Kamis, 08 Oktober 2015

Surat Dari Si Bajingan

Ada laki-laki yang termenung di stasiun sore itu. Kala itu cuaca sedang di tengah musim hujan, tentu saja dingin. Ia menyalakan rokok dan dihisapnya pelan. Perih, hidupku. Bajingan, diriku. Aku hanya ingin membakar paru-paruku ini dengan sebungkus rokok seharga tiga belas ribu. Aku sudah menghabiskan tiga bungkus ditengah hari seperti ini.
Paru-paru sialan, pekik hatiku. Ia belum juga berhenti dan mati bernapas. Jaketku juga tak berguna, karena hatiku masih juga dingin.
Aku bertanya pada Tuhan, jenis manusia apa aku ini? Apakah Tuhan memberikan perasaan padaku? Apakah ia lupa memberikan hati padaku, si bajingan ini?
Sudah ku kecup bibir wanita, beribu-ribu wanita di jalanan. Si Tufa, si Mova dan si Jani, sudah ku kecup semua bibir wanita-wanita itu. Tapi tak pernah aku memberi hatiku pada mereka. Bukan aku tak mau memberi hatiku pada mereka, tapi karena aku tak punya.
Masih kuingat malam itu, Tufa membenamkan kepalanya di dadaku. Lalu mulai menciumi leherku dan juga bibirku. Aku hanya diam, tak terasa, pagi pun mengetuk pintu kamar kita. Dan kami melakukannya malam itu.
Setelah itu aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan tersebut tanpa menuliskan sepatah kata dalam secarik kertas.
Aku hilang jejak,
Aku angkat kaki dari hidupnya,
Aku sudah menghancurkan badanmu, Tufa.
Sudah membuat kalian berteriak, memekik dan bahkan mencintaiku.
Tapi aku bajingan wanita-wanitaku.
Aku bajingan yang tak punya hati.
Aku tak waras dan tak pantas untuk dicintai, bahkan oleh diriku sendiri.



- Surat Dari Si Bajingan
5 Agustus 1998 pukul 11:23

Tidak ada komentar:

Posting Komentar