Selasa, 21 Agustus 2012

Long distance relationships are not always happy..


“Kring... Kring Kring..” alarm berbunyi. Waktu menunjukan pukul 06.00. aku bergegas ke kamar mandi, hari ini aku memulai sekolah setelah dua minggu aku liburan.Aku adalah seorang remaja bernama Rani. Aku siswa SMA kelas 12. aku adalah seorang wanita yang lugu dan pendiam, tak sedikit orang yang membicarakanku bahwa aku itu rajin, pendiam, dan ulet. Tapi aku tak merasa begitu. Aku mempunyai kekasih, ia bernama Putra. Putra adalah seorang pria yang tampan. Dan banyak wanita menggemari Putra.
Setelah selesai mandi aku bergegas untuk menyantap roti yang dihidangkan Ibu. Dan tak ku sangka ternyata Putra sudah ada di ruang makan. Aku terkejut serta senang karna sudah lama kami tak bertemu karna aku berlibur di luar kota. “Hai sayang, pasti kaget liat aku disini..” ucapnya sambil tersenyum padaku. Manis sekali senyuman itu. “Hai. Hehe... iya kaget. Kok tumben pagi-pagi kesini?” balasku. Putra terlihat mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Dan tak ku sangka ia memberikanku sebuah kado, terbungkus rapi dengan hiasan pita merah. Aku membuka nya perlahan. Ternyata sebuah boneka. “wah! Makasih ya put..” ucapku. “sama-sama. Kamu suka kan?” ujarnya. “Suka kok hehe..” balasku. Aku tak mengerti apa maksudnya ia memberikan itu padaku.
#
Ditengah perjalanan menuju sekolah, kami berdua berbincang-bincang tentang liburan kami. Tak ada yang berbeda, semua tetap sama.
Setibanya kami disekolah kami langsung masuk ke kelas. Terlihat orang-orang yang tak asing lagi bagiku; teman-temanku. Aku langsung memeluk mereka, karna selama liburan kami tak bertemu sama sekali.
#
Kami nongkrong di kantin setelah bel pulang. Kebiasaan lama yang masih kami lakukan. Kami berbincang mengenai masa depan kami. Aku berniat kuliah di Australia dan teman-temanku kebanyakan kuliah di dalam negeri. Putra terlihat bingung dan kaget ketika mendengar aku akan kuliah di luar negeri. “Serius ran?” tanya Putra padaku. “Insya allah put.” Balasku. Seketika Putra terdiam, aku tau apa yang dia rasakan. Mungkin dia takut kehilangan.
# 9Bulan berlalu
Aku telah melewati Ujian Nasional. Sampai tiba saatnya sekarang aku harus mengambil hasil Ujian Nasional. Hari yang paling menegangkan untukku. Seperti biasa, Putra menjemputku. Ditengah perjalanan kami berbincang-bincang tentangku yang akan melanjutkan kuliah di Australia. Terlihat  raut muka Putra yang sedih. Aku tak sanggup bila harus jauh darinya.
#
Ternyata... nilaiku paling besar disekolah. Nilaiku hampir sempurna! Aku langsung memeluk Putra dan aku yakinkan bahwa besok aku akan pergi ke Australia untuk mengurus kuliahku disana. Aku menangis diatas bahagiaku. Aku tak tau bagaimana kita bila kita berhubungan jarak jauh, mungkin bertemu hanya satu tahun sekali. Aku bingung akan nasib hubunganku ini. Sepulang sekolah aku menikmati waktuku dengan Putra. “Kami akan ulangi hari ini satu tahun kedepan, sayang.” Ucapku.
#
Pagi yang mendung. Membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi aku ingat bahwa hari ini aku harus terbang ke Australia. Aku harus siap-siap.
Sekitar pukul 08.00 Ayah dan Ibu mengantarkanku ke bandara, Putra pun ikut mengantarkanku. “Aku tak mau ada air mata di bandara, aku tak mau perpisahan ini.” Ucapku dalam hati. Aku berbicara sedikit hal kepada Putra, bahwa dia harus menjaga kesetiaan. Dan kita berjanji takkan berpaling. Aku memeluk ayah dan ibu, aku tak kuasa menahan tangis. Dan inilah kenyataan nya, aku harus mencari ilmu di Negeri Kangguru. Aku sangat sedih.
#
Setelah beberapa jam akhirnya aku tiba di Australia. Aku segera mengirimkan pesan kepada ayah dan Putra bahwa aku telah sampai di Australia dengan selamat. Aku bergegas untuk mencari kost di dekat kampusku. Dan dengan mudah aku mendapatkan nya.
#5 Bulan berlalu
Hubungan aku dengan Putra semakin renggang. Aku sibuk dan dia pun sibuk. Kami tak punya waktu untuk chatting, ataupun mengobrol lewat skype. Ternyata long distance itu tak semudah yang kami bayangkan. Kami bahkan lebih besar berpeluang untuk berpisah. Aku rasa pun dia sudah bosan dengan aku. Tapi aku tetap mencintai nya.
#1 Tahun berlalu
“Kring.. Kring.....” handphone ku berbunyi. Ternyata, Lita; temanku menelponku. “haloo lit..” ujarku. “Haloo ran. Aku punya kabar buruk buat kamu.” Balasnya. “Loh,apa lit? Putra?” ujarku. “iya putra, putraa.. jadian sama Nita.” Ucap nya tergesa-gesa. Aku kaget setangah pingsan saat mendengar bahwa Putra selingkuh. Aku hanya menangis, aku tak berkata apa-apa. Aku kira dia akan menepati janji itu, bahwa dia akan menjaga kesetiaan. Tapi.....
Satu minggu berlalu.
Aku tak makan nasi selama seminggu ini, dan tubuhku melemah. Malam itu terasa dingin, aku hendak mengambil jaket di lemari. Tapi ketika aku hendak melangkah, aku terjatuh. Aku tak tau apa yang terjadi, kaki ku tak bisa bergerak, aku seperti lumpuh. Sebenarnya ini penyakit lamaku, tapi dulu sudah sembuh. Aku mengambil handphohe ku yang terletak di depanku. Aku segera menghubungi Ayah ku. Dan ayah ku langsung memesan tiket untuk keberangkatan nya ke Australia. Keesokan hari nya ayah tiba disini. Dan ayah kaget melihat keadaanku. Ia langsung membawa ku ke rumah sakit. Dan dokter menyimpulkan bahwa aku lumpuh. Sungguh, ini bencana terburuk di hidupku. “kenapa anak saya bisa seperti ini dok?” ucap ayah memakai bahasa inggris. “Karna bapak sudah menderita ini sejak lama. Tapi karna mungkin dia depresi sehingga dia tak makan selama beberapa minggu. Itu tidak baik bagi tubuh lemah nya, sehingga seperti ini lah sekarang. Ini tidak bisa sembuh pak.” Ucap dokter itu. Aku menangis, masa depan ku terbengkalai. Hanya karna laki-laki sampah pengkhianat. “Kamu mengapa tak makan selama beberapa minggu? Apa yang kamu pikirkan Ran?” ucap ayah. “aku putus sama Putra, yah..” balasku. Aku tetap menangis. Ayah tampak sedih mendengar ucapanku barusan.
Dua minggu berlalu.
Bel berbunyi. Dan Ayah membuka kan pintu. Ternyata Putra datang bersama Ibuku. Aku langsung membalikan badanku, aku benci Putra.
“Ran.. maafin aku Ran..” ucap Putra,
“Segampang itu kamu minta maaf? Mana janji-janji kamu? Mana hah?” ucapku sambil menangis.
“Aku menyesal Rin....” balas nya.
Aku tak menjawab kata-kata Putra. Aku benci padanya. Kini ia menyesal menyianyiakanku hanya karna jarak kami yang terbentang ribuan kilometer. Menyesal takkan mengembalikanku kepada keadaan yang normal, tanpa air mata dan lumpuh ini. Ternyata, Long distance relationships are not always happy, we need a trust!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar