Rabu, 09 Agustus 2017

I (Almost) Kill Myself



So, here I am gonna talk about my experience with suicidal thoughts a few months ago. I’m gonna talk about it in english since I am more comfortable discussing it in english than bahasa.
I was 15 when I had my first broken heart, painful and unbearable. I was mad, I was mad at my ex but mostly I was mad at myself. I was feeling not enough; not beautiful enough, not skinny enough, not good enough even for myself. He was my first love, everyone would kill for their first love, so would I. I was suffering for almost a year, hoping he would come back to me and anyways we broke up in a bad way. He cheated on me, like the cruelest-cheating-way. Well, you can guess. In a year, he didn’t let go of me and so did I. We still kept in touch, we still loved each other, it was like a movie. When he was with his girlfriend, he texted me. Everything they did, he told me. And the most stupid thing I’ve ever did was listening to him. Highschool, broken heart, faced teenage life, so on – it was depressing. I was mentally unstable, I hated myself, I hated my friends, I hated my family. My family is not the kind of family that you can talk your problems with, they are not a good match with me. I love them, of course I do but to talk my problems with them? Nah, never. When I am home, I usually isolate myself in my room. My dad was a dictator, my mom was afraid of him – we are all afraid of him. I almost had a “broken home”, it affected me so much. Until now.
I always thought that wanting to kill ourselves is a common thing. I thought people are like this too. So if you read my poems around 2014-2016, I was so suicidal. I said I wanted to die, I was lonely and I’d rather die than facing this loneliness. Highschool ended, I forgot about my first heart break but I had to face college life. Finally. But college is as hard as highschool or even more cruel because people are ignorant. I am studying at the most religious college in the town, but I am not religious. I was kind of lost, I thought God worked for people but not for me. I refused His existence, I was suffering anyway even when I do believe in him. But I still believed in Him you know but I was questioning everything. I am not wearing hijab, but all my friends are wearing it. It’s so much burden for me, because people keep asking me when I will use one. Also, I study sociology. So basically, we talk about everything even the wrong ones. But there’s no wrong or right in sociology, we just learn the fact. I was always vocal about my opinions which were different with my friends. But they looked at me like I am a sinner, like I am a bad person. I hated myself for not good enough, not religious enough, not fit into their standard, I hated for being me. It was the hardest moment in my life because people saw me that way. I was on my way, searching what is this all about, life, existence, everything. Aroud that time, I couldn’t stop thinking about death I even dreamt about it. I was thinking about it all the time, I am not lying. I was thinking about how I should die, how I should kill myself in a less painful way. I thought it was normal, I thought people are also like this. I asked my close friends, “do you ever think about killing yourself?”. They replied, “No, OMG. Never!!” and the same reactions from almost all of them. And after that, I was scared, I was different.
After that, I seek for information about my suicidal thoughts. I found one, I found that it is a symptoms for depression. And then, I was too drowning that maybe yes I was depressed because the others symptoms are also very me. I was tired all the time, lack of motivation, so on. I fell into self-diagnosed trap and it was not cool. I will tell you how it felt like, I was sad but something beyond sad and I didn’t know what, it was so hard to wake up every morning and knew that today is worse than yesterday, it was lonely and exhausting and it was hurt so much even though no one hurt you. I was more suicidal, I even arranged the detail in my head about how should I kill myself. Sure, it wasn’t jump from the bridge or slit my wrist with cutter --- but yeah I won’t tell you, I will keep it for myself. Thankfully, I never did it. I almost kill myself, in my head.
But now I overcome my suicidal thoughts, I don’t know for sure how but I manage to think positive and loving myself more. Ugh, it was such a cliche if people told me to think positive and I think that’s bullshit but it worked for me. I had a chance to love myself more and it is amazing. I don’t set my goals too high, since it’s a burden for me and it is stressful. I am just doing me, I freed myself. I don’t really care anymore about what people think of me, I continue my own adventure and slowly but sure I finally find the light. If you think suicidal thoughts have something to do with your religion, well, not really. Stop saying that people who need help like this are sinner or far from God.
Now I realized, it was not that I want to die but I want to live more and I want to cut the painful part in me with death. But death isn’t a choice, friends. We have another choices that never come across our mind, and you will find it someday. Self-diagnosed is not cool, if you think you are depressed or simply need help you can always come to the professional. I was there, in the darkest moment in my life. And I almost kill myself, in my head.




*P.S. if you want to talk about your problems or anything, you can always talk to me. I am no professional but I will try my best to comfort or just to give you a hug. You are not alone.

Senin, 12 Juni 2017

Tes Keperawanan; Penentu Moralitas?

Tak asing lagi di telinga, jika tes keperawanan menjadi salah satu syarat untuk masuk ke institusi militer seperti TNI dan POLRI. Tidak hanya itu, DPRD Jember pernah berencana untuk menjadikan tes keperawanan sebagai salah satu syarat kelulusan siswi. Hal ini disebabkan karena tingginya angka penderita HIV di Jember pada tahun 2006 yaitu sekitar 1200 jiwa dan 10% di dalamnya adalah pelajar. Panglima TNI Jenderal Moelkodo pun mengungkapkan bahwa tes keperawanan yang merupakan syarat masuk TNI adalah salah satu tindakan untuk kebaikan dan penilaian moralitas. Banyak cerita mengenai tes keperawanan ini, beberapa teman bercerita mereka berjalan mengangkang seperti layaknya baru pertama kali menggunakan pembalut setelah melakukan tes keperawanan.
Human Rights Watch mengungkapkan bahwa tes keperawanan ini adalah bentuk praktik yang kejam dan merendahkan perempuan. Secara internasional, tes ini dianggap sebagai pelanggaran hak. HRW bahkan sudah mendesak pemerintah Indonesia untuk tidak melakukan tes keperawanan bagi calon polwan maupun calon tentara. HRW mengungkapkan bahwa tidak ada relevansi antara keamanan negara dengan keperawanan, tes ini hanya menyakiti dan mempermalukan perempuan.
Tes keperawanan ini beragam. Di India, ada sedikitnya empat tes keperawanan yang terkenal. Pertama, tes kemurnian air. Tes kemurnian air adalah tes keperawanan dimana suatu komunitas tertentu di India melakukan tes keperawanan kepada perempuan dengan cara menahan napas di bawah air yang dihitung lamanya seperti seseorang melangkah sejauh 100 langkah. Kedua, tes api. Tes api adalah tes keperawanan yang dimana pengantin wanita harus menggenggam besi panas di tangannya dan jika di tengah-tengah ia menyerah, maka dinyatakan bahwa ia tidak lagi perawan. Ketiga, noda darah di tempat tidur. Untuk mengetahui wanita yang baru saja menikah itu adalah perawan atau tidak, keesokan harinya setelah pasangan pengantin itu melakukan hubungan intim, maka keluarga akan mengecek bekas noda di tempat tidur. Selanjutnya ada tes dua jari, tes ini biasanya dilakukan untuk korban pemerkosaan.
Baik dalam sudut pandang pendidikan maupun pernikahan, keperawanan ini merupakan hal yang dijadikan alat untuk menilai baik atau tidaknya moralitas seseorang. Masih segar di ingatan kita, seorang Bupati, Aceng Fikri menceraikan istrinya yang baru saja ia nikahi karena ia nilai istrinya sudah tidak perawan dan ia mengibaratkan bahwa ketidakperawanan itu ibarat membeli pakaian rusak. Keperawanan dalam konteks yang seperti ini, sudah seperti sesuatu hal yang mendefinisikan perempuan. Jika perempuan tersebut masih perawan maka akan diagung-agungkan. Tetapi jika perempuan tersebut sudah tidak lagi perawan, maka akan dibuang begitu saja layaknya sampah. Lalu bolehkah jika kita menilai seseorang hanya dari keperawanan saja? Lalu wajarkah bila kita menilai moral seorang wanita hanya dari keperawanannya saja?
Keperawanan adalah mitos. Keperawanan ini dinilai dengan sobeknya selaput dara saat melakukan hubungan intim. Justru menurut para seksolog, sebagian besar perempuan tidak memiliki selaput dara sejak lahir. Ada orang yang memiliki selaput dara, ada orang yang tidak memiliki selaput dara, ada pula orang yang sudah melakukan hubungan intim tetapi masih memiliki selaput dara, ada juga orang yang memiliki selaput dara yang tipis. Pada kasus pemilik selaput dara yang tipis ini, biasanya akan mudah terkoyak meskipun hanya mengendarai sepeda. Lalu adilkah jika kita hanya menilai moralitas seseorang hanya karena masalah selaput dara ini? Jawabannya tidak.
Keperawanan ini dijadikan alat sebagai objeksisasi perempuan di budaya patriarki. Keperawanan ini pula dijadikan tolak ukur perkasanya seorang laki-laki. Laki-laki akan dianggap perkasa jika ia berhasil mendapatkan seorang gadis. Tak bisa kita pungkiri, bahwa banyak laki-laki yang menikahi seorang janda, tetapi posisinya di masyarakat akan dianggap rendah karena mendapatkan seorang wanita yang sudah tak perawan lagi. Budaya patriarki ini menuntut laki-laki untuk selalu maskulin sedangkan wanita hanya seonggok objek yang dinilai dari keperawanannya saja. Peraturan dalam pendidikan, tidak memperbolehkan seorang perempuan yang sudah tidak lagi perawan untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Tetapi bukankah ini sangat tidak adil, karena di sini hanya perempuanlah yang memiliki ciri ketidakperawanan sedangkan laki-laki tidak? Sangat sulit mengidentifikasikan laki-laki yang sudah melakukan hubungan seksual.
Jika anda seorang orangtua, maka etiskah jika anak perempuan anda berbaris berjejer untuk memasuki ruangan tes dan setelah keluar dari ruangan tes, cara berjalan anak anda menjadi berbeda dan teman-teman perempuan ataupun laki-lakinya bertanya apakah anak perempuan anda masih perawan atau tidak? Tentu hal itu merupakan hal yang paling memalukan bagi perempuan. Keperawanan tidak pantas untuk dijadikan sebagai hal yang mendefinisikan moral seorang perempuan. Semua perempuan, ataupun laki-laki, berhak mendapatkan pendidikan yang sama terlepas dari perawan atau tidaknya.

--------------------------------------------------------------------------------------------

 Sumber: 
http://aslicirebon.com/2015/05/dianggap-merendahkan-wanita-panglima.html 
http://www.jurnalperempuan.org/blog2/keperawanan-perlombaan-maskulin1
http://health.liputan6.com/read/2657460/4-tes-keperawanan-yang-aneh-dan-masih-
lazimdilakukan#
http://news.metrotvnews.com/read/2015/02/07/355021/dprd-jember-usulkan-
tes-keperawanan-syarat-kelulusan-siswa
http://www.jurnalperempuan.org/blog2/razia-jilbab-tes-keperawanan-dan-perda-diskriminatif
kekonyolan-yang-tak-bisa-dibiarkan
http://www.jurnalperempuan.org/blog/tes-keperawanan-kebodohan-yang-mempermalukan
perempuan

Minggu, 26 Maret 2017

Aku Perempuan, Bukan Objek




  
“Mbak, badannya bagus!” semua perempuan pasti pernah mendengar kalimat-kalimat tersebut dilontarkan oleh seseorang yang tidak di kenal di jalanan, di gang, maupun di angkutam umum. Dan sayangnya, menurut fakta, bahwa hampir semua yang melakukan itu adalah laki-laki. Meskipun tak bisa kita pungkiri bahwa bisa saja seorang laki-laki mengalami kejadian serupa. Kalimat tersebut terdengar sangat lazim dan normal, tetapi jika kita ulas sedikit lebih dalam, kalimat-kalimat tersebut bisa menjadi salah satu contoh pelecehan seksual secara verbal.
Pelecehan seksual dibagi menjadi tiga bentuk yakni pelecehan seksual berbentuk verbal, pelecehan seksual nonverbal, dan pelecehan seksual secara fisik. Contoh dari pelecehan seksual berbentuk verbal adalah ada pada kalimat pertama pada paragraf ini. Pelecehan seksual verbal ini sering dianggap lazim dan lumrah di kalangan masyarakat Indonesia khususnya, yang saat ini masih menganggap pendidikan mengenai seksualitas adalah hal tabu. Banyak sekali perempuan, bahkan saya sendiri, pernah mengalami pelecehan seksual verbal tetapi kita tak tahu harus berbuat apa karena kita berpikir bahwa hal tersebut hanyalah candaan atau humor pelaku. Bentuk pelecehan seksual kedua adalah bentuk pelecehan nonverbal yaitu memperlihatkan alat kelamin, melakukan gerakan-gerakan tak senonoh, menggesekan alat vital kepada seseorang, dan lain-lain. Lalu bentuk pelecehan seksual ketiga adalah bentuk pelecehan seksual fisik. Biasanya masyarakat telah mengetahui bahwa pelecehan seksual bentuk ini adalah pelecehan seksual yang genting dan harus diadili meskipun masih banyak dari korban yang memilih bungkam karena ketakutan dan pandangan masyarakat mengenai dirinya. Contoh dari bentuk pelecehan ini adalah pemerkosaan, meraba-raba tubuh seseorang yang tidak mengizinkan dan menginginkannya.
Isu gender memang masih dianggap tabu di Indonesia. Masyarakat seperti menutup mata akan hak perempuan dan kesetaraan perempuan apalagi mengenai seksualitas. Nyatanya, Indonesia saat ini darurat kejahatan seksual yang artinya banyak sekali kasus mengenai pelecehan seksual tetapi dibarengi dengan hukum yang tidak setimpal. Jika kita melihat kembali tentang kebiasaan dan kebudayaan di Indonesia, maka kita takkan terkejut jika Indonesia saat ini masih sangat tabu terhadap isu gender ini. Budaya patriarki yang kental dan menganggap bahwa perempuan itu adalah makhluk yang tidak setara dengan laki-laki dan bahwa perempuan hanyalah sebagai “milik” dan “objek seksual” masyarakat. Sehingga setiap langkah dan gerak perempuan seperti dipasung dan hak atas tubuh dan jiwanya pun dikontrol oleh masyarakat. Dalam kondisi ini, perempuan sulit keluar dari posisi yang rentan akan pelecehan seksual yang dilakukan individu maupun kelompok serta sulit untuk terbebas dari siklus kekerasan yang terjadi tersebut. Tak hanya di jalanan saja, ternyata pelecehan seksual pun kerap terjadi di lingkungan pendidikan maupun di rumah tangga. Dalam ranah pendidikan, contohnya banyak sekali guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Dan kasus ini tak hanya terjadi satu atau dua kali tetapi lebih dari itu. Lalu jika pendidikan saja sudah ternodai dengan kasus seperti itu, maka apa yang akan memutus tali rantai dan siklus kekerasan seksual ini?
Mengenai kekerasan dalam rumah tangga yang kerap terjadi, tetapi korban biasanya tak berani untuk menyuarakan kesakitannya karena ia merupakan “milik” suami. “Milik” berarti bisa diperlakukan bagaimana pun oleh pemilik, dan “milik” hanya bisa mengikuti perintah si pemilik tadi. Banyak sekali kasus kekerasan seksual di dalam rumah tangga yang merugikan pihak perempuan, tetapi perempuan di sini lagi-lagi dibatasi oleh pikiran bahwa perempuan hanyalah subordinat dari laki-laki. Padahal perempuan pada keadaan apapun selalu memiliki pilihan dan memiliki hak untuk menyuarakan isi hatinya karena setiap orang sejatinya memiliki hak asasi manusia sejak lahir tanpa terkecuali.
Tak akan puas rasanya jika kita membahas mengenai pelecehan seksual hanya dari sisi perspektif korban saja. Banyak yang beranggapan bahwa pelecehan seksual terjadi karena kesalahan korbannya sendiri. Banyak pula yang menyalahkan pakaian korban yang katanya memprovokasi pikiran-pikiran kotor pelaku untuk melakukan hal yang tak senonoh dan amoral. Padahal dalam kasus pemerkosaan, yang salah adalah seseorang yang melakukan tindak pemerkosaan bukan seseorang yang memakai pakaian tertentu. Sebetulnya, banyak sekali perempuan yang secara umum dianggap sudah tertutup yaitu memakai kerudung panjang (syar’i) sesuai ketentuan Islam tetapi masih menerima tindakan-tindakan amoral terhadap dirinya. Bahkan sejak saya duduk di bangku SD yang notabene dianggap sebagai “anak kecil” yang belum waktunya di-seksualitas-kan, saya kerap mengalami pelecehan seksual. Lalu apa yang salah dari semua ini? Kita sebagai perempuan atau bahkan laki-laki pun yang mengalami pelecehan seksual, harus melakukan apa? Apakah setiap mengalami pelecehan seksual kita harus melaporkannya kepada polisi? Tetapi apakah polisi akan memproses kasus yang masyarakat dianggap lazim ini? Lalu apakah masyarakat akan mendukung korban, tanpa bertanya pada saat itu korban menggunakan pakaian apa, ditemani siapa dan apakah korban menikmatinya juga?
Untuk membahas isu ini memang sepertinya kompleks dan problematik. Tetapi kita tak perlu menguasai teori-teori gender, feminisme atau hak asasi manusia untuk mengerti akan isu ini. Kita hanya perlu menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia dan mengerti akan privasi dan hak seseorang. Hal terkecil yang bisa seseorang lakukan untuk menghentikan rantai kekerasan seksual ini adalah dengan berhenti bungkam. Menjadi korban dari pelecehan seksual biasanya mengalami perasaan menyalahkan diri sendiri karena masyarakat berpikir bahwa pakaian korbanlah yang salah. Dan biasanya masyarakat melakukan penghakiman-penghakiman lainnya yang membuat nyali korban ciut. Tetapi bukan itu, bungkam adalah hal yang salah dari korban. Jika “suara” korban lantang, maka dunia akan mendengar. Jika suara saja tak cukup, maka pendidikan mengenai seksualitas harus dipahami oleh masyarakat Indonesia. Jika membahas gender, masyarakat Indonesia seperti takut dan bersembunyi dari fakta yang ada bahwa masalah dan isu-isu ini adalah genting dan harus ditindak lanjuti. Bahwa hak asasi manusia adalah kepemilikan semua orang, tanpa memandang ras, etnis, kebangsaan, agama dan gender. Semua orang berhak atas otoritas tubuhnya dan jika seseorang melanggar otoritas akan tubuhnya tadi, maka orang tersebut telah menyalahi hak seseorang atas tubuhnya. Semua orang berhak mengklaim kemerdekaan atas tubuhnya.
Sistem patriarki ini takkan pernah berhenti. Perempuan dipandang sebagai objek seksual pun takkan berhenti sampai perempuan sendiri yang menyuarakan haknya dan kemerdekaan atas dirinya. Patriarki sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Merubah tatanan patriarki yang telah mengakar selama ratusan tahun di Indonesia, rasanya sangat sulit untuk diubah. Pendidikan adalah salah satunya jalan keluar yang bisa mengeluarkan Indonesia, khususnya perempuan Indonesia untuk keluar dari belenggu patriarki. Selanjutnya, tidak hanya ditanggulangi dengan pemberhentian budaya bungkam tetapi pelaku sendiri harus menyadari bahwa korban bukanlah objek seksual, bukan boneka seksual yang bisa disentuh, diraba begitu saja tanpa izin dari korban. Kita semua harus mengerti akan hak asasi, hak yang diberikan Tuhan kepada semua manusia tanpa terkecuali. Menghargai, menghormati dan menjadi sopan terhadap orang lain tanpa melecehkan adalah bukan merupakan hal yang sulit. Semua bisa dilakukan dengan rasa kemanusiaan dan penghargaan atas martabat seseorang yang tinggi.
Memperingati Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret kemarin. Masyarakat Indonesia, khususnya yang berdomisili di Ibu Kota Jakarta, melakukan gerakan “Women’s March” dengan bermacam-macam tuntutan yang notabene semua tuntutan ini mengarah pada tuntutan untuk dikembalikannya hak asasi manusia. Tuntutan pertama adalah mereka menuntut pemerintah membangun kembali masyarakat yang toleran dan menghormati keberagaman. Kedua, mereka menuntut pemerintah untuk membangun infrastruktur hukum dan kebijakan yang pro keadilan gender. Hal ini dimaksudkan agar pemerintah mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Pekerja Rumah Tangga, RUU buruh migran, dan menolak upaya judicial review perubahan KUHP mengenai zinah yang jelas merugikan perempuan. Lalu yang ketiga, mereka menuntur pemerintah lebih aktif dan komprehensif dalam mengalokasikan dana untuk program terkait perempuan. Yang keempat, mereka meminta pemerintah mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan masalah-masalah lingkungan hidup. Lalu yang kelima, mereka menuntut pemerintah supaya membangun kebijakan dan pelayanan publik yang mendukung pada perempuan, transgender dan juga pro warga disabilitas. Keenam, mereka menuntut pemerintah dan mengajak masyarakat untuk memenuhi HAM dan hak seksualitas bagi individu atau kelompok dengan orientasi seksual berbeda. Karena tidak bisa kita pungkiri, banyak sekali kekerasan seksual ataupun kekerasan fisik yang terjadi kepada individu atau kelompok yang memiliki orientasi seksual berbeda. Dan lagi-lagi masyarakat mengiyakan tindakan itu, karena masyarakat berpikir bahwa individu atau kelompok yang memiliki orientasi seksual berbeda tadi adalah hal yang harus dibasmi. Maka pelecehan dan kekererasan terhadap seseorang dengan orientasi seksual berbeda dianggap normal. Selanjutnya, mereka meminta agar partai politik lebih memperhatikan hak politik perempuan. Dan yang terakhir, mereka mengajak masyarakat untuk lebih peka dan peduli terhadap isu perempuan dan kemanusiaan.
Ternyata banyak sekali masyarakat yang mulai sadar akan hak asasi manusia atau pun hak perempuan  khususnya. Semoga dengan Women’s March yang dilakukan di Jakarta kemarin bisa menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa Indonesia dalam kondisi yang sangat buruk dalam penegakan hak asasi manusia dan hak perempuan.
“Ternyata dari masa ke masa kemajuan perempuan itu merupakan faktor penting dalam usaha memajukan bangsa. Kecerdasan pikiran penduduk Bumiputra tidak akan maju secara pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu. Perempuan sebagai pendukung peradaban.” – R. A Kartini
Selamat Hari Perempuan Internasional!