Jumat, 18 Oktober 2013

Cinta Diam Diam


“kaka.. cepet bangun.” Seketika kata-kata itu membangunkanku dari mimpi yang indah. Aku bermimpi kalau aku bertemu seorang laki-laki yang amat mempesona, tapi aku tak tahu itu siapa sehingga membuatku penasaran, ah sudahlah hanya mimpi.
Aku segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, karena ibuku telah membangunkanku untuk segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. 
Namaku Nina, aku murid pindahan dari SMA yang cukup terkenal di Jakarta. Aku memutuskan pindah ke Bandung karena orangtuaku pindah tempat dinas. Jadi aku hanya menurut mereka saja saat aku diberi tahu kalau aku harus pindah ke Bandung.
Aku pindah ke SMA Jaya Bakti Bandung. Sekarang aku bergegas ke sekolahku yang baru, aku sudah tidak sabar.

Setibanya di sekolah, aku sangat malu karena banyak yang memperhatikanku sehingga aku hanya menunduk sepanjang aku mencari kelasku. Dan tiba-tiba ada seseorang laki-laki bertanya padaku “eh, kamu murid baru ya?” “eh iya nih, ngomong-ngomong kelas 11-4 dimana ya?” balasku. “nah, itu kelasku loh hahaha, ini disini.” Sambil menunjuk ke kelas yg tepat berada dibelakangnya. “ohaha, makasih ya..” balasku. Aku pun melamun sejenak, “kok aku ngerasa pernah ketemu dia ya.. tapi dimana. Lagian di Jakarta gak ada tuh dia..” dan aku pun ingat, dia itu laki-laki yang aku mimpikan malam tadi. Heran dan bingung juga kenapa hal itu bisa benar-benar real.
eh kamu pindahan dari mana?” seseorang bertanya padaku sampai-sampai mengagetkan lamunanku. “eh.. iya aku pindahan dari Jakarta.” Balasku. Dan ternyata cowo itu yang bertanya, ah aku gugup sekali. “Nama kamu siapa?” tanya dia. “Nina, kamu?” “oh, aku Raihan. Salam kenal ya..” sambil tersenyum. Astaga senyumnya itu bener-bener bikin melting!
hari demi hari aku lewatin bareng dia, karena dia teman pertamaku disekolah ini. Kita semakin dekat, dia sering telepon aku, smsan seharian bareng dia, ngemall, nonton, ah pokoknya seru banget tiap harinya bareng dia. Dia itu bener-bener perhatian, baik, asik, humoris, siapa yang gak suka sama cowo kaya gini, pikirku. Karena cinta itu tumbuh akibat terbiasa, mungkin disinilah aku mulai merasa ada yang aneh saat aku dekat dia. Lebih deg-degan, nervous ah segala macem.
Sampe akhirnya kita dinner berdua...........
Aku bener-bener gak habis pikir dia bakal seromantis ini.
“Nin..”
“iya  han..”
“Nina cantik..” balasnya dgn senyuman
“makasih han.”
“seminggu yang lalu, Nin. Raihan pdkt sama Fika. Dan tadi pagi Raihan udah jadian sama Fika, Nin. Jadi, Raihan mau traktir Nina dinner malem ini.”
Aku heran. Aku bingung. Aku tersentak dan aku rasa air mataku mendesak keluar, tapi aku tahan.
“oh ya? Selamat ya Han, aku juga ikut seneng.” Aku pun tersenyum miris.
Raihan bercerita tentang Fika panjang lebar, aku hanya mengiyakan saja. Aku masih merasa sesak, sakit dan tak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Lalu, aku pun bingung apa yang Raihan lakukan selama ini hanya untuk hal ini? Hanya untuk menyakitiku?
Raihan pun semakin berbeda setiap harinya. Tak pernah telepon aku, bahkan sms pun tak pernah. Dia selalu berdua dengan Fika sepanjang hari. Aku hanya bisa diam.

Kalau semua ini hanya untuk kau hancurkan
Hanya untuk kau buang dan kau sia-siakan
Mengapa sedalam ini harapan yang kau beri untukku?
Hingga aku tak sadar sedalam ini aku jatuh dalam ranjaumu
Kalau semua ini hanya untuk kau permainkan
Mengapa aku memberi seluruh hatiku tanpa main-main dan keraguan
Kalau aku hanya untuk kau lupakan
Mengapa kau biarkan aku menyimpan rasa ini diam-diam dibelakangmu
Tanpa sepengetahuanmu, tanpa rasa pekamu sedikitpun
Ya, aku tak berhak atas cintamu
Aku lebih tahu diri.
Karena ini cinta diam-diam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar