Hari ini adalah hari
pertama di bulan Januari tahun 2019, kepalaku penuh oleh keriuhan yang
memburuku setelah hari itu. Kali ini menjadi semakin deras dan semakin berisik,
aku putuskan untuk menuliskan semuanya disini. Untukku.
Pada saat itu, disaat aku
rapat dengan otak yang entah kemana memikirkan apa; aku melihat notifikasi di
instagram. Kau mengikutiku di instagram, aku beritahu temanku. Aku senang,
jujur. Setelah itu, aku tak memikirkanmu lagi. Aku pulang seperti biasa, saat
di jalan pulang temanku memberitahu sesuatu. Dia bilang, ini akan membuatku
senang. Ternyata kamu menanyakan sesuatu tentang aku kepada temanku. Tak lama,
aku melihatmu mengirim pesan dan aku kebingungan. Hal ini bisa terjadi? Dia
mengirim aku pesan? Singkat cerita, keesokan harinya kita bertemu. Bukan
membicarakan sesuatu yang menjadi jembatan kita sebelum hal canggung ini
terjadi, tetapi bertemu dengan senyum malu dan merona. Aku tidak bisa tidur
beberapa hari, karena ini adalah suatu yang baru dan menyenangkan sekaligus
membingungkan. Keseharianku yang membosankan sekarang disertai pesan-pesan
manis ingin bertemu, pesan-pesan membicarakan hal tak penting lainnya.
Pertemuan pertama kita sangat canggung, tapi secanggung apa yang kamu bayangkan
pada saat itu; kamu berhasil menceritakan masa-masa tersulit di hidupmu kepada
aku yang sama-sama pernah mengalami hal tersebut. Pertemuan kita berhasil, kau
tahu?
Aku ingat ketika itu,
setiap hari kamu ingin bertemu. Sabar dulu, meskipun pada akhirnya aku selalu
menurutimu. Lucu, setiap aku hendak pulang kau selalu merengek meminta aku
untuk tidak pulang. Meskipun hal itu bertahan beberapa hari saja, perubahanmu
itu cepat, kau harus tahu. Tempo perkenalan kita pun begitu cepat karena dengan
hitungan beberapa hari saja, aku sudah jatuh. Aku memberikan hatimu di ujung
pintu. Anehnya, setelah aku menunggumu untuk menerima hatiku, kau tak pernah
benar-benar membukakan pintu. Atau mungkin pintumu selalu terbuka, tapi kau tak
mempersilakan aku masuk. Aku tak suka masuk tanpa meminta izin. Tapi kadang,
kau mempersilakan aku masuk. Kau bilang, kau suka padaku, kau sayang padaku.
Benarkah itu semua apa yang kamu rasakan pada saat itu? Apakah aku yang terlalu
sungguh menganggap bahwa kamu benar-benar akan singgah? Apakah aku yang terlalu
berlebihan dalam mengartikan konsep hubungan kita? Kalau ku bilang kita
berteman, teman tidak akan melakukan hal-hal yang sudah kita lakukan. Kalau ku
bilang kita lebih dari teman, tidak pernah ada persetujuan bahwa kita adalah
lebih dari teman. Kamu membingungkan.
Kamu membingungkan.
Kadang ada saatnya kamu sangat ingin bersama aku, kamu mengeluarkan kata-kata
manis yang membuatku terjatuh lagi, kadang ada saatnya kamu memperlakukan aku
begitu baik dan manis. Kadang ada saatnya aku merasa kamu asing, tiba-tiba aku
tak mengenalmu, tiba-tiba kamu memperlakukan aku begitu buruk dan seperti aku
mengemis untuk kamu tetap disini. Tak hentinya, aku mempersiapkan kepergian
aku. Tak hentinya pula, kamu selalu bisa membuatku yakin untuk tetap tinggal.
Aku begitu takut kehilanganmu, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan
kepergianku karena aku lebih takut aku akan kehilangan diriku sendiri saat
bersamamu. Aku merasa, semakin hari, kita semakin tidak baik.
Aku selalu bergelut
dengan perasaan dan pikiran itu saat aku bersamamu, bahkan ketika kita diam
tidak melakukan apa-apa tetapi tubuh saling memeluk; aku bahkan memikirkan
tentang kepergian kita berdua. Aku diburu oleh perasaan takut dan tak aman,
tapi aku mencintaimu. Apakah cinta selalu terasa seperti ini? Aku lupa rasanya,
sudah lima tahun aku tak mempersilakan siapapun untuk datang. Kau yang pertama,
kau yang ku beri kehormatan untuk menggenggam hatiku tapi kau tak tahu caranya.
Padahal sudah ku bilang, jika kau kebingungan bagaimana cara menggenggamnya,
tolong letakan saja di lantai dengan hati-hati. Kau menolak hati-hati, meskipun
beberapa minggu sebelum kita berpisah, kau selalu bilang kau terlalu hati-hati
dengan aku. Bohong.
Aku kira, ketidaktahuanmu
mengenai kita disebabkan karena kamu takut memulai lagi seperti aku. Maka, aku
beri kamu waktu. Aku beri kamu sandaran dan aku selalu berusaha ingin membuatmu
nyaman, karena aku memikirkan hatimu patah dan begitu rapuh sampai aku sangat hati-hati
untuk sekadar mempersilakanmu duduk dan singgah sebentar. Ternyata aku salah,
ya?
Pada hari ulang tahunmu,
kamu mengajakku untuk datang ke tempatmu. Seperti biasa, kita tidak melakukan
apa-apa dan hanya mendengarkan lagu-lagu di handphone-ku. Kita berbincang
sedikit, lalu kita diam, selalu seperti itu. Kamu bilang kalau kita kaku, aku
selalu berusaha memulai dan membahas suatu topik tapi kau malah mematikan
pembicaraan itu. Kau tahu itu? Aku lelah mencoba menerobos masuk mengenalmu
lewat diskusi, kau bahkan tak lagi mempersilakan aku. Pada saat itu, aku mencoba
memelukmu karena kebiasaan mungkin. Rasanya aneh berada di sebelahmu tapi tubuh
kita tidak saling menyentuh. Kamu menolak pelukanku, aku bingung. Tapi memaksa
adalah hal yang paling aku benci, aku mengurungkan diri dan meminta maaf. Tak
lama, kamu menarik tanganku kembali untuk memelukmu dan tanganku kamu genggam
dan kita terlelap sambil mendengarkan musik. Aku sangat lelah pada saat itu,
tubuhku rasanya ingin menyerah tetapi pikiranku tak berhenti memikirkan
kebingungan antara kita berdua. Aku ingin sekali pergi darimu, meninggalkan apa
yang sudah kita lakukan begitu saja, tapi aku tidak bisa. Aku bahkan menuliskan
puisi di handphone-ku pada saat itu, bahwa aku akan meninggalkanmu meskipun
bukan hari ini.
Aku berniat ingin
memberimu hadiah atau kejutan kecil di hari ulang tahunmu, meskipun beberapa
kali kamu bilang tak usah melakukan apa-apa karena kamu bukan orang yang selalu
merayakan hari jadi. Tapi aku ingin sekali menghadiahimu sesuatu yang membuatmu
hangat di musim hujan seperti ini, seperti jaket atau mungkin wine? Sialnya, pada saat itu, rasa
penasaranku sangat tinggi kepada foto perempuan di mejamu. Entah bagaimana
semesta bekerja, aku tiba-tiba ditunjukan bahwa dia bukan temanmu seperti yang
kamu katakan padaku di hari sebelumnya. Dia adalah perempuan yang memintamu
pulang, ya? Atau mungkin dengan sendirinya kamu ingin pulang dan rumahmu bukan
di sebelahku.
Pada saat itu, duniaku
jatuh ke lantai. Hatiku yang ku titipkan padamu, kamu lempar begitu saja.
Ketika aku menanyakan kembali kita dan siapa perempuan itu, bahkan raut mukamu
tak berubah sama sekali dan sangat tenang menjawab pertanyaanku. Tanganku
gemetar hebat, tak banyak basa-basi aku langsung pergi dan ketika di ujung
pintu bahkan disaat ada ribuan kata yang bisa kamu katakan untukku, kau malah
membahas suatu hal tak penting mengenai materil. Bajingan. Ternyata mengetahui
kelok masa laluku bahkan tak penting, bukan? Mengetahui setiap luka yang ku
coba pulihkan di setiap tubuhku, bahkan tak mengubahmu untuk tidak melakukan
hal yang sama. Kau adalah jelmaan dari masa lalu dan ingin membunuhku kembali
dengan hal yang sama lagi.
Mengapa kau singgah kalau
tak sungguh? Mengapa kau melangkahkan kaki ke pintuku dan mengetuk ingin
menjadi tamu padahal aku tak pernah mengundangmu? Mengapa jika hatimu
tertinggal di sebelah perempuan itu, mengapa kau menawarkan kata-kata rayuan
kepadaku? Mengapa tak kau lanjutkan saja perjuanganmu dengan dia dan mengapa
harus membawa aku ke kekacauan kalian berdua? Mengapa? Hidupku sebelum bertemu
kamu aman dan tentram saja, aku menyukaimu bahkan dari pertama kali kita
bertemu, tapi aku tak ingin mendekatimu. Mengapa kau lakukan ini pada aku dan
membuatku ingin mati saja? Aku bahkan belum cukup baik dalam mengurus luka
lama, kau hadiahi aku dengan luka baru dan perbanku habis.
Aku tak ingin menyalahkan
diri sendiri karena tak cepat-cepat pergi disaat aku kebingungan dengan hatimu,
tapi aku merasa aku harus meminta maaf pada diriku karena ini. Aku harus
meminta maaf pada diriku sendiri karena mau saja dibodoh-bodohi oleh laki-laki
seperti kamu. Aku ingin berhenti marah, aku ingin berhenti mengutuk diri
sendiri karena ini. Aku bahkan pada titik ini sudah tak lagi marah padamu, tak
lagi benci, mungkin sebentar lagi bisa memaafkan. Tapi aku tak bisa berhenti
memikirkan; jika dulu kau datang kesini dengan hatimu, mungkin saja pada saat
ini kita masih bisa menyapa dan bersua.
Ini bukan patah hati
terburuk yang pernah aku alami, tapi tetap menyebalkan sampai membuatku
frustasi tak ada henti. Tapi apalah semua ini, hancur hanyalah masalah
perubahan wujud.
Aku akan memaafkanmu
untuk diriku sendiri, tapi kita berdua tahu kau tak pantas mendapatkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar