Ada seorang laki-laki. Ia berambut agak gondrong dan sedikit acak-acakan. Aku selalu punya sesuatu untuk laki-laki berambut seperti dia. Pertama kali aku melihatnya, auranya menggelamkan aku. Auranya sangat kuat, kau takkan pernah berani menatapnya lama-lama. Ada tato kecil di lengannya, tatonya tak sembarangan. Tato kecil itu hanya menuliskan sekitar dua kata tapi makna nya melebihi dunia. Rasa seninya sangat bagus, pikirku dalam hati. Kau pasti mengira aku membicarakan tipikal laki-laki dalam novel. Tipikal malaikat yang Tuhan turunkan untuk si wanita pemeran utama. Kau salah.
Dia tak sempurna, dia tak tampan, badannya tergolong kecil untuk laki-laki, agak kurus. Alisnya tebal tapi alisnya adalah bahan olokan teman-temannya kepadanya. Alisnya sedikit unik. Tapi, siapa peduli tentang tampilannya? Dia tak sempuna, dia sensitif, dia pendiam, dia tak pernah banyak bicara. Tapi ketika dia tertawa, mata sipitnya akan hilang. Laki-laki bertato itu penyuka musik. Ia gila akan Kurt Cobain dan The Beatles.
Aku tak pernah mengerti musik dan seni. Seperti dia. Aku tak pernah menyukai seni sebelumnya, tapi kau adalah pengecualian. Kau, dirimu sendiri, adalah seni. Aku tak ingin mengertimu, memilikimu, karena memandangimu saja telah mengubah duniaku.
"She never looked nice. She looked like art. And art wasn't supposed to look nice; it was supposed to make you feel something." - Rainbow Rowell
Tidak ada komentar:
Posting Komentar