perempuan, dia hidup hanya untuk melayani laki-laki. Aku, sebagai seorang anak
dari orangtuaku, hanya dianggap sebagai seorang manusia yang akan melayani
manusia lain disaat studiku selesai. Aku setidak berharga itu sebagai seorang
perempuan.
3.
Perempuan
harus selalu tampil cantik, agar suami tidak “jajan” di luar.
Ini adalah hal termemuakkan yang pernah aku
dengar. Jika seorang suami selingkuh, yang disalahkan siapa? Perempuannya! Baik
itu perempuan yang menjadi selingkuhannya atau istrinya itu sendiri. Padahal laki-laki
itu ambil andil dalam perselingkuhan itu sendiri. Menyalahkan istri karena dia
kurang cantik, kurang merawat tubuh, kurang memuaskan di ranjang menjadi
legitimasi bahwa suami boleh jajan di luar, itu adalah hal bodoh. Yang
melakukan “jajan” lah yang salah, bukan seorang istri yang tidak bisa “memuaskan”
suami yang salah.
Aturan-aturan di atas adalah aturan yang secara tidak
langsung orangtuaku internalisasi sejak kecil. Aku, untungnya, tidak
terpengaruh dengan nilai-nilai ini. Aku menjadi orang yang mempertanyakan
segalanya; nilai, peraturan, tradisi, agama dan lain-lain yang menurutku agak
aneh dan menyakiti perempuan. Ada perbedaan antara apa yang diinternalisasi
dengan apa yang aku percayai, sehingga pemikiranku mengenai pernikahan adalah
semenakutkan tadi. Padahal pernikahan sendiri bisa menjadi gudang kebahagiaan
dan kenyamanan, tapi apa yang ku dapat dari proses berkembang selama ini
bukanlah itu.
Banyak yang bertanya padaku, akankah aku menikah? Disaat aku
adalah seorang feminis dan ada embel-embel bahwa feminis tidak menikah, LOL
sangat cringe aku tau. Mungkin
setelah menemukan orang yang tidak melihatku hanya sebagai manusia nomor dua
dan ingin aku melayaninya, aku akan mempertimbangkan. Mengubah pikiran kolot di
keluarga itu sulitnya minta ampun. Kamu akan dihadapkan dengan argumen-argumen
dogmatis dan tradisionalis, padahal secara teoretis, hal itu sebenarnya sudah
tidak relevan. Kesalahan konsep mengenai kodrat dan konstruksi pun membelenggu
perempuan dan aku sendiri masih terbelenggu disana.
Semoga ketakutanku mengenai ini akan reda dan akan menemukan
titik dimana aku bisa mengubah nilai-nilai ini. Sejujurnya, disaat seorang
teman membicarkan mengenai pernikahannya, aku senang sekali! bahwa seseorang
bisa sebahagia itu dan pernikahan bisa seindah itu. Tapi, aku hanyalah seonggok
manusya dengan segala kekhawatiran dan pemikiran-pemikiran tak berujung. Semoga
aku bisa meredefinisi pernikahan itu sendiri dan menjalaninya nanti disaat
semua aspek dirasa sudah siap.