Minggu, 31 Juli 2016

Mungkinkah Aku Kembali?


Musim dingin di Kanada pada bulan Januari. Bangunan sekitar apartemenmu tak berubah, kecuali hal-hal kecil disini sedikit berubah. Tirai tentangga sebelahmu, lukisan di depan lobi, toko makanan ringan yang berubah menjadi toko suvenir, atau juga ucapan selamat datang yang tertera di depan apartemenmu. Aku meragu, haruskah aku ketuk pintu ini? Atau haruskah aku kembali? Ku genggam bunga-bunga ini yang ku beli di persimpangan tadi. Rasa ragu terus mengalir dalam otakku lalu ku ketuk pintu, pelan dan ragu. Aku tahu kau takkan mau membukakan pintu dan menerimaku; si bajingan yang kurang ajar. Di tengah golakan pikiran-pikiran, keraguan dan ketegangan, aku mendengar suara pintu terbuka. Aku kaget bukan kepalang, lalu aku ingat sesuatu di jariku. Aku segera melepaskan cincin itu. Aku takut kau marah karena masih berani-beraninya aku memakai simbol pertalian kita. Setelah apa yang aku lakukan padamu.

Di balik pintu, kau terlihat pucat pasi. Rambutmu terurai, tak ada senyum untukku. Kau selalu cantik meski tubuhmu sedikit lebih kurus daripada empat tahun lalu. Kau mempersilahkan aku duduk, di meja makan yang dulu kita gunakan untuk mencicipi masakanku yang begitu buruk. Aku teringat hari yang baik itu. Ketika senyummu adalah satu-satunya hal berharga yang ku punya. Ketika mata coklatmu hanya satu-satunya dunia yang ku lihat. Ketika tubuh mungilmu hanya satu-satunya yang bisa aku peluk setelah kelelahan melawan dunia dan manusia. 

Aku ingat bagaimana senyummu mengembang ketika pertama kali kau mendengarkan laguku atau ketika kau menari-nari kecil ketika aku bermain piano. Kau bilang, akulah segala yang kau punya. Kau bilang kau hanya ingin bersandar di dadaku sambil menonton film klasik di hari Minggu. Tapi sayang, maafkan aku yang meninggalkanmu. Untuk mengejar mimpi sialan itu. Mimpi yang perlahan menenggelamkan aku dan mengoyak kehidupanku. Dunia yang aku lalui kemarin, tanpamu, hanyalah ruangan hampa. Aku telah menggapai mimpi itu. Kepopuleran itu. Tapi mengapa semuanya terasa mati rasa?

Dunia ini menakutkan, menjengkelkan dan aku ketakutan. Akan karyaku, akan kepopuleran bajingan ini. Semuanya menakutkan. Aku hanya ingin berada di dunia kecil kita dulu, di saat aku hanyalah laki-laki berusia dua puluh taun dan merasa takkan pernah mati. Bersamamu aku menghadapi dunia kecil ini, yang pelan-pelan hancur karna keegoisan aku. Dunia kecil yang dimana hanya ada melodi-melodi ringan, tarian-tarian kecil dan ciuman-ciuman hangat. 

Aku hampir lupa, kita berada di ruangan ini lagi. Aku terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Lalu kau berbicara beberapa kata padaku, tapi itu terdengar seperti gaungan-gaungan untukku. Kerinduan yang aku rasakan terlalu bergejolak di dalam diriku. Tanpa aku sadari, cincin itu jatuh dan kau melihatnya. Kau terlihat kecewa dan sedih. Aku tak berani menatapmu, tapi ku lihat kau sama sekali tak ingin menatapku. Aku memberanikan diri, aku memeluk tubuh kecilmu itu dan kau tak melawan. Tapi aku hanya mendengar tangisanmu, tangis akan kepedihan dan kehancuran yang aku tinggalkan bersamamu. Aku menciummu, aku menciummu seperti bibirmu adalah satu-satunya udara yang bisa aku hirup pada detik ini. Ku rasakan jiwaku yang tadinya kosong, mulai terisi lagi. Kehadiranmu membuatku hidup kembali. 

Di tengah hangatnya ciumanmu, aku dengar suara bel. Aku tak tahu siapa tamu tak diundang itu. Tanpa perintah darimu, aku bersembunyi di balik lemari. Lalu seorang laki-laki berpenampilan rapi, yang tampaknya cukup baik untukmu itu muncul. Kakiku hampir menyerah untuk berdiri, tanganku gemetar tak menentu, dan jantungku seperti terpaksa berhenti saat dia mencium bibirmu dan juga perutmu.

 













*Well, Winner's I'm Young music video inspired me to write this story and I got inspired by Kurt Cobain's story about hating his fame so I put those into these words. You all can watch the music video here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar